Survei terbaru JD Power untuk tahun 2025 mengungkapkan adanya penurunan kualitas pada mobil baru buatan China. Dalam kajian Initial Quality StudySM (IQS) yang dirilis pada 1 September 2025, jumlah masalah yang dilaporkan oleh pemilik mobil naik drastis menjadi 229 masalah per 100 kendaraan (PP100), meningkat 17 PP100 dibandingkan tahun 2024. Penurunan kualitas ini paling dominan terjadi pada mobil bermesin bensin (ICE), yang mengalami kenaikan keluhan signifikan hingga 18 PP100 di segmen domestik dan mass market, serta 13 PP100 pada merek premium.
Peningkatan angka keluhan ini menjadi tanda adanya tekanan ketat dalam persaingan harga yang berimbas pada kualitas produksi dan pengendalian mutu. Meski mobil bermesin bensin masih menarik minat pasar luas, pengguna mengaku mengalami lebih banyak gangguan teknis dan fitur yang tidak optimal, sehingga ada ketidaksesuaian antara ekspektasi kenyamanan berkendara dan kenyataan kualitas mobil.
Fokus Keluhan pada Desain dan Teknologi Pintar
Survei dari 19.913 responden di 81 kota besar China ini mencatat beberapa masalah desain yang sering dikeluhkan, seperti sabuk pengaman yang tidak nyaman dan suara blower yang berisik. Masalah teknis juga muncul pada sistem pengenalan suara yang susah dioperasikan dan fitur teknologi pintar yang seharusnya memudahkan, justru justru menambah kerumitan. Komponen hiburan, pengaturan kursi, dan fitur bantuan pengemudi menjadi titik konsentrasi masalah utama.
Kendala yang sering dikeluhkan antara lain:
- Sistem hiburan dengan layar sentuh yang lambat respons
- Koneksi Bluetooth yang tidak stabil
- Sistem pengenalan suara yang sering gagal menerima perintah
Hal tersebut menunjukkan bahwa inovasi teknologi belum sepenuhnya didukung dengan keandalan implementasi dalam mobil terbaru.
Tren Positif pada Mobil Hibrid
Berbanding terbalik dengan mobil ICE, mobil hibrid (HEV dan mild hybrid 48V) mencatat peningkatan kualitas dan pangsa pasar. Proporsi penjualan mobil hibrid naik dari 14% pada 2024 menjadi 18% pada 2025, dengan harga rata-rata turun sebesar 15% menjadi 331.000 yuan. Penurunan harga ini sekaligus disertai peningkatan kualitas awal dan desain yang lebih baik dibandingkan mobil bensin biasa, menandakan bahwa pabrikan mulai fokus pada teknologi yang lebih ramah lingkungan sekaligus lebih andal.
Performa Merek Menurut Survei
JD Power memaparkan peringkat kepuasan berdasarkan segmen pasar:
- Segmen premium diduduki oleh Land Rover terbaik dengan 208 PP100, diikuti Porsche (213) dan Cadillac (218).
- Untuk mass market, GAC Honda memimpin dengan 208 PP100, disusul Dongfeng Honda (209), GAC Toyota, dan SAIC Volkswagen yang mencatat 219 PP100.
- Di sektor merek domestik, Chery menempati posisi teratas dengan 220 PP100, sedangkan GAC Trumpchi mencapai 221, dan Changan serta Geely masing-masing di angka 222 PP100.
Beberapa model dinilai sangat baik di kelasnya antara lain Honda Accord, Geely Binyue, Cadillac XT5, Land Rover Range Rover, dan Toyota Crown Kluger.
Implikasi bagi Industri dan Konsumen
Kenaikan keluhan yang cukup signifikan ini menunjukkan bahwa meskipun pasar mobil China berkembang pesat, masih banyak pekerjaan rumah bagi produsen untuk meningkatkan kualitas produk. Tekanan harga dan persaingan ketat mengakibatkan beberapa pabrikan harus mengorbankan kontrol mutu demi memenuhi target produksi dan volume penjualan.
Jika masalah-masalah tersebut tidak segera diatasi, ada risiko besar bahwa persepsi konsumen terhadap kualitas mobil China akan menurun, yang pada akhirnya dapat mempengaruhi daya saing mobil China di pasar domestik maupun global. Hal ini menjadi perhatian penting bagi produsen agar mampu menyeimbangkan antara inovasi teknologi dan keandalan yang konsisten pada produk mereka.
Survei JD Power ini menjadi bahan evaluasi kritis untuk industri otomotif China dalam mempertahankan kepercayaan konsumen dan keberlanjutan pertumbuhan pasar mobil baru di masa depan.
