Pasar otomotif Indonesia mengalami tekanan signifikan pada tahun 2025. Data PwC menunjukkan total industry volume (TIV) kendaraan ringan di ASEAN-6 turun tipis 1,5% menjadi 2.368.000 unit per kuartal III 2025. Namun, Indonesia justru mencatat kontraksi hingga 11%.
Penurunan pasar kendaraan konvensional ini dipicu oleh beberapa faktor utama. Kenaikan pajak kendaraan mewah, penurunan belanja pemerintah, serta pelemahan nilai tukar rupiah menekan daya beli masyarakat. Akibatnya, banyak konsumen menunda atau membatalkan rencana pembelian kendaraan baru.
Pertumbuhan Kendaraan Listrik di Indonesia
Meski pasar konvensional mengecil, segmen kendaraan listrik justru menunjukkan kenaikan pesat. Produk EV di Indonesia tumbuh 49% pada kuartal III 2025 dibandingkan tahun sebelumnya. Angka ini melampaui tren pasar otomotif konvensional yang sedang lesu.
Secara regional, pertumbuhan kendaraan listrik di ASEAN mencapai 62% dengan tingkat adopsi 18% dari total penjualan kendaraan. Indonesia mendekati rata-rata tersebut dengan 18%, walau Thailand dan Vietnam bahkan melampaui dengan 30% dan 33%.
Faktor Pendorong Elektrifikasi di Indonesia
Peningkatan adopsi kendaraan listrik di Indonesia didukung oleh kebijakan pemerintah yang intensif. Skor indeks kesiapan elektrifikasi Indonesia naik dari 2,0 menjadi 2,8 dalam skala 5. Insentif pajak kendaraan listrik mendapat skor tertinggi, yaitu 4,0, menjadikan Indonesia negara dengan insentif EV terbaik di ASEAN-6.
Lukmanul Arsyad, PwC Indonesia Industrials and Services Leader, menyatakan bahwa insentif dan investasi baterai menjadi kunci utama percepatan elektrifikasi. Kebijakan ini berperan sebagai bantalan yang menjaga momentum pertumbuhan EV meskipun pasar konvensional sedang tertekan.
Kesiapan Infrastruktur dan Permintaan Pasar
Laporan eReadiness 2025 juga mengukur kesiapan negara-negara ASEAN dalam menghadapi elektrifikasi melalui empat parameter. Keempat parameter tersebut adalah insentif pemerintah, infrastruktur pengisian baterai, pasokan kendaraan listrik, dan permintaan pasar. Indonesia menunjukkan perkembangan signifikan di semua aspek tersebut.
Investasi dalam pengembangan infrastruktur pengisian baterai terus meningkat untuk mendukung pertumbuhan EV. Demikian pula, pasokan kendaraan listrik dari produsen lokal dan impor semakin beragam untuk memenuhi berbagai segmen pasar.
Perbandingan dengan Negara ASEAN Lainnya
Sementara pasar kendaraan konvensional di Indonesia menyusut, negara seperti Vietnam dan Singapura justru mengalami pertumbuhan pasar kendaraan ringan masing-masing sebesar 18% dan 25%. Hal ini didorong oleh insentif EV yang agresif dan kebijakan registrasi yang progresif.
Thailand dan Vietnam mencatat tingkat adopsi kendaraan listrik paling tinggi di ASEAN dengan angka 30% dan 33%. Pertumbuhan EV di Vietnam mencapai 84%, sedangkan di Thailand tumbuh sebesar 45%. Ini menunjukkan peluang besar bagi seluruh kawasan untuk mempercepat elektrifikasi transportasi.
Momentum Transformasi Industri Otomotif Indonesia
Dengan kenaikan angka adopsi kendaraan listrik serta perbaikan skor kesiapan secara nasional, industri otomotif Indonesia memasuki era transformasi yang baru. Elektrifikasi tidak lagi sekadar tren sesaat, melainkan momentum strategis dalam evolusi sektor otomotif.
Penguatan kebijakan, investasi infrastruktur, dan perubahan perilaku konsumen menjadi fondasi utama bagi pertumbuhan kendaraan listrik yang berkelanjutan. Pasar konvensional mendapat tekanan, tetapi ekosistem EV menunjukkan laju kencang untuk terus berkembang hingga 2025 dan seterusnya.
Baca selengkapnya di: www.medcom.id






