Fenomena astronomi sepanjang tahun 2026 menawarkan beragam peristiwa menarik yang dapat diamati oleh masyarakat luas. Beberapa fenomena ini bahkan bisa disaksikan tanpa peralatan khusus, sehingga menjadi momen ideal untuk mengenal lebih dekat keindahan alam semesta.
Tahun 2026 akan dibuka dan ditutup dengan supermoon yang memukau. Supermoon terjadi saat Bulan berada pada fase purnama dan posisinya paling dekat dengan Bumi. Pada 3 Januari 2026, supermoon yang dikenal sebagai "wolf moon" akan hadir pertama kali, memperlihatkan ukuran Bulan tampak lebih besar dan cahaya yang lebih terang. Fenomena serupa juga akan terjadi kembali pada 24 Desember 2026 sebagai penutup tahun yang spektakuler.
1. Supermoon yang Membuka dan Menutup Tahun
Supermoon menjadi fenomena visual yang mudah diamati tanpa alat khusus. Kejadian ini memberikan peluang bagi pengamat dari wilayah rendah polusi cahaya untuk menikmati pesona Bulan purnama dengan ukuran dan kecerahan yang luar biasa. Amatir astronomi maupun masyarakat umum dianjurkan untuk memanfaatkan waktu tersebut untuk pengamatan langit malam.
2. Hujan Meteor Aktif Hampir Sepanjang Tahun
Fenomena hujan meteor pada 2026 berlangsung hampir di setiap musim, menambah warna pengamatan langit. Tahun diawali dengan hujan meteor Quadrantid pada 3-4 Januari yang memiliki intensitas tinggi namun durasi singkat. Kejadian hujan meteor berikutnya adalah Lyrid pada 22-23 April dan Eta Aquarid awal Mei, yang berasal dari sisa debu Komit Halley.
Selanjutnya, Delta Aquarid memuncak pada 28-29 Juli, sebelum hujan meteor Perseid datang pada 12-13 Agustus. Perseid terkenal dengan jumlah meteor yang banyak dan tingkat kecerahan yang menarik. Memasuki akhir tahun, Orionid hadir pada 21-22 Oktober, diikuti Taurid pada 4-5 November dan Leonid pada 17-18 November yang dikenal dengan meteor sangat cepat.
3. Rangkaian Gerhana Matahari dan Bulan yang Mengagumkan
Salah satu puncak utama astronomi 2026 adalah deretan gerhana yang rapi tersusun di sepanjang tahun. Pertama adalah gerhana Matahari cincin pada 17 Februari 2026, yang memperlihatkan efek "ring of fire" saat Bulan tidak sepenuhnya menutupi Matahari. Lalu, pada 3 Maret, terjadi gerhana Bulan total yang membuat Bulan berubah warna menjadi merah darah.
Tanggal 12 Agustus menjadi momen langka dengan gerhana Matahari total yang melintasi Greenland, Islandia, dan sebagian Eropa. Fenomena ini menarik perhatian global karena jalur totalitasnya yang memukau. Penutup gerhana adalah gerhana Bulan parsial pada 28 Agustus, yang dapat diamati dari berbagai wilayah dunia.
4. Konjungsi dan Pergerakan Planet yang Memikat
Selain gerhana dan hujan meteor, tahun 2026 juga disemarakkan dengan aktivitas planet-planet terang. Jupiter akan mencapai posisi oposisi pada 10 Januari, menjadikannya sangat terang sepanjang malam. Venus dan Jupiter diperkirakan akan mengalami konjungsi pada 8-9 Juni, menampilkan pemandangan dua planet yang dekat secara visual di langit.
Saturnus juga mencapai oposisi pada 4 Oktober, menyajikan momen terbaik untuk mengamati cincin planet ini lewat teleskop atau teropong sederhana. Fenomena ini memberi kesempatan bagi pengamat untuk menyaksikan kemegahan susunan planet di tata surya bagian dalam.
5. Asteroid Dekat Bumi dan Fenomena Langit Lainnya
Selain peristiwa besar, sejumlah asteroid diperkirakan melintas dekat Bumi dengan jarak aman sepanjang tahun. Meski tidak membahayakan, aktivitas ini penting untuk studi lintasan dan karakternya. Perubahan posisi rasi bintang, penampakan nebula, dan gugusan bintang juga memperkaya pengalaman observasi langit malam.
Fenomena astronomi 2026 menawarkan rangkaian kejadian yang menyebar sepanjang tahun sehingga memberikan banyak kesempatan menikmati keindahan langit. Kegiatan pengamatan ini sangat bermanfaat untuk memperdalam pemahaman tentang alam semesta sekaligus menumbuhkan minat terhadap ilmu astronomi.
Baca selengkapnya di: www.beritasatu.com