Serangga pengisap darah kerap menjadi ancaman tersembunyi yang tak disadari manusia. Meski ukurannya kecil, serangga ini ternyata mampu menyebarkan berbagai penyakit berbahaya lewat gigitannya kepada manusia maupun hewan.
Kehadiran serangga pengisap darah sangat erat dengan lingkungan manusia, bahkan bisa menyerang kapan saja tanpa mengenal waktu. Mereka akan dengan mudah menempel pada kulit terbuka dan mulai menghisap darah sebagai sumber makanannya. Berikut penjelasan mengenai lima jenis serangga pengisap darah yang terbukti dapat menularkan penyakit berbahaya.
1. Nyamuk
Nyamuk merupakan serangga pengisap darah paling dekat dengan kehidupan manusia. Spesiesnya sudah teridentifikasi lebih dari 3.600 di dunia, dengan kemampuan terbang hingga dua kilometer per jam. Spesies paling terkenal seperti Aedes aegypti menjadi vektor utama penular penyakit seperti demam berdarah, chikungunya, zika, dan kaki gajah. Menurut penjelasan dari CDC, nyamuk menghisap darah dengan cara menusukkan mulut tajamnya ke kulit manusia, memungkinkan virus atau parasit masuk ke aliran darah. Satu gigitan nyamuk bisa menciptakan risiko besar bagi kesehatan masyarakat, terutama di kawasan tropis dengan curah hujan tinggi.
2. Kutu
Kutu dikenal sebagai serangga parasit yang hidup di rambut mamalia, termasuk manusia, anjing, kucing, bahkan kuda. Data dari Britannica mencatat, terdapat sekitar 500 spesies kutu dengan ukuran tubuh yang sangat kecil, tetapi kemampuannya dalam melompat sangat luar biasa. Kutu dapat berpindah dari satu inang ke inang lain melalui kontak fisik. Walau gigitan kutu umumnya menimbulkan gatal, iritasi kulit, atau infeksi ringan, pada kasus langka dapat menyebabkan infeksi sekunder bila tidak diobati dengan tepat. Risiko kerusakan rambut atau penyebaran bakteri juga meningkat pada populasi dengan sanitasi buruk.
3. Kissing Bug
Serangga ini masuk dalam kelompok Triatominae dan populer di Amerika Selatan. Kissing bug mendapat namanya karena kebiasaan menggigit area sekitar mulut dan mata manusia saat tidur. Gigitan serangga ini cukup menyakitkan dan bisa memicu alergi berat. Sumber dari California Department of Public Health menyebutkan bahwa kissing bug dapat menularkan penyakit Chagas. Menariknya, penularan tidak langsung akibat gigitan, melainkan melalui kotoran kissing bug yang mengandung parasit Trypanosoma cruzi dan masuk ke tubuh manusia saat bagian gigitan digaruk. Penyakit Chagas sangat membahayakan sistem saraf dan otot jantung.
4. Lalat Tsetse
Berbeda dengan lalat biasa yang mengkonsumsi material busuk, lalat tsetse merupakan pengisap darah murni yang berasal dari Afrika. Menurut CDC, lalat tsetse berperan sebagai vektor utama penyakit tidur (African trypanosomiasis) yang disebabkan oleh parasit Trypanosoma brucei. Infeksi ini dapat berkembang selama berbulan-bulan tanpa gejala awal yang jelas, sehingga penderita sering terlambat mendapat diagnosis. Dampak penyakit ini sangat fatal, mulai dari gangguan sistem saraf pusat hingga koma dan kematian apabila tidak segera ditangani secara medis.
5. Tungau
Tungau atau tick merupakan serangga sangat kecil yang tidak mudah terlihat dengan mata telanjang. Ia menempel pada kulit manusia atau hewan dan menghisap darah hingga tubuhnya membesar. Menurut penjelasan dari Health Direct, sebagian besar gigitan tungau relatif ringan, hanya menimbulkan iritasi kulit, gatal, atau pembengkakan. Namun ada tungau spesifik seperti Ixodes scapularis yang bisa menularkan Lyme disease, serta spesies lain yang membawa ehrlichiosis. Area lembap dan gelap seperti semak, kasur, atau celah bantal merupakan tempat favorit tungau bersembunyi.
Tingkat Ancaman dan Pentingnya Pencegahan
Serangga pengisap darah memiliki kemampuan luar biasa dalam menyebarkan penyakit ke jutaan manusia setiap tahunnya. Penelitian WHO menyebutkan, lebih dari satu miliar kasus penyakit terjadi akibat gigitan serangga vektor seperti nyamuk dan lalat tsetse. Pencegahan meliputi penggunaan kelambu, menjaga kebersihan lingkungan, dan pengendalian hama sangat penting dilakukan. Deteksi dini terhadap gejala penyakit akibat gigitan serangga harus segera disikapi dengan konsultasi ke dokter guna mencegah komplikasi serius. Edukasi masyarakat tentang identifikasi dan bahaya serangga pengisap darah menjadi langkah efektif untuk mengurangi risiko wabah di masa depan.
