Teleskop Luar Angkasa terbaru milik NASA, Nancy Grace Roman Space Telescope, resmi dinyatakan selesai dan siap menuju peluncuran. Teleskop generasi baru ini diharapkan akan memulai misi penting mencari lebih dari 100.000 dunia asing alias eksoplanet serta mengungkap berbagai rahasia besar alam semesta, termasuk peta rinci Bima Sakti dan identitas energi serta materi gelap.
Dengan jadwal peluncuran yang kemungkinan maju lebih cepat dari perkiraan, para peneliti menaruh harapan besar terhadap teleskop ini. Data pertama dari Roman bisa mulai dikumpulkan sebelum akhir tahun mendatang, menandai era baru dalam eksplorasi ruang angkasa.
Fakta Konstruksi dan Fitur Utama Roman Space Telescope
Nama Nancy Grace Roman Space Telescope diambil dari ilmuwan pelopor yang merupakan kepala astronom NASA pertama pada awal era 1960-an. Roman menjadi penerus sekaligus mitra operasional Hubble dan James Webb Space Telescope (JWST) dalam jaringan teleskop luar angkasa utama milik manusia.
Tinggi teleskop ini mencapai 12,7 meter dengan berat sekitar 4.166 kilogram. Proses konstruksi dimulai delapan tahun lalu dan seluruh pengembangan tetap berada dalam koridor dana awal senilai $4,3 miliar menurut tim peneliti NASA.
Roman akan menempati posisi strategis di Titik Lagrange Sun-Earth L2, sekitar 1,6 juta kilometer dari Bumi. Lokasi ini juga ditempati JWST dan dua teleskop Eropa, Gaia dan Euclid, sehingga memudahkan kerja sama observasi.
Sistem utama Roman terdiri dari cermin berdiameter 2,4 meter yang akan memfokuskan cahaya ke kamera 288 megapiksel. Energi seluruh operasinya diperoleh dari enam panel surya besar.
Misi Ilmiah Roman: Mengungkap Eksoplanet dan Struktur Alam Semesta
Roman akan mengemban dua instrumen sains utama selama lima tahun pertama misinya.
-
Wide Field Instrument (WFI):
- Kamera 288 megapiksel dipasang pada cermin utama.
- Mampu mengambil gambar resolusi tinggi dalam cahaya inframerah, mencakup tepi sistem tata surya hingga batas alam semesta teramati.
- Sekitar seperempat waktu pengamatan akan digunakan untuk memetakan pusat Bima Sakti dalam program Galactic Plane Survey.
- Coronagraph Instrument:
- Instrumen ini memblokir cahaya bintang jauh, memungkinkan kamera menangkap eksoplanet di sekitarnya yang biasanya tertutupi silau bintang.
- Menjadi andalan Roman dalam pencarian tanda-tanda kehidupan di luar Bumi.
Selama lima tahun awal, Roman diproyeksikan:
- Mengungkap lebih dari 100.000 dunia asing baru di galaksi kita.
- Mengamati ratusan juta bintang dan miliaran galaksi.
- Mengumpulkan lebih dari 20.000 terabyte data, setara kapasitas sekitar 3.000 iPhone terbaru.
Data ini akan menjadi lompatan besar. Hingga saat ini, ilmuwan baru menemukan sekitar 6.000 eksoplanet dalam tiga dekade terakhir. Roman ditugaskan menemukan 15 kali lebih banyak hanya dalam kurun lima tahun.
Menurut Dominic Benford, ilmuwan program Roman di NASA, volume data yang akan dikumpulkan teleskop ini sangat luar biasa dan berpotensi merevolusi pemahaman tentang alam semesta.
Jadwal Peluncuran dan Rencana Operasi
Peluncuran Roman awalnya ditargetkan tahun berikutnya, namun sejumlah indikasi menunjukkan kesiapan lebih cepat. Informasi resmi NASA terakhir menyebutkan tanggal peluncuran paling awal adalah 28 September, dengan lokasi keberangkatan dari Kennedy Space Center, Florida menggunakan roket Falcon Heavy milik SpaceX.
Sebelum peluncuran, teleskop akan diangkut dari fasilitas Goddard sejauh lebih dari 1.450 kilometer. Proses penempatan orbit dan persiapan awal pengumpulan data membutuhkan waktu sekitar 90 hari usai peluncuran. Artinya, pengumpulan data sains perdana bisa dilakukan mulai akhir Desember.
Dampak dan Potensi Penemuan Baru
Menurut pernyataan Amit Kshatriya, Administrator NASA, keberhasilan pembangunan Roman adalah tonggak utama berkat disiplin engineering dan kolaborasi sains yang solid. Keberadaan Roman diyakini akan memperluas cakrawala pengetahuan manusia, terutama untuk menjawab pertanyaan terbesar: apakah manusia sendiri di alam semesta.
Feng Zhao, manajer Instrumentasi Koronograf, menyebutkan, teknologi yang dikembangkan Roman “membawa manusia satu langkah lebih dekat” dalam pencarian kehidupan di luar Bumi. Setiap data yang dikirim Roman dari orbit akan mempercepat pemetaan Bima Sakti, pencarian kehidupan asing, serta pengungkapan misteri energi dan materi gelap yang masih membingungkan sains modern.
Roman Space Telescope kini menjadi harapan baru dunia dalam memecahkan teka-teki kosmologi, menggambarkan betapa kolaborasi manusia dan teknologi canggih dapat memberikan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan mendasar tentang keberadaan dan asal-usul alam semesta.
