China tengah bersiap meluncurkan ribuan satelit ke luar angkasa sebagai upaya menyaingi dominasi SpaceX dalam jaringan satelit global. Rencana ambisius ini menimbulkan perhatian dunia karena akan mengubah peta persaingan teknologi antariksa, terutama dalam penyediaan internet satelit di orbit rendah Bumi.
Beberapa proposal dari pemerintah dan perusahaan teknologi China sudah diajukan ke International Telecommunication Union (ITU) untuk mendapat izin penggunaan slot orbit dan pita frekuensi radio. Dalam dokumennya, China mengajukan lebih dari 200.000 satelit hingga awal dekade mendatang, dengan dua proposal terbesar masing-masing memuat pengajuan lebih dari 96.000 satelit.
Persaingan Ketat di Orbit Bumi Rendah
Dominasi SpaceX melalui proyek Starlink telah membuat Amerika Serikat menguasai nyaris 76 persen dari total 10.824 satelit aktif di orbit Bumi. China, sejauh ini, baru memiliki porsi sebesar 9,43 persen. Dengan ambisi peluncuran ratusan ribu satelit secara masif, China ingin menyeimbangkan kekuatan teknologi global di bidang antariksa.
Yang menarik, pengajuan proposal China tidak hanya berasal dari satu institusi. Lebih dari selusin pengajuan datang dari berbagai pihak, seperti China Satellite Network Group yang mendapat dukungan penuh pemerintah, operator telekomunikasi nasional China Mobile dan China Telecom, serta perusahaan teknologi tinggi GalaxySpace, Guodian Gaoke Space Technology, dan Spacety. Shanghai Yuanxin Satellite Technology, pesaing Starlink lokal, bahkan mengajukan izin untuk melepas 15.000 satelit sendiri.
Langkah Sistematis dan Terkoordinasi
Menurut Yang Feng, CEO Spacety, pengembangan satelit internet di China melibatkan koordinasi nasional lintas institusi. Semua pihak bekerja sama, sehingga proyek ini tidak lagi sekadar upaya komersial semata, melainkan masuk dalam proyek infrastruktur penting negara.
Dukungan pemerintah memungkinkan pembentukan lembaga riset nasional khusus spektrum radio yang menjadi motor pengajuan proposal ke ITU. Lebih dari 95 persen pengajuan berasal dari lembaga ini, menandakan keseriusan China untuk berkompetisi.
Tantangan Peluncuran dan Regulasi
Rencana peluncuran puluhan hingga ratusan ribu satelit membawa tantangan besar dalam eksekusi. Proses persiapan—mulai masa validasi teknologi manufaktur, engineering, hingga peluncuran—sangat kompleks. Proses persetujuan penggunaan orbit dan pita frekuensi oleh ITU sendiri bisa memakan waktu antara dua hingga tujuh tahun. Apabila permintaan China dikabulkan, maka jumlah satelit di orbit akan meningkat drastis.
Berikut adalah daftar proyek konstelasi satelit terbesar dari China yang diajukan ke ITU:
- CTC-1: 96.714 satelit (Institut Inovasi Spektrum Radio)
- CTC-2: 96.714 satelit (Institut Inovasi Spektrum Radio)
- Guowang network: 13.000 satelit (China Satellite Network Group)
- Quianfan network: 15.000 satelit (Shanghai Yuanxin Satellite Technology)
- Beberapa proyek lain dari China Mobile, China Telecom, GalaxySpace, Guodian Gaoke, dan Spacety.
Dampak Persaingan terhadap Lingkungan Luar Angkasa
Peningkatan jumlah satelit menimbulkan kekhawatiran soal polusi cahaya dan risiko puing logam di orbit mikrogravitasi. Orbit Bumi kini semakin padat, dipenuhi ribuan perangkat. SpaceX sendiri sudah menerapkan kebijakan penurunan orbit pada 4.400 satelit Starlink untuk menekan risiko tabrakan dan penciptaan sampah antariksa.
FCC (Federal Communications Commission) Amerika Serikat baru-baru ini memberikan izin tambahan pada SpaceX untuk peluncuran 7.500 satelit generasi kedua hingga akhir 2031. Dengan adu cepat peluncuran satelit, efisiensi operasional dari sistem yang diajukan China masih perlu dibuktikan.
Proyeksi Masa Depan dan Implikasi Global
Langkah besar China ini membuktikan tekad serta kapasitas negara dalam membangun jaringan komunikasi ruang angkasa secara sistematis. Pengamat dari Shanghai Academy of Social Sciences, Ding Botao, menyebut inisiatif ini menandakan kesiapan dan kemampuan China untuk melakukan penempatan sistematis berskala besar di orbit rendah Bumi.
Dengan bertambahnya jumlah satelit di orbit, persaingan global kian ketat, baik dalam aspek teknologi, regulasi, maupun pertarungan akses sumber daya spektrum radio. Namun, keberhasilan pelaksanaan proyek-proyek ini akan sangat ditentukan oleh kesiapan industrialisasi, manajemen risiko, serta transparansi kolaborasi internasional di masa mendatang.







