Detail Spesifikasi dan Fitur Pesawat ATR Indonesia Air yang Hilang Kontak di Maros

Pesawat ATR milik Indonesia Air Transport yang hilang kontak di wilayah Maros, Sulawesi Selatan, merupakan jenis ATR 42-500. Pesawat ini dilengkapi dengan dua mesin Pratt & Whitney Canada PW127E/M yang dirancang khusus untuk operasi jarak pendek dan patroli wilayah.

Mesin PW127E/M memiliki daya lepas landas maksimum mencapai 2.160 shaft horsepower (SHP). Pada kondisi operasional satu mesin, daya yang dihasilkan bahkan bisa mencapai 2.400 SHP. Daya maksimum berkelanjutan dari mesin ini juga berada di angka 2.400 SHP, yang mendukung performa pesawat untuk berbagai misi.

Pesawat ini memiliki konfigurasi standar dengan 48 kursi penumpang. Baling-baling yang digunakan adalah Hamilton Standard 568F dengan enam bilah, berdiameter 3,93 meter, mendukung efisiensi tenaga mesin dalam penerbangan.

Dari sisi bobot, ATR 42-500 memiliki berat lepas landas maksimum 18.600 kilogram dan berat pendaratan maksimum 18.300 kilogram. Berat kosong operasional rata-rata tercatat sekitar 11.500 kilogram. Pesawat mampu mengangkut muatan maksimum hingga 5.500 kilogram dan menyimpan bahan bakar maksimal 4.500 kilogram.

Untuk take-off, pesawat ini memerlukan jarak sekitar 1.165 meter pada kondisi standar (berat maksimum saat lepas landas, standar atmosfer, dan permukaan laut). Pada penerbangan 300 nautical miles (NM) dengan muatan penuh, jarak lepas landas bahkan bisa lebih pendek, yakni sekitar 982 meter.

Dalam hal kecepatan, pesawat mampu mencapai kecepatan maksimum 300 knot true airspeed (KTAS) atau sekitar 556 km/jam. Laju pendakian pesawat ini mencapai 1.851 kaki per menit. Untuk mencapai ketinggian FL170, waktu yang dibutuhkan adalah kurang lebih 12,7 menit.

Konsumsi bahan bakar pesawat ATR ini saat jelajah adalah sekitar 811 kilogram per jam. Dengan jangkauan maksimum 703 NM saat membawa penumpang penuh, pesawat ini ideal untuk rute penerbangan regional jarak pendek hingga menengah.

Keunggulan pesawat dalam performa pendaratan terlihat dari jarak pendaratan minimum yang berkisar antara 906 hingga 966 meter. Untuk kecepatan lepas landas minimum (V2), pesawat mencapai angka 112 KCAS, memastikan keamanan dan stabilitas saat take-off.

Pengetahuan tentang spesifikasi teknis ATR 42-500 ini penting untuk memahami kapabilitas dan batas operasional pesawat yang hilang kontak saat menjalankan tugas pengawasan sumber daya kelautan dan perikanan. Detail teknis tersebut juga menjadi acuan dalam proses pencarian dan investigasi terkait hilangnya pesawat di wilayah Maros, Sulawesi Selatan.

Informasi lengkap mengenai pesawat dan data teknis tersebut diperoleh dari sumber resmi serta data industri penerbangan, menambah nilai kredibilitas dalam memahami insiden yang terjadi pada pesawat Indonesia Air Transport. Pemahaman ini menjadi dasar penting untuk penanganan lebih lanjut.

Baca selengkapnya di: www.beritasatu.com

Terkait