Google Kembangkan Baterai CO2 Skala Besar untuk Simpan Energi Terbarukan Lebih Efisien

Google tengah mengembangkan teknologi baterai CO2 sebagai solusi penyimpanan energi terbarukan skala besar. Teknologi ini ditujukan untuk memberikan cadangan listrik yang ramah lingkungan dan andal bagi pusat data utama Google di Amerika Serikat, Eropa, dan Asia.

Baterai CO2 dikembangkan untuk menggantikan peran baterai lithium-ion dalam menyimpan energi terbarukan yang berlebih. Namun, baterai CO2 menawarkan kapasitas dan skalabilitas lebih besar serta dapat distandarisasi untuk digunakan di berbagai lokasi, sehingga lebih fleksibel sesuai kebutuhan regional.

Kelebihan Baterai CO2 dibandingkan Lithium-Ion

  1. Daya tahan lebih lama: Umur operasional baterai CO2 diperkirakan hampir tiga kali lipat dibandingkan baterai lithium-ion.
  2. Biaya lebih efisien: Penambahan kapasitas penyimpanan baterai CO2 dapat menurunkan biaya per kilowatt-jam hingga 30% lebih murah daripada lithium-ion, menurut Energy Dome.
  3. Skalabilitas tinggi: Baterai CO2 mudah diperbesar kapasitasnya tanpa kenaikan biaya signifikan.
  4. Ukuran dan konstruksi ringkas: Hanya membutuhkan sekitar 5 hektar lahan datar, jauh lebih kecil dibandingkan fasilitas penyimpanan energi konvensional seperti pumped-hydro.

Google menjalin kemitraan dengan Energy Dome, perusahaan asal Milan yang telah membangun fasilitas model di Ottana, Sardinia, Italia. Fasilitas ini menyimpan 2.000 ton CO2 dari pemasok gas sebagai media penyimpanan energi. Gas CO2 disimpan dalam sebuah kubah ekspansif yang dapat dikompresi dan diperluas untuk menggerakkan turbin yang menghasilkan listrik sebesar 200 megawatt-jam, atau tenaga 20 MW selama 10 jam.

Fasilitas tersebut memanfaatkan siklus tekanan CO2 untuk mengubah energi tersimpan menjadi listrik saat dibutuhkan. Hal ini memungkinkan pusat data Google tetap menerima pasokan listrik terbarukan sepanjang waktu, bahkan saat kondisi cuaca tidak mendukung seperti malam hari, hari tanpa angin, atau masa puncak konsumsi listrik.

Tantangan Standarisasi dan Adaptasi Regional
Google menghadapi tantangan menyediakan solusi penyimpanan jangka panjang yang sesuai dengan berbagai persyaratan teknis di tiap wilayah. Standarisasi teknologi dianggap penting agar baterai CO2 dapat diproduksi dan dioperasikan secara konsisten di berbagai negara. Ainhoa Anda, pimpinan strategi energi Google di Paris, menilai hal ini sebagai keunggulan besar dari teknologi ini.

Keunggulan dibandingkan Metode Penyimpanan Energi Skala Besar Lainnya
Berbeda dengan sistem pumped-hydro yang membutuhkan waktu pembangunan hingga satu dekade dan memerlukan topografi khusus, baterai CO2 bisa dibangun dalam waktu kurang dari dua tahun. Kubah ekspansifnya bahkan dapat dipasang dalam waktu kurang dari setengah hari.

Namun, penggunaan kubah besar setinggi stadion olahraga ini berpotensi menimbulkan penolakan dari masyarakat sekitar. Risiko kebocoran CO2 juga menjadi perhatian, meski menurut CEO Energy Dome, Claudio Spadacini, jumlah gas yang berpotensi melepaskan sangat kecil dan tidak signifikan bila dibandingkan emisi industri penerbangan atau pembangkit batu bara.

Adopsi dan Perkembangan Teknologi Baterai CO2
Selain Google, sektor utilitas juga mulai tertarik dengan teknologi ini. Alliant Energy di Wisconsin telah mendapat izin untuk membangun baterai CO2 yang akan memasok listrik bagi 18.000 rumah. Hal ini menandakan potensi teknologi ini untuk diterapkan tidak hanya di pusat data besar, tetapi juga di sistem distribusi listrik publik.

Dengan kapasitas penyimpanan yang besar, umur panjang, biaya yang kompetitif, dan pembangunan yang relatif cepat, baterai CO2 menawarkan alternatif inovatif untuk mendukung transisi global menuju energi bersih. Teknologi ini dapat membantu mengatasi keterbatasan baterai lithium-ion terutama dalam menyediakan listrik cadangan dalam jangka waktu lama.

Pengembangan baterai CO2 merupakan langkah strategis bagi Google dalam memperkuat operasi ramah lingkungan pusat datanya dan mendukung target emisi karbon net-zero yang semakin dituntut. Bila berhasil diadopsi secara luas, teknologi ini berpotensi merevolusi cara energi terbarukan disimpan dan digunakan secara efisien di masa depan.

Berita Terkait

Back to top button