BMKG Gelar Operasi Modifikasi Cuaca 16–22 Jan 2026 Antisipasi Curah Hujan Tinggi Jakarta

Author: Qoo Media

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) bekerja sama dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta serta TNI Angkatan Udara menggelar operasi modifikasi cuaca (OMC) untuk wilayah Jakarta dan sekitarnya. Kegiatan ini berlangsung selama tujuh hari, mulai tanggal 16 hingga 22 Januari, dengan pos komando utama yang ditempatkan di Landasan Udara Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur.

Deputi Bidang Modifikasi Cuaca BMKG, Tri Handoko Seto, menyatakan bahwa upaya modifikasi cuaca ini ditujukan untuk menekan risiko bencana hidrometeorologi yang disebabkan oleh curah hujan tinggi pada musim penghujan. Pesawat jenis Casa 212 seri 200 dengan nomor registrasi A-2105 disiagakan, membawa bahan penyemaian berupa natrium klorida (NaCl) dan kalsium oksida (CaO).

Tujuan Utama Operasi Modifikasi Cuaca

OMC tersebut bertujuan mengendalikan awan hujan agar tidak berkembang secara berlebihan dan menimbulkan banjir serta bencana lain di wilayah Jabodetabek. Seto mengungkapkan bahwa penyemaian dilakukan terutama pada awan-awan yang masih berada di laut dan sedang bergerak menuju daratan. Selain itu, proses ini juga bertujuan untuk menghambat pembentukan awan hujan baru di daratan agar pertumbuhannya tidak maksimal.

Menurut Direktur Operasi Modifikasi Cuaca BMKG, Budi Harsoyo, seluruh rangkaian kegiatan ini diawasi secara ketat dan selalu didasarkan pada pengamatan radar cuaca terbaru. Langkah ini penting agar operasi dapat memberikan hasil efektif sekaligus meminimalkan potensi dampak negatif.

Fenomena Atmosfer yang Mempengaruhi Curah Hujan

Fenomena atmosfer yang saat ini mempengaruhi kondisi cuaca di Jabodetabek antara lain Madden-Julian Oscillation (MJO) fase 2, gelombang frekuensi rendah, gelombang Kelvin, serta nilai Outgoing Longwave Radiation (OLR) yang negatif. BMKG juga melaporkan bahwa kelembapan udara di lapisan antara 925 hingga 500 hPa mencapai 40 hingga 100 persen, yang merupakan indikator potensi hujan.

Budi menjelaskan, "Labilitas atmosfer menunjukkan massa udara labil lemah dengan potensi konveksi sedang. Prioritas utama kami adalah mengurangi awan-awan hujan yang berkembang dan bergerak memasuki wilayah Jakarta agar masyarakat dapat menjalankan aktivitas dengan nyaman."

Mitigasi dan Antisipasi Bencana Terpadu

Deputi Bidang Logistik dan Peralatan BNPB, Andi Eviana, menyambut baik kolaborasi lintas sektor dalam pelaksanaan operasi modifikasi cuaca. Menurutnya, sinergi yang terjalin ini sangat penting bukan hanya untuk OMC tetapi juga untuk penanganan bencana secara menyeluruh di wilayah perkotaan.

"Penanganan bencana yang terintegrasi di Jakarta merupakan langkah strategis yang harus terus diterapkan dan diperkuat. Informasi prakiraan dan pemantauan cuaca dari BMKG sangat vital dalam merancang strategi mitigasi yang tepat sasaran," ia menambahkan.

Sementara itu, Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD, Zaini Miftah, menegaskan bahwa OMC merupakan bagian dari upaya mitigasi proaktif dan antisipasi dini. Prakiraan BMKG menunjukkan potensi curah hujan yang meningkat pada dasarian kedua bulan ini, sehingga pelaksanaan operasi modifikasi cuaca selama tujuh hari menjadi salah satu solusi pengurangan risiko bencana.

Langkah Teknis dalam Operasi Modifikasi Cuaca

Pelaksanaan OMC mengikuti prosedur teknis yang ketat dengan tahapan sebagai berikut:

  1. Pemantauan radar cuaca untuk mendeteksi awan hujan potensial.
  2. Analisis fenonema atmosfer yang dapat memicu hujan tinggi.
  3. Penyemaian awan menggunakan natrium klorida (NaCl) dan kalsium oksida (CaO) dengan pesawat Casa 212.
  4. Evaluasi hasil penyemaian guna menentukan tindak lanjut operasi.

Dengan langkah-langkah tersebut, BMKG berharap dapat mengurangi intensitas curah hujan di area rentan agar dampak banjir dan bencana hidrometeorologi lainnya dapat diminimalisasi secara maksimal.

Melalui operasi modifikasi cuaca ini, BMKG dan instansi terkait berupaya memperkuat kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana di Jakarta dan sekitar. Kegiatan ini menunjukkan komitmen pemerintah dalam mengaplikasikan teknologi demi menjaga keselamatan dan kenyamanan masyarakat di tengah kondisi atmosfer yang tidak menentu.

Terbaru