Program Bonus Hari Raya (BHR) untuk pengemudi ojek online (ojol) pada Lebaran 2026 diperkirakan tidak akan mengalami perubahan yang berarti dibandingkan tahun sebelumnya. Center of Economic and Law Studies (Celios) menilai skema bonus ini masih berpotensi menyebabkan ketidakpuasan di kalangan pengemudi.
Direktur Ekonomi Digital Celios, Nailul Huda, menyatakan bahwa keterbatasan kemampuan platform ride-hailing menjadi alasan utama mengapa besaran BHR cenderung stagnan. “Untuk tahun ini, besaran BHR dan kriteria penerimanya kemungkinan besar sama seperti tahun lalu, yakni sebagian kecil menerima bonus besar dan mayoritas hanya mendapat jumlah minimal,” ujarnya.
Skema Bonus yang Terbatas
Huda menegaskan bahwa skema BHR lebih bersifat populis dan berfungsi untuk meredam ketegangan di antara pengemudi. Skema ini bukan instrumen yang dirancang untuk meningkatkan kesejahteraan pengemudi secara substansial. Hal ini mencerminkan keterbatasan platform dalam menyediakan bonus yang lebih adil dan merata.
Menurut pengamat ekonomi digital tersebut, pola pemberian bonus yang tidak merata ini kemungkinan besar akan menimbulkan gelombang protes serupa seperti yang terjadi pada tahun sebelumnya. Pengemudi yang menerima bonus dengan nominal paling rendah seringkali merasa diabaikan.
Risiko Penolakan dari Pengemudi
Celios memperingatkan bahwa jika skema BHR tetap menggunakan pola lama, akan ada risiko penolakan dari pengemudi yang merasa bonus yang diberikan tidak memadai. “Pengemudi yang menerima nominal Rp50.000 pasti akan mengeluhkan kembali,” kata Huda.
Situasi ini menimbulkan tantangan bagi perusahaan transportasi daring sekaligus pemerintah yang menyusun skema BHR. Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) saat ini masih merancang mekanisme pemberian bonus agar lebih efektif dan diterima oleh pengemudi.
Komitmen Perusahaan Aplikator
Meski terdapat kritik dan tantangan, beberapa perusahaan aplikator transportasi online seperti GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO), Grab Indonesia, dan Maxim telah memastikan program BHR tetap berjalan tahun ini. Mereka berkomitmen memberikan bonus sebagai apresiasi kepada pengemudi selama momen Lebaran.
Perlu dicatat bahwa besaran dan syarat pemberian bonus ini sangat bergantung pada kebijakan masing-masing platform serta kondisi ekonomi saat ini. Oleh sebab itu, keberlanjutan dan efektivitas program BHR sangat bergantung pada keselarasan antara pemerintah, perusahaan, dan pengemudi dalam merumuskan skema yang adil dan realistis.
Poin Penting Skema Bonus Hari Raya 2026
- Besaran dan kriteria penerima bonus kemungkinan sama seperti tahun sebelumnya.
- Skema lebih bertujuan untuk meredam ketegangan pengemudi daripada meningkatkan kesejahteraan.
- Besaran bonus dipengaruhi oleh keterbatasan kemampuan platform.
- Ada risiko gelombang protes dari pengemudi yang menerima nominal terendah.
- Pemerintah dan perusahaan masih membahas skema terbaik untuk tahun ini.
- Perusahaan aplikator besar telah memastikan program BHR tetap berlanjut.
Dari kondisi tersebut, penting bagi semua pihak untuk berkolaborasi mencari solusi agar program BHR tidak hanya menjadi insentif sesaat, tetapi juga mencerminkan perhatian jangka panjang terhadap kesejahteraan pengemudi ojol. Hal ini akan mendorong hubungan yang lebih harmonis dan keberlanjutan bisnis transportasi online di Indonesia.
Baca selengkapnya di: teknologi.bisnis.com