Equinix Indonesia memilih fokus pengembangan pusat data (data center) di dalam kota Jakarta, khususnya di Central Jakarta. Keputusan ini berbeda dengan tren umum yang lebih banyak mengembangkan data center di wilayah sub urban seperti Cikarang atau Cibitung.
Strategi Equinix berlandaskan pada karakter bisnisnya yang menitikberatkan pada retail data center dan interkoneksi ekosistem digital. Managing Director Equinix Indonesia, Haris Izmee, menjelaskan bahwa lebih dari 80% pendapatan perusahaan berasal dari pusat data ritel, bukan hyperscale data center yang mengandalkan kapasitas daya besar.
Kelebihan Retail Data Center di Dalam Kota
Lokasi pusat data Equinix yang berada di Central Jakarta, seperti fasilitas International Business Exchange (IBX) JK1 yang dibangun bekerjasama dengan Astra International, dipilih karena kedekatannya dengan Cyber 1 di Kuningan. Cyber 1 merupakan titik internet exchange terbesar di Indonesia.
Kedekatan ini memberikan keuntungan latency rendah bagi pelanggan yang memanfaatkan koneksi langsung ke internet exchange dan jaringan mitra terhubung di sana. Haris menekankan bahwa latency rendah amat krusial bagi pelanggan mereka.
Konsep retail data center yang dikedepankan Equinix juga menghadirkan ekosistem interkoneksi digital yang menjadi nilai tambah utama. Model ini berbeda dengan hyperscale yang fokus pada kapasitas besar per megawatt.
Tren dan Perkembangan Industri Data Center di Indonesia
Menurut Haris, industri data center Indonesia mengalami lima tren utama saat ini: peningkatan power density per kabinet akibat kebutuhan kecerdasan buatan (AI), pergeseran ke arsitektur active-active guna meningkatkan ketahanan sistem, meningkatnya tuntutan data residency, kebutuhan AI inference di dalam negeri, serta adopsi hybrid multi-cloud.
Pentingnya kepatuhan terhadap data residency juga semakin meningkat. Pelanggan menghendaki data tetap berada di Indonesia meskipun ada fitur keamanan dan AI yang diakses dari cloud luar negeri. Hal ini memperkuat kebutuhan pusat data yang berada di dalam negeri dan dekat dengan pusat jaringan internet.
Pandangan Industri dan Peran Sub Urban di Masa Depan
Ketua IDPRO, Hendra Suryakusuma, menilai geliat pembangunan data center in-town di Jakarta masih cukup intensif. Hal ini didorong oleh kebutuhan latensi rendah, regulasi domestikasi data, dan meningkatnya layanan digital. Namun, ia memprediksi dalam jangka menengah hingga panjang, tren akan bergeser ke sub urban karena keterbatasan lahan dan mahalnya harga tanah di Jakarta.
Wilayah seperti Bekasi, Karawang, Tangerang, dan kawasan ekonomi khusus seperti Nongsa Digital Park di Batam menjadi lokasi potensial untuk pengembangan hyperscale data center di masa depan.
Hendra menggambarkan bahwa model hybrid kemungkinan akan menjadi pola dominan, di mana pemain besar tetap menjaga fasilitas in-town untuk kepatuhan dan latensi rendah, sementara pengembangan skala besar diarahkan ke sub urban untuk memenuhi kapasitas lebih besar.
Pertumbuhan Kapasitas dan Isu Keberlanjutan
Kapasitas daya pusat data Indonesia diperkirakan nyaris dua kali lipat dalam dua hingga tiga tahun terakhir, seiring pesatnya pembangunan data center. Namun, isu keberlanjutan menjadi perhatian utama.
IDPRO mengingatkan bahwa hampir seluruh anggota masih bergantung pada energi batu bara karena mayoritas pembangkit listrik nasional mengandalkan sumber tersebut. Oleh karena itu, pengembangan data center berkelanjutan menjadi fokus bersama antara industri dan pemerintah.
Kolaborasi antara pemerintah, pelaku industri, dan penyedia teknologi dianggap sangat penting agar Indonesia dapat menjadi hub data center di Asia Tenggara. Dukungan regulasi dan kebijakan yang proaktif diyakini akan memperkuat kedaulatan digital nasional sekaligus menstimulasi pertumbuhan ekosistem data center yang kompetitif dan berkelanjutan.
Dengan fokus mengembangkan retail data center in-town di Jakarta yang terintegrasi dengan ekosistem internet exchange terbesar, Equinix memperlihatkan strategi yang relevan untuk memenuhi kebutuhan konektivitas cepat dan kepatuhan data lokal. Sementara itu, perkembangan di sub urban tetap menjadi alternatif jangka panjang untuk kapasitas dan skala yang lebih besar di industri pusat data Indonesia.
