Pacitan kembali mengalami gempa kuat sebesar M6,4 pada dini hari, menambah daftar gempa yang sering terjadi di wilayah tersebut. Dalam satu bulan terakhir, tercatat sekitar enam kali gempa mengguncang Pacitan, membuat masyarakat bertanya-tanya penyebab seringnya gempa di sana.
Pacitan terletak pada jalur seismik aktif selatan Jawa, yang merupakan zona subduksi antara lempeng samudra dan lempeng benua. Posisi ini membuat wilayah Pacitan sangat rentan terhadap aktivitas gempa bumi. Dr. Gayatri Indah Marliyani dari Departemen Teknik Geologi UGM mengungkapkan bahwa gempa di Pacitan kebanyakan berupa gempa intraslab.
Gempa intraslab adalah gempa yang terjadi di dalam lempeng samudra yang menunjam ke bawah lempeng benua. Umumnya, jenis gempa ini terjadi pada kedalaman cukup besar, sehingga getarannya bisa dirasakan di wilayah yang luas. Karena proses ini berlangsung di kedalaman dan suhu tinggi, batuan di zona subduksi bersifat lebih plastis dan biasanya gempa jenis ini jarang menimbulkan gempa susulan.
Selain gempa intraslab, Pacitan juga dipengaruhi oleh sesar naik di zona prisma akresi dan cekungan muka busur. Saat dasar laut terdorong dan terseret ke bawah zona subduksi, tekanan kuat menyebabkan energi tektonik tertahan di bawah permukaan. Energi yang tertahan ini dilepaskan secara bertahap melalui gempa kecil hingga menengah dengan kekuatan sekitar M5 sampai M6. Pelepasan energi yang bertahap ini justru bisa mengurangi risiko gempa besar dan tsunami karena menghindari akumulasi tekanan yang sangat tinggi sekaligus.
Sejarah mencatat beberapa gempa besar dan tsunami pernah melanda Pacitan. Pada 11 September 1921 dan 27 September 1937, gempa dengan kekuatan di atas M7 mengguncang wilayah ini dan memicu kerusakan serius. Gempa tahun 1921 juga memicu tsunami yang hingga mencapai Cilacap. Selain itu, tsunami pernah terjadi pada peristiwa gempa besar di tahun 1840 dan 1859, yang mempengaruhi pesisir Pacitan dan menimbulkan korban jiwa.
Berikut catatan singkat gempa besar dan tsunami yang pernah terjadi di Pacitan:
1. September 1921: Gempa M7,6 di zona outer rise, memicu tsunami hingga Cilacap.
2. September 1937: Gempa intensitas VIII-IX MMI menyebabkan ribuan rumah roboh.
3. Januari 1840: Gempa besar disertai tsunami menggulung pesisir Pacitan.
4. Oktober 1859: Gempa bertindak pemicu tsunami di Teluk Pacitan yang merenggut korban.
Memahami karakteristik gempa di Pacitan sangat penting agar masyarakat tidak panik berlebihan. Tidak semua gempa yang terjadi di kawasan ini berpotensi tsunami. Gempa intraslab yang dalam biasanya tidak menyebabkan perubahan signifikan di dasar laut sehingga potensi tsunami relatif kecil.
Berikut beberapa poin penting terkait gempa di Pacitan:
1. Pacitan berada dekat zona subduksi aktif selatan Jawa sehingga aktivitas seismik tinggi.
2. Gempa intraslab yang terjadi di kedalaman menyebabkan getaran luas tapi jarang tsunami.
3. Sesar naik serta cekungan muka busur memicu pelepasan energi melalui gempa-gempa kecil hingga menengah.
4. Sejarah mencatat beberapa gempa besar yang pernah memicu tsunami di wilayah tersebut.
Dengan pemahaman ini, masyarakat Pacitan diharapkan lebih siap menghadapi gempa sekaligus mengetahui bahwa tidak semua gempa menimbulkan tsunami. Aktivitas seismik yang cukup sering di Pacitan merupakan bagian alami dari proses tektonik di zona subduksi selatan Pulau Jawa. Pemantauan dan mitigasi terus dilakukan oleh BMKG dan lembaga terkait untuk meminimalisir risiko bencana.
Penjelasan ahli dan catatan sejarah menunjukkan bahwa seringnya gempa di Pacitan berkaitan erat dengan kondisi geologis serta dinamika lempeng yang terus bergerak. Hal ini menjadi pengingat penting bagi kita untuk selalu meningkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan terhadap bencana alam di wilayah rawan gempa.
