Kenapa Gempa Susulan Sering Terjadi? Ini Penjelasan dan Mekanisme Terjadinya Gempa Susulan

Gempa susulan adalah gempa yang terjadi setelah gempa utama dengan skala yang lebih kecil. Lokasinya biasanya berada di sekitar pusat gempa utama dalam radius sekitar 1–2 patahan. Gempa ini sering terjadi dalam waktu yang berdekatan, mulai dari beberapa jam hingga bertahun-tahun setelah gempa utama, tergantung besarnya magnitudo gempa utama.

Fenomena gempa susulan kerap menimbulkan kerusakan serius. Meski magnitudonya lebih kecil, gempa susulan dapat menyebabkan keruntuhan bangunan yang sudah retak akibat gempa utama. Gempa ini juga berpotensi memicu tanah longsor di wilayah yang rawan.

Proses Terjadinya Gempa Bumi

Bumi tersusun atas beberapa lapisan, yaitu inti dalam, inti luar, mantel, dan kerak Bumi. Lempeng tektonik yang terdapat di antara mantel dan kerak bersifat tidak utuh, membentuk pola seperti puzzle. Lempeng-lempeng ini terus bergerak, saling berbenturan maupun meluncur satu sama lain.

Di tepi lempeng terdapat patahan atau sesar yang kasar. Bagian inilah yang rentan mengalami gesekan dan menyebabkan gempa. Ketika batuan pada patahan tersebut tersangkut dan menumpuk tekanan secara tiba-tiba, energi yang tersimpan akan dilepaskan secara besar-besaran. Energi ini menjalar ke segala arah dalam bentuk gelombang seismik yang menggetarkan permukaan bumi.

Mengenal Gempa Susulan

Gempa susulan muncul sebagai “penyesuaian” setelah gempa utama. Gempa utama yang melepaskan energi hebat membuat kondisi lempeng dan patahan tidak stabil. Agar tekanan dan kondisi batuan kembali seimbang, terjadi serangkaian gempa susulan yang menyebar di area sekitar sumber gempa utama.

Menurut laman Britannica, gempa susulan biasanya paling aktif pada jam dan hari-hari setelah gempa utama. Gempa besar cenderung memunculkan gempa susulan yang lebih kuat dan lebih sering. Seiring berjalannya waktu, frekuensi dan magnitudo gempa susulan akan menurun sampai aktivitas kegempaan kembali normal.

Kenapa Gempa Susulan Sering Terjadi?

Saat gempa utama terjadi, pelepasan energi yang mendadak mengubah kondisi tegangan di batuan sekitar pusat gempa. Energi yang berpindah ini meningkatkan tekanan di patahan atau batuan sebelahnya. Tekanan baru ini akan “memaksa” batuan untuk beradaptasi dan menyesuaikan posisi demi menjaga kestabilan.

Gempa susulan adalah manifestasi dari proses penyesuaian tersebut. Dengan terjadinya gempa susulan, tekanan yang menumpuk di batuan dapat berkurang secara bertahap sehingga sistem tektonik kembali ke kondisi stabil. Oleh karena itu gempa susulan bisa dianggap sebagai bagian alami dari siklus pelepasan energi bumi.

Fakta Penting Tentang Gempa Susulan

  1. Waktu Terjadi: Gempa susulan bisa berlangsung lama, mulai dari beberapa hari hingga berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun.
  2. Lokasi: Terjadi di sekitar pusat patahan yang sama dengan gempa utama, biasanya dalam radius dekat.
  3. Skala Magnitudo: Umumnya lebih kecil dari gempa utama, tapi tetap berpotensi berbahaya.
  4. Dampak: Meningkatkan risiko kerusakan pada bangunan yang sudah rapuh dan memicu bencana lain seperti tanah longsor.
  5. Tujuan Alami: Melakukan “penyesuaian” tekanan di batuan agar kestabilan kerak bumi kembali pulih.

Risiko dan Kewaspadaan

Meski kekuatan gempa susulan tak sekuat gempa utama, efeknya tidak boleh dianggap remeh. Bangunan yang sebelumnya retak bisa ambruk saat gempa susulan. Masyarakat di daerah rawan gempa harus tetap waspada dan mengikuti protokol keselamatan.

Petugas kebencanaan biasanya meningkatkan pengawasan intensif pasca gempa utama. Informasi tentang gempa susulan disebarluaskan untuk menghindari korban lantaran ketidaktahuan masyarakat.

Gempa susulan merupakan proses penyesuaian alami akibat terganggunya kestabilan batuan saat gempa utama. Dengan mengurangi tekanan berlebih di patahan, gempa susulan membantu menciptakan kondisi yang lebih stabil lagi di wilayah tersebut. Fenomena ini menunjukkan kompleksitas dan dinamika kerak Bumi yang terus bergerak dan beradaptasi.

Exit mobile version