General Electric (GE) kembali ke bidang “vacuum,” tapi kali ini bukan untuk membersihkan debu di rumah. GE mengembangkan teknologi direct air capture (DAC) yang berfungsi menyedot polusi karbon dioksida langsung dari udara. Perusahaan ini baru saja mengumumkan keberhasilan pengujian prototipe DAC dan berencana melakukan demonstrasi skala besar pada tahun depan.
Direct air capture menggunakan reaksi kimia untuk menangkap karbon dioksida dari udara secara selektif. Saat udara melewati bahan kimia tersebut, karbon dioksida akan terperangkap, sementara gas lain tetap bebas lewat. Karbon yang terperangkap kemudian dilepaskan dari bahan kimia dengan pemanasan, lalu dapat disimpan dalam formasi geologi di dalam tanah, atau digunakan sebagai bahan baku produk seperti beton dan plastik yang dapat menyimpan karbon dalam waktu lama.
Teknologi ini penting karena konsentrasi karbon dioksida di atmosfer meningkat drastis sejak era Revolusi Industri. Data menunjukkan terjadi kenaikan hingga 47% dan separuh dari kenaikan tersebut terjadi sejak tahun 1980. Upaya mengurangi emisi lewat energi bersih memang krusial, namun tidak cukup untuk menurunkan jumlah karbon yang sudah ada di udara. Di sinilah DAC masuk sebagai solusi tambahan yang esensial.
Sementara alam menyerap karbon lewat tanaman dan hutan, metode alami ini punya keterbatasan ruang dan waktu. DAC justru menawarkan fleksibilitas lokasi dan kebutuhan lahan yang jauh lebih kecil dibandingkan reforestasi atau teknik penyerapan karbon alami lain. Oleh karena itu, DAC dianggap sebagai salah satu teknologi penangkal pemanasan global yang harus dikembangkan secara masif.
GE membawa keunggulan skalabilitas dalam pengembangan DAC. David Moore, petinggi di divisi manajemen karbon GE, mengatakan bahwa perusahaan ini punya kemampuan luar biasa dalam menggerakkan volume udara sangat besar. Ini menjadi faktor pembeda dibanding banyak startup yang saat ini menguasai pasar teknologi penangkapan karbon.
Secara teknis, DAC menangkap karbon melalui proses berikut:
1. Menarik udara atmosfer menggunakan kipas besar ke dalam sistem capture.
2. Mengalirkan udara ke dalam material kimia penyerap karbon.
3. Mengeluarkan karbon dioksida yang terserap dengan metode pemanasan atau tekanan rendah.
4. Menyimpan karbon dalam lokasi bawah tanah atau mengolahnya sebagai bahan industri.
Gabungan teknologi GE dalam sistem HVAC (Heating, Ventilation, and Air Conditioning) dan pengalamannya memproduksi mesin besar membuat langkah ini layak menjadi solusi jangka panjang penurunan polusi udara global.
Namun, efektivitas DAC juga bergantung pada kapasitas produksi, energi yang digunakan dalam proses, serta biaya operasional. GE berencana memperluas penelitian dan pengujian agar sistem yang dibuat bisa lebih efisien dan ramah lingkungan. Melalui demonstrasi dan skala produksi komersial, mereka ingin membuktikan bahwa teknologi ini dapat dijalankan secara massal.
Teknologi direct air capture bukan hanya janji untuk masa depan yang lebih bersih, tapi juga strategi penting dalam mitigating perubahan iklim secara global. Jika sukses, ini akan membuka babak baru bagaimana manusia menangani polusi karbon yang selama ini sulit dikurangi hanya dengan transisi ke sumber energi terbarukan.
GE yang dengan rekam jejak panjang dalam solusi industri menghadirkan peluang nyata bagi penerapan teknologi ini secara luas. Inisiatif ini bisa menjadi momen krusial untuk memperkuat upaya global menekan pemanasan bumi melalui inovasi dan industrialisasi hijau.
Teknologi direct air capture menyajikan alternatif atau pelengkap yang memungkinkan penurunan karbon di atmosfer secara aktif. Dengan dukungan perusahaan raksasa seperti GE, pengembangan teknologi ini semakin menjanjikan dan berpeluang menjadi alat ampuh dalam pertempuran melawan perubahan iklim di masa depan.
