Bitcoin, sebagai aset digital terkemuka di dunia, menghadapi ancaman serius dari kemajuan komputer kuantum. Algoritme kriptografi yang saat ini digunakan Bitcoin dapat dengan mudah diretas oleh komputer kuantum supercepat. Namun, hingga kini Bitcoin belum diupgrade ke algoritme yang tahan terhadap serangan kuantum.
Para peneliti kuantum mengingatkan bahwa waktu semakin menipis bagi para pengembang Bitcoin untuk melaksanakan pembaruan terbesar dalam sejarahnya. Scott Aaronson, peneliti komputer kuantum dan penasihat ilmiah di StarkWare, menyatakan bahwa waktu yang ideal untuk mulai memikirkan upgrade ini sebenarnya adalah kemarin.
Ancaman Quantum Computing yang Makin Dekat
Diperkirakan dalam 3 sampai 5 tahun mendatang, komputer kuantum yang mampu memecahkan sistem kriptografi penting akan menjadi kenyataan. Hayk Tepanyan, pendiri BlueQubit, menyebut kemajuan ini didasarkan pada pencapaian terkini dari beberapa perusahaan terdepan di bidang teknologi kuantum. Quantinuum bahkan memproyeksikan akan mencapai quantum computing yang sepenuhnya tahan kesalahan pada tahun 2030.
Badan pemerintahan Amerika Serikat sudah mengantisipasi ancaman ini. Departemen Pertahanan AS menetapkan batas waktu akhir tahun 2030 untuk memperbarui sistem keamanan menuju enkripsi tahan kuantum. Namun, kemajuan teknologi bisa lebih cepat dari yang diperkirakan jika ada inovasi algoritme yang belum diketahui publik.
Shor’s algorithm, algoritme kuantum yang dapat membobol tanda tangan digital Bitcoin, menjadi kekhawatiran utama karena dapat secara teoritis mengancam seluruh sistem transaksi Bitcoin.
Algoritme Quantum-Resistant Sudah Ada
Meski begitu, pengembangan algoritme kriptografi yang tahan kuantum sesungguhnya sudah berjalan. Pada Agustus lalu, National Institute of Standards and Technology (NIST) Amerika Serikat menuntaskan tiga standar post-quantum cryptography untuk penggunaan federal, dengan satu standar lagi dalam proses finalisasi.
Namun, masalah utama bukan pada ketiadaan algoritme tersebut, melainkan kapan waktu yang tepat untuk mengimplementasikannya. Chris Tam, kepala inovasi kuantum di BTQ, mengingatkan bahwa standar NIST pun pernah berhasil ditembus. Kasus pada 2022 menunjukkan satu skema tanda tangan post-kuantum yang distrandardisasi pada 2016 dapat ditembus dalam 53 jam oleh laptop konsumen biasa.
Tantangan Koordinasi dalam Komunitas Bitcoin
Bitcoin dikembangkan secara desentralisasi oleh puluhan kontributor independen. Proses mencapai konsensus terkait perubahan besar sangat sulit dan membutuhkan waktu lama. Sejarah membuktikan klaim ini, seperti perselisihan antara 2015-2017 yang menyebabkan terpecahnya jaringan Bitcoin menjadi dua blockchain berbeda.
Beberapa pengembang memperkenalkan fitur baru yang dapat memperkuat keamanan terhadap serangan kuantum, misalnya transaksi output baru yang hanya berlaku untuk transaksi mendatang. Namun, hingga saat ini belum ada langkah signifikan untuk melindungi aset senilai sekitar $160 miliar Bitcoin yang sudah ada.
Perdebatan Prioritas dan Resiko
Pendapat di komunitas pengembang Bitcoin beragam. Sebagian tokoh terkemuka seperti Adam Back dari Blockstream menganggap ancaman quantum masih jauh di masa depan. Luke Dashjr bahkan menolak ancaman kuantum sebagai prioritas, menyebut ada masalah lain yang lebih mendesak bagi Bitcoin saat ini.
Di sisi lain, para peneliti kuantum menilai bahwa waktu untuk bersiap sudah sangat mendesak. Kerumitan terletak pada keseimbangan antara meng-upgrade terlalu awal dengan risiko standar baru yang ternyata juga rentan, dan menunggu terlalu lama sehingga aset mereka diretas sebelum ada perlindungan baru.
Ketidakpastian “Unknown Unknowns”
Perkembangan hardware quantum relatif dapat diprediksi, tetapi kemajuan algoritme kuantum masih penuh tanda tanya. Inovasi algoritme yang mendadak bisa mengurangi sumber daya yang dibutuhkan untuk menjalankan serangan kuantum hingga 100 kali lipat, sehingga mempercepat ancaman terhadap Bitcoin.
Selain itu, semakin dekat para ilmuwan pada pencapaian instrumen quantum yang mampu membobol kriptografi, semakin sedikit informasi yang mereka bagikan. Ini menimbulkan risiko tersembunyi karena tidak ada transparansi penuh terkait sejauh mana ancaman sudah nyata.
Menurut Aaronson, situasi ini mirip dengan pengembangan senjata nuklir dulu, di mana kemajuan penting mulai disembunyikan demi alasan keamanan nasional. Dengan adanya persaingan antara perusahaan teknologi besar, negara, dan lembaga pemerintah, sulit memprediksi kapan serangan kuantum yang efektif akan terjadi.
Pengembangan peningkatan keamanan Bitcoin agar tahan terhadap serangan kuantum memang tidak mudah dan penuh tantangan. Namun, komunikasi intensif dan koordinasi yang erat di antara para pengembang, akademisi, dan regulator akan menjadi kunci agar Bitcoin dapat beradaptasi lebih cepat menghadapi era komputer kuantum yang sudah di depan mata.





