AI Produksi Gambaran Neanderthal Penuh Misinformasi Membahayakan Akurasi Ilmu Pengetahuan Saat Ini

Peneliti baru-baru ini menguji kemampuan kecerdasan buatan (AI) untuk menggambarkan Neanderthal dalam bentuk teks dan gambar. Hasilnya menunjukkan bahwa AI menghasilkan ilustrasi dan deskripsi yang sangat keliru mengenai penampilan serta gaya hidup Neanderthal.

Neanderthal sering digambarkan secara berlebihan primitif dan mirip dengan Australopithecus atau simpanse, padahal fakta ilmiah modern menunjukkan gambaran yang jauh lebih kompleks. Kesalahan ini muncul karena AI menggunakan data pelatihan yang banyak mengambil dari sumber lama dan stereotip yang sudah usang.

Misinformasi dalam Gambar dan Deskripsi AI

Ketika para ilmuwan Matthew Magnani dan Jon Clindaniel meminta ChatGPT dan DALL-E membuat representasi Neanderthal, mayoritas gambar yang muncul memperlihatkan sosok manusia dengan tubuh membungkuk dan bulu lebat. Ciri-ciri ini lebih menyerupai ilustrasi abad ke-20 yang sudah tidak akurat menurut kajian ilmiah terkini.

Peneliti mengungkapkan, fitur fisik yang digambarkan AI terlalu ekstrem dan tidak berada dalam variasi fenotipik Neanderthal yang sesungguhnya. Ini mengisyaratkan AI menggunakan sumber informasi yang tidak mencerminkan pengetahuan terbaru di bidang arkeologi dan paleoantropologi.

Sejarah Sumber Misinformasi AI

Misinformasi ini berakar pada interpretasi pertama terhadap fosil Neanderthal di tahun 1860-an. Pada era tersebut, para arkeolog menyimpulkan bahwa Neanderthal merupakan makhluk primitif dengan tengkorak mirip simpanse dan badan berbulu. Gambaran ini tersebar luas di masyarakat dan museum lewat diorama yang menampilkan Neanderthal secara keliru.

Seiring berjalannya waktu dan ditemukannya lebih banyak spesimen, ilmu pengetahuan tentang Neanderthal pun berkembang. Temuan perilaku kompleks berupa penggunaan alat batu, api, tanaman obat, hingga pakaian yang disesuaikan, telah mengubah cara pandang ilmiah terhadap mereka.

Keterbatasan Data untuk Melatih AI

Generative AI mengandalkan data dari internet, tetapi banyak studi terbaru berada di balik paywall sehingga sulit diakses. Karena itu, AI cenderung menggunakan data lama dan lebih banyak mengandalkan sumber terbuka yang mungkin sudah usang.

Percobaan Magnani dan Clindaniel yang memasukkan perintah dari ahli dan non-ahli pada AI membuktikan hal ini. Gambar yang dihasilkan tetap menggambarkan Neanderthal secara stereotipikal dan kuno. Meski begitu, setelah disesuaikan dengan perintah yang lebih spesifik, AI mampu menghasilkan deskripsi yang sedikit lebih akurat.

Perbandingan Fisik Neanderthal Versus Ilustrasi AI

Gambar Neanderthal pada AI memperlihatkan karakteristik:

  1. Tubuh membungkuk yang menyerupai simpanse.
  2. Penutupan tubuh dengan rambut lebat berlebihan.
  3. Rahang dan tonjolan alis yang sangat mencolok.
  4. Profil tengkorak jauh lebih rendah dibandingkan fosil asli.
  5. Kurangnya representasi perempuan dan anak-anak.

Fakta ilmiah modern menyebutkan Neanderthal memiliki postur tubuh tegak, dengan ciri fisik yang lebih halus dan variasi fenotipik yang luas, serta keberadaan perempuan dan anak-anak dalam kelompok sosial mereka.

Dampak pada Persepsi dan Penggunaan AI

Peneliti menyatakan bahwa cara penyusunan dan keterbukaan data arkeologi akan sangat memengaruhi output AI di masa depan. Oleh karena itu, kebijakan data yang lebih baik akan membantu menciptakan representasi yang akurat dan bermutu tentang masa lalu manusia.

Generative AI saat ini belum mampu menggantikan kajian ilmiah mendalam dan masih rentan terhadap kesalahan dari sumber data yang digunakan. Pengguna AI perlu bersikap kritis dan berhati-hati dalam mengandalkan hasilnya, terutama untuk topik ilmiah atau sejarah.

Penting untuk terus meningkatkan akses dan kualitas data ilmiah yang bebas dikembangkan agar AI menghasilkan keluaran yang lebih sesuai dengan pemahaman terkini. Ini juga menuntut kerjasama antara ilmuwan, pengembang AI, dan pembuat kebijakan untuk memperbaiki standar data sumber.

Terkait