Misteri dan Keajaiban Masjid Huaisheng, Jejak Sahabat Nabi di Tengah Harmoni Budaya Tiongkok Islam Lebih dari 1.300 Tahun

Islam telah lama mengenal Tiongkok sebagai salah satu wilayah awal penyebarannya selain Jazirah Arab dan Asia Selatan. Salah satu bukti nyata kehadiran Islam di daratan Tiongkok tertuang dalam Masjid Huaisheng yang terletak di Guangzhou. Masjid ini bukan sekadar tempat ibadah biasa, melainkan simbol sejarah yang mencerminkan perjalanan panjang interaksi budaya dan agama di wilayah tersebut.

Masjid Huaisheng diyakini sebagai masjid tertua di Tiongkok yang berdiri sejak abad ke-7 Masehi. Menurut tradisi Muslim Tionghoa, masjid ini didirikan oleh Sa’ad bin Abi Waqqas, sahabat sekaligus paman Nabi Muhammad saw., dalam rangka misi dakwah dan diplomatik ke Dinasti Tang. Walaupun bukti fisik mengenai kehadiran Sa’ad di Guangzhou masih menjadi perdebatan para sejarawan modern, konsensus menyebutkan bahwa Islam telah masuk ke pusat perdagangan Tiongkok ini sejak masa Dinasti Tang. Selama perjalanannya, Masjid Huaisheng mengalami renovasi beberapa kali, termasuk pembangunan baru pada tahun 1350 dan pemulihan setelah kebakaran di tahun 1695.

1. Masjid Tertua di Tiongkok
Masjid Huaisheng dikenal sebagai masjid pertama yang berdiri di Tiongkok. Lokasinya berada di kota Guangzhou, salah satu pelabuhan utama jalur sutra laut. Berdasarkan catatan Muslim Tionghoa, pembangunan masjid ini berlangsung pada era Dinasti Tang atau awal Dinasti Song. Menara masjid yang dikenal sebagai Menara Guangta berfungsi ganda sebagai mercusuar dan tempat panggilan azan. Keunikan struktur berbentuk silinder setinggi 36 meter ini membedakannya dari bangunan pagoda khas Tiongkok yang berlapis-lapis.

2. Misi Diplomatik Awal Islam di Tiongkok
Menurut tradisi masyarakat Muslim di Guangzhou, Sa’ad bin Abi Waqqas berperan penting dalam memperkenalkan Islam kepada Kaisar Gaozong Dinasti Tang. Kaisar tersebut bahkan menghormati Islam sebagai ajaran yang sejalan dengan etika Konfusianisme. Berkat keberkahan ini, Sa’ad mendapatkan izin untuk membangun masjid sebagai pusat ibadah dan dakwah. Nama “Huaisheng” sendiri bermakna “Menghargai Sang Bijak”, yang merujuk pada penghormatan komunitas Muslim terhadap Nabi Muhammad saw.

3. Perpaduan Arsitektur Arab dan Tiongkok
Arsitektur Masjid Huaisheng memadukan unsur estetika Dinasti Tang dengan prinsip desain Islam yang fungsional. Bentuk atap melengkung dengan genteng hijau sangat kental nuansa tradisional Tiongkok. Namun, interior masjid menegaskan karakter Islam dengan orientasi ruang salat menghadap kiblat dan hiasan kaligrafi Arab yang memperindah dinding. Tidak terdapat patung atau gambar makhluk hidup, sesuai dengan ajaran Islam. Menara Guangta berupa silinder batu bata dan tiang kayu merah menjadi ikon visual perpaduan budaya yang harmonis.

4. Makam Suci dan Jejak Sa’ad bin Abi Waqqas
Tidak jauh dari masjid terdapat kompleks pemakaman yang disebut Makam Suci dan dipercayai sebagai tempat peristirahatan terakhir Sa’ad bin Abi Waqqas oleh masyarakat lokal. Meskipun catatan sejarah utama menyebutkan beliau wafat di Madinah, makam ini tetap menjadi destinasi ziarah penting bagi umat Muslim internasional. Area makam berhiaskan pohon beringin tua dan mata air bersejarah yang hingga kini digunakan para peziarah untuk berwudhu dan berdoa. Pengunjung harus melewati beberapa gerbang dan berjalan kaki untuk mencapai makam, yang dilindungi dari cuaca ekstrim oleh bangunan khusus.

5. Fungsi Masjid sebagai Pusat Ibadah dan Budaya Modern
Masjid Huaisheng hingga kini masih sangat aktif digunakan oleh komunitas Muslim di Guangzhou. Setiap hari, ratusan jamaah melaksanakan salat lima waktu dengan jumlah yang bertambah signifikan saat Jumat dan hari raya seperti Idulfitri dan Iduladha. Selain sebagai tempat ibadah, masjid ini juga menjadi simbol toleransi dan harmoni antarbudaya di tengah kehidupan kota modern. Pemerintah Tiongkok melindungi situs ini sebagai warisan budaya nasional dengan menjaga kondisi bangunan dan fasilitas yang mendukung kebutuhan jamaah. Wisatawan pun dapat mengunjungi halaman masjid untuk mengagumi arsitekturnya serta menara Guangta yang legendaris.

Masjid Huaisheng bukan hanya saksi hidup sejarah panjang Islam di Tiongkok, tetapi juga titik temu berharga antara tradisi Arab dan kebudayaan Tiongkok. Keunikan sejarah, diplomasi, dan seni bangunannya menunjukkan bahwa Islam telah mampu beradaptasi dan berkembang di berbagai belahan dunia sejak awal kedatangannya. Hingga hari ini, Masjid Huaisheng tetap menjadi pusat spiritual dan kebudayaan yang menarik perhatian banyak orang dari seluruh penjuru dunia.

Source: www.idntimes.com

Berita Terkait

Back to top button