Ribuan Kamera Pengawas di Kawasan Timur Tengah Diserang Peretas Iran, Ini Dampaknya

Peneliti keamanan siber mengungkap bahwa ratusan kamera pengawas berbasis internet di kawasan Timur Tengah menjadi target serangan peretasan sejak konflik militer terbaru dimulai pada 28 Februari. Upaya serangan ini diduga dilakukan oleh kelompok peretas yang memiliki kaitan dengan Iran, dengan tujuan mendapatkan akses ke sistem pengawasan digital di wilayah tersebut.

Perusahaan keamanan dari Tel Aviv, Check Point Software Technologies, melaporkan bahwa serangan tersebut memanfaatkan berbagai celah keamanan pada kamera IP dari dua merek utama, yaitu Hikvision dan Dahua Technology. Kedua produsen ini sangat populer digunakan sebagai sistem pengawasan di banyak negara dan telah menjadi fokus utama para penyerang digital.

Negara-Negara yang Diserang

Laporan ini menyebutkan beberapa negara yang menjadi sasaran eksploitasinya, seperti Israel, Qatar, Bahrain, Kuwait, Uni Emirat Arab, Siprus, dan Lebanon. Wilayah-wilayah ini diketahui dekat dengan zona konflik dan sedang mengalami aktivitas militer yang melibatkan Iran, termasuk serangan rudal.

Para peneliti mengungkapkan bahwa metode pengintaian digital merupakan komponen penting dalam operasi militer Iran. Dengan meretas kamera pengawas, mereka dapat memantau situasi di lapangan secara real-time. Contoh nyata terjadi pada Juni 2025 saat kelompok yang diduga terkait dengan Ministry of Intelligence and Security Iran berhasil mengakses server CCTV di Yerusalem untuk memantau lalu lintas sebelum melancarkan serangan rudal.

Teknik Serangan dan Alat yang Digunakan

Para peretas menggunakan sejumlah layanan VPN populer seperti Mullvad VPN, ProtonVPN, Surfshark, dan NordVPN guna menyembunyikan identitas saat melakukan penetrasi sistem. Selain itu, server virtual pribadi dipakai untuk memindai kerentanan pada kamera-kamera target secara sistematis.

Menariknya, serangan ini hanya menimpa perangkat dari Hikvision dan Dahua, sementara merek lain tidak dilaporkan menjadi sasaran. Hal ini mungkin karena kedua produsen tersebut memiliki kerentanan yang relatif mudah dieksploitasi oleh para peretas bila tidak segera diperbarui.

Isu Pembaruan Perangkat

Check Point juga menyoroti bahwa kerentanan ini sebenarnya sudah diperbaiki melalui patch dari produsen. Namun, masih banyak perangkat yang menggunakan firmware versi lama sehingga rentan terhadap serangan. Hal ini menunjukkan masalah dalam pengelolaan keamanan perangkat oleh pengguna atau administrator sistem pengawasan.

Dampak Potensial dan Implikasi Keamanan

Aktivitas peretasan kamera ini mengindikasikan eskalasi potensi operasi militer yang lebih luas di kawasan Timur Tengah. Sistem pengawasan yang diretas memungkinkan pengumpulan informasi penting yang bisa digunakan untuk strategi serangan lebih efektif. Oleh karena itu, peningkatan perlindungan terhadap perangkat IoT militer dan publik menjadi sangat krusial.

Berikut beberapa poin penting terkait serangan kamera pengawas di Timur Tengah:

  1. Target utama adalah kamera IP Hikvision dan Dahua Technology.
  2. Negara yang diserang meliputi Israel, Qatar, Bahrain, Kuwait, Uni Emirat Arab, Siprus, dan Lebanon.
  3. Kelompok peretas memiliki hubungan dengan Iran dan memberi dukungan pengintaian digital.
  4. Penggunaan layanan VPN dan server virtual untuk menyembunyikan identitas penyerang.
  5. Banyak perangkat rentan karena belum diperbarui firmware-nya.

Upaya peretasan ini menjadi alarm penting bagi pengelola keamanan jaringan dan perangkat IoT di wilayah konflik. Pembaruan rutin serta pengawasan ketat terhadap akses perangkat sangat dianjurkan untuk mencegah kompromi lebih lanjut. Investigasi berkelanjutan dan kerja sama internasional akan krusial dalam menghadapi ancaman siber yang semakin canggih dan sporadis.

Baca selengkapnya di: teknologi.bisnis.com
Terkait