Nvidia tampaknya sedang menyiapkan langkah untuk masuk ke ranah pusat data berbasis orbit. Hal ini terungkap dari lowongan pekerjaan terbaru yang dipasang perusahaan produsen GPU tersebut untuk posisi "Orbital Datacenter System Architect."
Lowongan yang dipublikasikan di Santa Clara tersebut menjelaskan bahwa calon sistem arsitek akan bertugas mendefinisikan dan membangun produk kecerdasan buatan (AI) yang beroperasi di orbit bumi. Ini mencakup pengembangan arsitektur sistem pusat data orbital mulai dari desain chip hingga satelit dan konektivitas antar satelit.
Posisi ini juga menuntut kolaborasi lintas divisi di Nvidia, termasuk tim silikon, perangkat lunak, dan jaringan. Tujuannya untuk menyusun peta jalan pengembangan produk Nvidia yang akan digunakan di luar angkasa. Pekerjaan tersebut sekaligus mengharuskan koordinasi dengan mitra pengembangan sistem dan pelanggan utama Nvidia untuk menyamakan strategi.
Tidak ada konfirmasi langsung dari Nvidia terkait rencana ini. Namun, ini sejalan dengan langkah SpaceX yang sudah fokus mengembangkan pusat data di orbit. Perusahaan milik Elon Musk tersebut, yang baru-baru ini menggabungkan xAI sebagai bagian bisnisnya, menyuplai ribuan GPU dari Nvidia untuk pengolahan AI tingkat perusahaan.
Dalam panggilan pendapatan terakhir, CEO Nvidia Jensen Huang mengakui bahwa secara ekonomi, pusat data berbasis luar angkasa saat ini belum menguntungkan. Namun, ia optimis kondisi tersebut akan membaik seiring waktu. Nvidia sendiri pernah mengirimkan GPU “Hopper” H100 ke orbit menggunakan satelit uji dari startup Starcloud yang mengembangkan konstelasi satelit AI raksasa.
Penggunaan GPU di luar angkasa memiliki potensi besar, khususnya untuk pemrosesan citra satelit resolusi tinggi yang sangat intensif secara komputasi. Dengan permintaan data yang kian meningkat, pusat data orbital dapat menawarkan kecepatan dan efisiensi baru di sektor ini.
Tantangan dan Peluang Pusat Data Orbital
- Pendinginan: GPU yang bekerja di ruang angkasa menghadapi masalah pendinginan karena tidak ada aliran udara sebagai media perpindahan panas. Solusi teknis inovatif sangat diperlukan.
- Radiasi Kosmik: Perangkat keras harus dilindungi dari radiasi tinggi yang dapat merusak komponen elektronik.
- Energi: Manfaat utama adalah potensi memanfaatkan energi matahari langsung tanpa gangguan atmosfer, meningkatkan efisiensi energi.
- Keamanan Antariksa: Adanya jutaan satelit dapat menimbulkan risiko tabrakan dan sampah antariksa, memerlukan regulasi dan teknologi pengelolaan yang ketat.
Selain Nvidia dan SpaceX, Google juga sedang menguji konsep pusat data di orbit. Namun, mereka masih dalam tahap penelitian dengan hanya dua prototipe satelit yang dijadwalkan diluncurkan beberapa tahun ke depan. Google menyebut proyek ini sebagai “research moonshot” yang masih jauh dari komersialisasi.
Potensi Bisnis Menggiurkan
CEO Starcloud, Philip Johnston, bahkan menilai bahwa Nvidia telah menyadari bahwa pasar chip inferensi untuk luar angkasa akan menjadi yang terbesar dalam waktu dekat. Ini menjadi indikasi betapa seriusnya para pelaku teknologi besar melihat masa depan pusat data berbasis orbit.
Dengan rencana peluncuran konstelasi satelit hingga mencapai satu juta unit oleh SpaceX, kebutuhan GPU dan teknologi terkait akan melonjak drastis. Nvidia, sebagai pemimpin pasar GPU AI, berpotensi mendapatkan peluang besar untuk memasok teknologi tersebut.
Pengembangan pusat data di luar angkasa juga membuka peluang inovasi teknologi baru yang dapat mendorong batas kemampuan komputasi saat ini. Nvidia kemungkinan akan membeberkan kemajuan terkait proyek ini dalam ajang tahunan GTC yang akan diadakan beberapa minggu mendatang di San Jose.
Upaya ini menunjukkan bagaimana batas antara teknologi komputasi tinggi dan eksplorasi ruang angkasa semakin kabur. Jika berhasil, pusat data di orbit dapat merevolusi cara data diproses, diakses, dan disimpan secara global, serta mempercepat era kecerdasan buatan yang semakin kuat dan terdesentralisasi.
