Cuaca Mendung, Gerhana Bulan di Surabaya Gagal Teramati dengan Jelas

Cuaca buruk menghalangi pengamatan gerhana bulan total atau full blood moon di Surabaya. Awan tebal dan hujan deras membuat fenomena langka ini tidak terlihat dari rooftop Gedung Universitas Muhammadiyah Surabaya.

Tim pengamat dari Fakultas Studi Islam dan Peradaban Umsura menggunakan teleskop refraktor berdiameter 71 mm serta kamera DSLR untuk menangkap detail permukaan bulan. Meski peralatan lengkap, kondisi cuaca memaksa mereka gagal melihat gerhana bulan total tersebut.

Menurut Andi Siti Maryam, dosen Astronomi Umsura, pengamatan dilakukan mulai pukul 16.00 WIB. Hujan deras yang turun hingga menjelang petang menutupi pandangan ke ufuk timur, tempat bulan terbit saat gerhana mulai terjadi.

Gerhana bulan total ini bertepatan dengan waktu berbuka puasa, sehingga banyak masyarakat berharap menyaksikan bulan purnama berubah warna menjadi merah. Namun, fase total gerhana yang seharusnya terlihat antara pukul 18.04 WIB hingga 19.02 WIB tertutup oleh awan.

Andi Siti Maryam menjelaskan, pengamatan gerhana bulan total berbeda dengan pengamatan hilal. Jika hilal diamati ke arah barat saat matahari terbenam, maka gerhana bulan total diamati ke arah timur mengikuti terbitnya bulan.

Fase totalitas gerhana terjadi saat bulan sepenuhnya tertutup bayang-bayang bumi, menghasilkan warna merah yang dikenal sebagai blood moon. Setelah pukul 19.02 WIB, fase total berakhir dan berubah menjadi gerhana sebagian hingga selesai pada pukul 20.17 WIB.

Fenomena gerhana bulan total ini sebenarnya dapat diamati dari berbagai wilayah di Indonesia, namun keberhasilannya sangat bergantung pada kondisi cuaca. Di Surabaya, awan tebal dan hujan deras menjadi kendala utama.

Meski pengamatan di Universitas Muhammadiyah Surabaya gagal, pengamat masih berharap cuaca akan lebih bersahabat pada kesempatan berikutnya. Fenomena ini menjadi momentum penting bagi pengamatan astronomi dan edukasi masyarakat tentang kejadian langit.

Cuaca memang menjadi faktor penentu utama saat melakukan pengamatan astronomi. Oleh karena itu, pengamat biasanya mempersiapkan lokasi alternatif dan peralatan tambahan agar tetap bisa menangkap momen langka seperti gerhana bulan total.

Baca selengkapnya di: www.beritasatu.com
Exit mobile version