Militer Amerika Serikat menerbangkan pesawat E-6B Mercury menyusul peningkatan ketegangan di kawasan Teluk sejak Februari 2026. Pesawat yang dijuluki “pesawat kiamat” ini berfungsi sebagai pusat komando strategis yang mampu bertahan dalam kondisi perang nuklir.
E-6B Mercury dibuat dari kerangka Boeing 707 dan dilengkapi teknologi komunikasi canggih. Pesawat ini berperan sebagai stasiun radio terbang yang menghubungkan Presiden serta pejabat militer dengan kapal selam nuklir di bawah laut.
Kemampuan utama pesawat ini meliputi komunikasi dengan satelit dan pangkalan militer serta kendali serangan nuklir balasan. Dalam skenario serangan besar, E-6B dapat mengambil alih kendali fasilitas rudal bawah tanah jika daratan AS terdampak.
Menurut Dailymail, fungsi E-6B sebagai penghubung terakhir dalam sistem komando militer membuatnya sangat vital dan sekaligus menakutkan. Dalam beberapa pekan terakhir, armada ini tercatat sering lepas landas dari pangkalan di Maryland dan Nebraska menuju kawasan Teluk Persia.
Penerbangan yang dilakukan militer AS ini memicu kekhawatiran eskalasi konflik besar di Timur Tengah. Namun Pentagon tidak memberikan komentar terkait pergerakan pesawat ini dengan alasan keamanan operasi yang sangat rahasia.
Tugas utama E-6B dikenal dengan kode “Take Charge and Move Out” (TACAMO). Misi utamanya menjaga jalur komunikasi antara pusat komando dan kapal selam nuklir agar tetap aktif meski pusat komunikasi darat hancur atau mengalami gangguan.
Meski teknologi dasarnya sudah ada selama 40 tahun, E-6B terus diperbarui dengan sistem komunikasi frekuensi tinggi terbaru. Pesawat ini mampu terbang hingga 40.000 kaki dan tinggal di udara selama hampir tiga hari berkat kemampuan pengisian bahan bakar di langit.
Biaya pembuatan satu unit E-6B mencapai sekitar 141,7 juta dolar AS. Pesawat ini tetap menjadi platform militer terkuat dalam menjalankan misi strategis yang bisa menentukan jalannya konflik berskala global.
Ketegangan di kawasan Teluk juga diperparah oleh adanya pengungkapan data posisi pasukan AS kepada pihak ketiga, yang berpotensi memicu tindakan militer lebih agresif. Hal ini membuat angkatan laut AS menunjukkan kesiapan dengan mengoperasikan E-6B secara intensif.
Selain perannya dalam TACAMO, E-6B juga menjalankan misi “Looking Glass”, sebuah pos komando udara strategis yang memfasilitasi peluncuran rudal balistik antarbenua. Misi ini memperkuat posisi pesawat sebagai benteng terakhir pertahanan nuklir AS.
Kehadiran pesawat E-6B di langit sering dianggap sebagai sinyal peringatan dan bentuk unjuk kekuatan. Kombinasi komunikasi bawah laut dan kendali rudal dari udara memastikan Amerika Serikat tetap memiliki alat kendali yang dapat diandalkan dalam situasi krisis besar di Teluk dan global.
Baca selengkapnya di: www.beritasatu.com