Pluto Diperdebatkan Lagi, Planet Kesembilan Atau Planet Kerdil?

Perdebatan soal status Pluto kembali mencuat setelah Administrator NASA sekaligus miliarder luar angkasa Jared Isaacman ikut mendorong gagasan agar Pluto “dipulihkan” sebagai planet. Isu ini kembali menarik perhatian publik karena menyentuh sains, sejarah astronomi, dan juga sentimen emosional banyak orang yang masih menganggap Pluto sebagai planet kesembilan.

Secara ilmiah, status Pluto memang belum berubah sejak Persatuan Astronomi Internasional atau IAU menetapkan definisi planet pada 2006. Pluto tetap diklasifikasikan sebagai planet kerdil karena tidak memenuhi salah satu syarat utama, yaitu membersihkan area orbitnya dari objek lain di sekitarnya.

Mengapa Pluto Pernah Disebut Planet

Pluto ditemukan pada 18 Februari 1930 oleh Clyde W. Tombaugh di Observatorium Lowell, Arizona. Selama puluhan tahun setelah itu, Pluto diajarkan sebagai planet kesembilan dalam tata surya dan masuk dalam buku pelajaran di banyak negara.

Posisi Pluto mulai goyah pada awal 2000-an, ketika para astronom menemukan semakin banyak objek besar di luar orbit Neptunus. Situasi itu membuat para ilmuwan mempertanyakan apakah Pluto masih pantas berdiri di kelas yang sama dengan delapan planet utama lainnya.

Puncaknya terjadi pada 2005 saat astronom menemukan Eris, objek yang massanya lebih besar dari Pluto. Penemuan ini mendorong IAU meninjau ulang definisi planet agar klasifikasi benda langit lebih konsisten secara ilmiah.

Apa Kata Definisi IAU

IAU menetapkan tiga syarat agar sebuah benda langit disebut planet. Benda itu harus mengorbit Matahari, bentuknya cukup bulat karena gravitasinya sendiri, dan mampu membersihkan lingkungan orbitnya dari benda-benda lain.

Pluto memenuhi dua syarat pertama, tetapi gagal pada syarat ketiga. Orbit Pluto masih dipengaruhi dan bersinggungan dengan wilayah Neptunus, sehingga gravitasinya tidak cukup dominan untuk “menguasai” jalurnya sendiri seperti Bumi atau Jupiter.

Tabel sederhana berikut merangkum bedanya secara ringkas:

  1. Pluto: mengorbit Matahari, berbentuk bulat, belum membersihkan orbit.
  2. Bumi: mengorbit Matahari, berbentuk bulat, telah membersihkan orbit.
  3. Jupiter: mengorbit Matahari, berbentuk bulat, sangat dominan di orbitnya.
  4. Ceres: mengorbit Matahari, berbentuk bulat, juga diklasifikasikan sebagai planet kerdil.

Mengapa Status Pluto Kembali Diperdebatkan

Dorongan untuk mengembalikan Pluto sebagai planet kini datang bukan hanya dari kalangan penggemar astronomi, tetapi juga dari tokoh publik dan politikus di Amerika Serikat. Jared Isaacman bahkan disebut mendukung intervensi pemerintah AS untuk “memulihkan” status Pluto sebagai bentuk penghormatan terhadap kontribusi Kansas dan sejarah kedirgantaraan Amerika.

Nama lain seperti William Shatner dan sejumlah anggota Kongres AS juga pernah menyuarakan pendapat serupa. Mereka sempat mengusulkan agar presiden mengeluarkan perintah eksekutif untuk menetapkan ulang Pluto sebagai planet, meski secara ilmiah kewenangan itu tetap berada di tangan IAU sebagai organisasi internasional independen.

Pluto Bukan Satu-satunya yang Pernah Turun Kelas

Banyak orang mengira Pluto adalah satu-satunya benda langit yang pernah kehilangan status planet. Faktanya, Ceres juga menjalani perjalanan serupa setelah ditemukan pada 1801 dan sempat dianggap planet.

Saat sabuk asteroid di antara Mars dan Jupiter diketahui dipenuhi banyak objek serupa, status Ceres ikut berubah. Pada 2006, Ceres dan Pluto sama-sama masuk kategori planet kerdil, yang menunjukkan bahwa sains terus menyesuaikan definisi seiring bertambahnya data observasi.

Perubahan ini menegaskan bahwa klasifikasi astronomi bukan soal nostalgia, melainkan hasil pembaruan ilmu pengetahuan. Saat teleskop dan teknologi pengamatan semakin maju, para astronom menemukan bahwa tata surya jauh lebih kompleks daripada yang dulu dipahami.

Mengapa Pluto Tetap Penting dalam Sains

Meski bukan planet utama, Pluto tetap menjadi objek penelitian yang sangat menarik. Pluto menyimpan petunjuk penting tentang sabuk Kuiper, wilayah dingin di tepi tata surya yang berisi banyak benda beku sisa pembentukan sistem Matahari.

Pluto juga punya nilai historis dan budaya yang besar. Banyak orang masih merasa Pluto “kehilangan” identitasnya pada 2006, padahal dari sudut pandang ilmiah, perubahan itu justru mencerminkan kemajuan cara manusia memahami alam semesta.

Satu fakta yang sering mengejutkan adalah Pluto bahkan belum menyelesaikan satu orbit penuh sejak ditemukan pada 1930. Pluto diperkirakan baru akan menuntaskan satu putaran mengelilingi Matahari pada 23 Maret 2178, sehingga objek ini tetap menjadi simbol betapa lambat dan uniknya dinamika di wilayah terluar tata surya.

Baca selengkapnya di: www.beritasatu.com
Exit mobile version