Samudra Pasifik menyimpan banyak sinyal akustik yang sulit dijelaskan pada awalnya, dan The Bloop menjadi salah satu yang paling terkenal. Rekaman ini memicu perdebatan panjang karena terdengar sangat kuat, bahkan sempat dikaitkan dengan dugaan keberadaan makhluk laut raksasa.
Bagi banyak orang, The Bloop bukan sekadar suara aneh, melainkan pintu masuk untuk memahami bagaimana laut dalam bekerja. Dari pengamatan ilmiah, fenomena ini justru memperlihatkan betapa sensitifnya sensor bawah air dalam menangkap aktivitas alam yang terjadi jauh dari permukaan.
Jejak pertama yang terekam di Samudra Pasifik
Menurut NOAA, The Bloop pertama kali terdeteksi pada saat jaringan sensor bawah laut mencatat sinyal yang tidak biasa di wilayah terpencil Samudra Pasifik Selatan. Sistem itu berasal dari teknologi lama bernama SOSUS, jaringan mikrofon bawah air yang awalnya dibuat untuk kepentingan militer.
Setelah ketegangan geopolitik mereda, para ilmuwan memanfaatkan sensor tersebut untuk riset oseanografi. Dari sanalah muncul rekaman suara dengan pola yang unik, karena frekuensinya terus meningkat selama sekitar satu menit.
Mengapa suara ini begitu ramai dibahas?
The Bloop langsung menarik perhatian karena suaranya terdengar sangat kuat dan mampu terekam oleh sensor yang terpisah sekitar 5.000 kilometer. Dalam konteks akustik laut, jarak seperti itu dimungkinkan karena air menghantarkan suara jauh lebih efisien dibanding udara.
Kecepatan rambat suara di air mencapai sekitar 1.500 meter per detik, atau hampir 4,5 kali lebih cepat daripada di daratan. Gelombang frekuensi rendah juga bisa melintas sangat jauh melalui lapisan SOFAR, yaitu jalur alami di kedalaman laut yang membantu suara bertahan tanpa banyak kehilangan energi.
Lima fakta penting tentang The Bloop
- Pertama kali terdeteksi pada era teknologi sensor bawah laut yang semula dipakai untuk keperluan militer.
- Sinyalnya terekam jauh di Samudra Pasifik Selatan, jauh dari jalur pelayaran utama.
- Rekamannya sempat menimbulkan teori liar tentang monster laut raksasa.
- Penelitian kemudian mengarah pada penjelasan geologi, bukan biologi.
- Fenomena ini berkaitan dengan retakan besar pada gunung es atau icequake.
Dari teori monster laut ke penjelasan ilmiah
Spekulasi publik sempat berkembang cepat setelah rekaman itu dibuka ke publik. Sebagian orang mengaitkannya dengan makhluk laut fiksi dari kisah horor, sementara lainnya menilai hanya hewan besar yang mampu menghasilkan suara sebesar itu.
Namun, NOAA kemudian menyimpulkan bahwa pola suara The Bloop identik dengan retakan besar batuan es atau peristiwa icequake. Saat gunung es raksasa di Antartika retak, bergesekan, atau pecah, getarannya dapat menciptakan suara frekuensi rendah yang terdengar sangat menggetarkan sensor.
Apa hubungan The Bloop dengan perubahan iklim?
Bagi ilmuwan, temuan ini tidak hanya menjelaskan misteri suara, tetapi juga memberi petunjuk tentang kondisi kutub. Science Daily melaporkan bahwa meningkatnya retakan es di wilayah kutub mencerminkan lapisan es abadi yang makin tidak stabil akibat pemanasan global.
Artinya, suara-suara seperti The Bloop bisa menjadi indikator alami perubahan lingkungan yang berlangsung cepat. Semakin sering retakan es terjadi, semakin besar pula massa es yang hilang ke laut dan berpotensi memengaruhi kenaikan permukaan air laut.
Suara misterius lain di dasar samudra
The Bloop bukan satu-satunya fenomena akustik yang pernah membuat ilmuwan berhenti sejenak untuk menganalisis data. Ada pula suara lain seperti Julia, Train, dan Slow Down yang juga sempat menimbulkan rasa penasaran sebelum akhirnya dikaitkan dengan proses alamiah.
Temuan itu menunjukkan bahwa dasar samudra masih menyimpan banyak informasi penting tentang pergerakan es, aktivitas bawah laut, dan dinamika iklim global. Dari satu suara yang dulu dianggap misterius, para peneliti justru mendapat gambaran lebih luas tentang betapa dinamisnya laut dalam dan betapa cepatnya perubahan di wilayah kutub memengaruhi planet ini.
Source: www.idntimes.com