Thundersnow adalah fenomena cuaca langka ketika salju turun bersamaan dengan kilatan petir dan suara guntur. Peristiwa ini menarik perhatian karena memadukan ciri badai petir dan badai salju dalam satu kejadian yang jarang terlihat.
Dalam beberapa wilayah di belahan bumi utara, fenomena ini sempat dilaporkan muncul dengan intensitas yang kuat akibat kondisi atmosfer yang tidak stabil. Banyak saksi menggambarkannya seperti adegan film, tetapi para ahli menilai thundersnow tetap harus dipahami sebagai peristiwa meteorologis yang berpotensi berbahaya.
Apa yang Membuat Thundersnow Terbentuk
Secara sederhana, thundersnow terjadi ketika salju turun dari awan badai yang masih mampu menghasilkan petir. Laman Fox Weather menjelaskan bahwa kondisi ini muncul saat ada lapisan udara sangat dingin di bagian atas atmosfer, sementara udara di dekat permukaan tanah lebih hangat dan lembap.
Perbedaan suhu itu mendorong udara naik dengan cepat dan membentuk awan kumulonimbus di tengah musim dingin. Di dalam awan, kristal es saling bergesekan dan menciptakan muatan listrik statis yang kemudian dilepaskan sebagai petir.
Mengapa Fenomena Ini Sangat Sulit Terjadi
Thundersnow tidak mudah muncul karena atmosfer musim dingin umumnya lebih stabil dibandingkan musim hujan biasa. Kestabilan itu membuat arus udara vertikal yang kuat lebih jarang terbentuk, padahal gerakan naik itulah yang dibutuhkan untuk memicu badai petir.
HowStuffWorks menulis bahwa hanya sekitar 0,07 persen dari seluruh peristiwa hujan salju disertai aktivitas guntur dan petir. Itulah sebabnya thundersnow sering disebut sebagai “unicorn” di dunia cuaca, karena syarat kemunculannya sangat spesifik dan sulit diprediksi.
Ciri yang Membuatnya Berbeda dari Badai Petir Biasa
Salah satu tanda paling khas dari thundersnow adalah suara guntur yang terdengar lebih pendek dan lebih berat. SKYbrary Aviation Safety menyebut suara guntur pada fenomena ini biasanya hanya terdengar dalam jarak sekitar 3 hingga 5 kilometer dari pusat sambaran.
Salju berperan sebagai peredam suara alami, sehingga dentuman petir tidak terdengar setajam badai petir pada umumnya. Akibatnya, suara yang muncul terasa mendam, seperti getaran jauh yang tertahan di udara dingin.
Warna Petir yang Terlihat Tidak Biasa
Thundersnow juga sering menampilkan kilatan petir berwarna biru tua, ungu, atau sedikit kehijauan. Australian Broadcasting Corporation menjelaskan bahwa warna itu muncul karena cahaya petir harus menembus lapisan butiran salju dan kristal es yang sangat rapat.
Partikel es membiaskan cahaya dan menyebarkan panjang gelombang tertentu lebih kuat dibandingkan warna lain. Efek ini membuat petir terlihat lebih dramatis, terutama saat salju turun lebat di tengah malam atau saat jarak pandang sudah mulai menurun.
Daerah yang Paling Rentan Mengalami Thundersnow
Fenomena ini bisa terjadi di banyak negara beriklim dingin, tetapi beberapa wilayah memiliki peluang lebih besar. Daerah Great Lakes di Amerika Serikat dan pesisir Laut Jepang termasuk lokasi yang kerap dikaitkan dengan thundersnow.
Kondisi itu dipicu udara dingin yang bergerak di atas perairan yang lebih hangat, lalu menyerap uap air dalam jumlah besar. Uap air tersebut memperkuat pembentukan awan badai dan meningkatkan peluang munculnya petir di tengah hujan salju.
Risiko yang Perlu Diwaspadai
Di balik keindahannya, thundersnow membawa ancaman serius bagi keselamatan. Petir tetap memiliki tegangan listrik mematikan, sementara hujan salju lebat bisa memicu whiteout, yaitu kondisi saat jarak pandang turun drastis hingga hampir nol.
Situasi itu sangat berbahaya bagi pengendara, pelaku perjalanan udara, dan warga yang berada di area terbuka. Angin kencang serta beban salju berat juga dapat merusak infrastruktur dan menyebabkan pemadaman listrik, sehingga masyarakat di wilayah terdampak perlu segera berlindung di tempat aman saat fenomena ini muncul.
Source: www.idntimes.com