OpenStar Technologies, startup asal Selandia Baru, melaporkan terobosan penting dalam pengembangan energi fusi nuklir yang selama ini dianggap sebagai salah satu kandidat energi masa depan paling ambisius. Perusahaan itu menyebut pendekatan mereka berpotensi menghadirkan energi “cepat dan hemat biaya” dalam waktu lima tahun, sebuah target yang jauh lebih agresif dibanding proyeksi banyak proyek fusi lain di dunia.
Pencapaian ini menarik perhatian karena fusi nuklir masih menjadi tantangan besar bagi riset energi global. Jika berhasil dikembangkan secara layak secara komersial, teknologi ini dapat menawarkan sumber listrik dengan emisi karbon rendah, tanpa risiko limbah radioaktif jangka panjang seperti pada reaktor fisi konvensional.
Terobosan pada reaktor “Junior”
OpenStar mengatakan kemajuan terbaru datang dari unit skala kecil bernama “Junior”. Dalam unggahan LinkedIn, perusahaan menyebut sistem tersebut berhasil menahan plasma saat magnet inti superconducting melayang sepenuhnya tanpa penyangga eksternal.
Salah satu detail paling mencolok dari desain ini adalah penggunaan magnet melayang berbobot lebih dari setengah ton di dalam ruang vakum berdiameter sekitar 17 kaki dengan bobot total 12 ton. Magnet itu ditahan dari atas oleh magnet tetap, sehingga struktur di dalam reaktor tidak perlu menyentuh plasma superpanas yang terbentuk.
Pendekatan itu berbeda dari banyak proyek fusi lain yang mengandalkan desain tokamak berbentuk donat atau stellarator yang lebih berliku. Menurut Kementerian Energi Amerika Serikat, kedua pendekatan tersebut sama-sama bertujuan menahan plasma yang suhunya bisa melampaui inti Matahari.
Mengapa desain ini dianggap penting
OpenStar menilai penghilangan penyangga mekanis dapat membantu mengurangi kehilangan panas dan ketidakstabilan plasma. Dalam penjelasan perusahaan, struktur penyangga selama ini bisa menjadi jalur keluarnya energi saat reaksi berlangsung.
Dengan magnet yang melayang, perusahaan berharap dapat menjaga suhu tinggi lebih stabil dan membuat reaktor lebih sederhana. OpenStar juga menyebut desain ini berpotensi lebih murah, lebih mudah dirawat, dan lebih kecil dibanding banyak konsep fusi lain yang sedang dikembangkan.
Berikut alasan utama desain ini dipandang menjanjikan:
- Mengurangi interferensi struktur fisik terhadap plasma superpanas.
- Berpotensi menekan kehilangan energi selama reaksi.
- Dapat menyederhanakan rancangan reaktor.
- Berpeluang menurunkan biaya produksi dan perawatan.
- Membuka jalan menuju sistem yang lebih ringkas untuk penggunaan komersial.
Masih jauh dari listrik komersial
Meski pencapaian ini dinilai penting, OpenStar belum menghasilkan energi lebih besar daripada yang dikonsumsi. Itu berarti teknologi tersebut masih berada pada tahap awal dan belum mendekati status pembangkit listrik yang siap dipakai jaringan.
Beberapa analis teknologi energi menekankan bahwa kestabilan magnet dalam kondisi ekstrem adalah prasyarat penting untuk iterasi berikutnya. Tanpa stabilitas itu, reaksi fusi sulit dipertahankan cukup lama untuk menghasilkan daya yang berguna.
Namun, perusahaan tetap optimistis dan menilai pendekatan mereka bisa membantu membuka “pendapatan awal” sebelum reaktor mencapai skala penuh. Klaim ini menjadi menarik mengingat proyek fusi di berbagai negara dilaporkan menelan biaya hingga puluhan miliar dolar.
Persaingan dengan proyek fusi lain
OpenStar bukan satu-satunya pemain di bidang ini, tetapi target waktunya termasuk yang paling agresif. Scientific American melaporkan salah satu proyek utama di Virginia menargetkan operasi pada awal dekade 2030-an, sementara prototipe STEP di Inggris diproyeksikan selesai pada 2040.
Perbandingan jadwal itu menunjukkan betapa sulitnya fusi nuklir diwujudkan. Walau riset telah berlangsung puluhan tahun, mempertahankan kondisi reaksi yang stabil tetap menjadi hambatan utama.
Mengapa fusi tetap diburu
Fusi dipandang berbeda dari fisi karena menggabungkan atom, bukan membelahnya. Proses ini tidak menghasilkan limbah berbahaya seperti reaktor fisi konvensional dan tidak membawa risiko lelehan inti dalam skenario yang sama, meski tantangan teknisnya sangat besar.
Di sisi lain, energi surya dan angin masih menjadi opsi termurah dan tercepat untuk pengembangan skala jaringan, menurut laporan Lazard. Namun, fusi tetap dilihat sebagai solusi jangka panjang yang bisa memperkuat ketahanan energi, terutama ketika harga listrik dilaporkan naik lebih cepat daripada inflasi.
OpenStar kini menjadi salah satu startup yang paling diperhatikan dalam perlombaan global menuju energi fusi yang dapat diproduksi secara layak. Jika teknologi magnet melayang itu benar-benar mampu mempertahankan plasma lebih stabil, langkah berikutnya bisa menentukan apakah pendekatan ini menjadi lompatan besar atau hanya satu tahap lagi dalam perjalanan panjang menuju sumber energi generasi berikutnya.
