Froghopper adalah serangga kecil yang sering luput dari perhatian karena tubuhnya hanya sekitar 1 sentimeter, tetapi kemampuannya membuatnya menonjol di antara serangga lain. Hewan dari superfamili Cercopoidea ini hidup di semak-semak dan pepohonan lebat, lalu dikenal karena lompatan ekstrem yang sekaligus membantu mereka bertahan dari predator dan berpindah tempat dengan cepat.
Di sisi lain, froghopper bukan sekadar serangga yang menarik secara ilmiah. Populasinya yang besar bisa menjadi ancaman bagi pertanian karena kemampuan mereka mengisap cairan tanaman dan menyebarkan bakteri penyebab penyakit, sehingga serangga ini sering masuk daftar hama yang perlu diwaspadai petani.
1. Froghopper punya lompatan yang luar biasa
Froghopper tercatat di Guinness World Records sebagai serangga dengan lompatan tertinggi. Jarak lompatnya bisa mencapai 70 sentimeter, atau sekitar 140 kali panjang tubuhnya.
Riset juga menunjukkan lompatan itu berlangsung sangat cepat dan menghasilkan tekanan yang sangat besar pada tubuhnya. Saat melompat, froghopper dapat mencatat akselerasi hingga 4.000 meter per detik, dengan tekanan sekitar 414 kali bobot tubuhnya.
2. Serangga kecil ini bisa merusak tanaman
Laman Natural History Museum menyebut froghopper sebagai salah satu musuh petani ketika populasinya meningkat tajam. Serangga ini mengisap cairan tanaman, lalu membuat tanaman melemah, mengering, dan berisiko mati.
Ancaman froghopper tidak berhenti di situ karena sebagian spesies juga membawa bakteri Xylella fastidiosa. Bakteri ini dapat memicu penyakit serius pada tanaman, sehingga pengendalian hama sering dilakukan dengan pestisida atau predator alami seperti lalat predator dari famili Pipunculidae.
3. Warna dan bentuknya berbeda-beda di tiap genus
Froghopper memiliki ribuan spesies dengan penampilan yang beragam, dan perbedaannya kerap terlihat jelas pada tingkat genus. Beberapa genus bahkan memiliki pola warna yang sangat khas dan mencolok.
Berikut beberapa contoh yang disebut dalam referensi:
| Genus | Ciri fisik yang menonjol |
|---|---|
| Phymatostetha | cokelat dengan sentuhan merah |
| Tropidorhinella | hitam dengan corak merah |
| Clastoptera | bertutul kuning |
| Machaerota | memiliki tonjolan menyerupai tanduk |
Keragaman ini membuat froghopper menarik bagi peneliti karena satu kelompok serangga bisa menampilkan bentuk tubuh yang sangat berbeda.
4. Fosilnya sudah ada sejak zaman dinosaurus
Artikel ilmiah di Journal of Zoological Systematics and Evolutionary Research menjelaskan bahwa froghopper sudah hidup sejak periode Jura dan Kapur. Itu berarti keberadaan serangga ini sangat tua dan sudah melewati berbagai perubahan besar di bumi.
Pada masa itu, froghopper dibagi ke dalam dua famili, yaitu Procercopidae dan Sinoalidae. Menariknya, ada genus Qibinus yang memperlihatkan ciri dari kedua famili tersebut, serta genus Cercopion yang diduga berkerabat dekat dengan froghopper modern.
5. Froghopper tersebar di banyak wilayah dunia
ScienceDirect menjelaskan froghopper sebagai serangga kosmopolitan karena penyebarannya sangat luas. Habitatnya tidak hanya di satu jenis lingkungan, tetapi juga mencakup area terbuka, semak-semak, rerumputan, sampai permukiman padat penduduk.
Sebaran yang luas ini menunjukkan kemampuan adaptasi yang kuat dalam menghadapi perubahan lingkungan. Meski begitu, froghopper tetap sering sulit ditemukan karena tubuhnya kecil dan biasa bersembunyi di antara daun.
Selain disebut sebagai serangga lompatan ekstrem, froghopper juga menarik karena mampu bertahan sejak era purba hingga sekarang. Kombinasi kemampuan fisik, penyebaran luas, dan dampaknya terhadap tanaman membuat serangga ini terus menjadi perhatian biologi, ekologi, dan pertanian.
Source: www.idntimes.com