Australia semakin disebut sebagai kandidat kuat dalam perlombaan global quantum computing, terutama karena ekosistem risetnya sudah bergerak dari laboratorium menuju produk komersial. Di tengah perdebatan soal kapan teknologi ini benar-benar siap dipakai industri, sejumlah pemain justru sudah menawarkan solusi awal yang menarik minat pasar.
Dorongan itu datang dari kombinasi investasi jangka panjang, talenta teknis, dan fokus pada kasus penggunaan yang nyata. Salah satu pusat perhatian adalah Silicon Quantum Computing (SQC), perusahaan rintisan yang lahir dari riset di Australia dan kini membawa pendekatan silikon ke pasar enterprise.
Australia muncul sebagai pusat gravitasi baru
Hingga kini, belum ada satu negara pun yang memonopoli komersialisasi quantum computing. Namun, Amerika Serikat dan China bukan satu-satunya pemain besar, karena Inggris, Jerman, Kanada, dan Australia juga mempercepat langkah mereka.
Australia menonjol karena konsistensi. Selama lebih dari 25 tahun, negara itu menumbuhkan riset quantum sebagai bagian dari strategi nasional dan membangun jalur pasokan sumber daya manusia yang kuat, dari fisikawan hingga insinyur.
Salah satu fondasi utamanya adalah ARC Centre for Quantum Computation and Communication Technology, jaringan multiuniversitas yang berkantor pusat di University of New South Wales, Sydney. Lembaga ini berdiri pada 2011 dan fokus pada penerjemahan fisika quantum menjadi komputasi yang bisa dipakai.
Peran Michelle Simmons dalam akselerasi industri
Di balik lompatan Australia ada nama Professor Michelle Simmons, pendiri sekaligus CEO SQC. Ia sudah lama dikenal sebagai pionir perangkat elektronik pada skala atom, termasuk transistor terkecil di dunia dan gerbang dua qubit pertama berbasis atom dalam silikon.
Rekam jejak itu penting karena SQC memilih jalur berbeda dari banyak kompetitor. Perusahaan ini membangun qubit dari atom fosfor yang ditanam dalam silikon murni, pendekatan yang menurut Simmons menawarkan keunggulan pada aspek koherensi dibanding opsi lain seperti atom netral, logam superconducting, dan foton.
Berikut beberapa faktor yang membuat pendekatan SQC mendapat perhatian:
- Mereka menguasai proses manufaktur sendiri.
- Mereka memotong waktu pembuatan semikonduktor dari potensi 40 minggu menjadi sekitar satu minggu.
- Mereka mengembangkan perangkat yang lebih dekat ke kebutuhan enterprise.
- Mereka fokus pada produk yang dapat diuji pelanggan lebih cepat.
Dari riset ke produk yang bisa dijual
Keputusan SQC menjadi produsen quantum processor unit atau QPU sejak awal dinilai mempercepat iterasi. Perusahaan ini sempat menargetkan produk komersial pertama pada 2028, tetapi sudah siap dan mulai mengirimkan produk pada 2025.
Produk andalannya saat ini bernama Watermelon, sebuah QPU komersial yang memakai quantum reservoir computing, sebuah pendekatan asal Jepang yang dipandang sebagai jalan pintas menuju quantum machine learning yang bermanfaat. Teknologi itu tersedia dalam bentuk unit fisik yang bisa dipasang di pusat data, atau diakses lewat layanan cloud.
SQC juga mengklaim Watermelon bisa membantu mempercepat beban kerja tertentu. Dalam salah satu kasus pada klien telekomunikasi, perusahaan tersebut memangkas waktu pemrosesan set pelatihan AI dari beberapa minggu menjadi beberapa hari.
Mengapa fault tolerance menjadi kunci
Tantangan terbesar quantum computing tetap sama: kesalahan. Sistem quantum sangat sensitif, sehingga koreksi error menjadi syarat utama sebelum komputasi skala besar benar-benar stabil.
Simmons menargetkan komputer quantum yang sepenuhnya error-corrected, dengan qubit fisik yang tidak sempurna tetapi dapat membentuk logical qubit yang stabil untuk komputasi panjang dan andal. SQC bahkan menetapkan 2033 sebagai tahun saat mereka ingin mendukung satu juta qubit.
Perbandingan dengan pemain global menunjukkan betapa besar ambisinya. D-Wave di Kanada telah menerapkan sekitar 5.000 qubit melalui pendekatan quantum annealing, sementara IBM memiliki prosesor Condor 1121 qubit berbasis gate untuk tujuan umum.
Quantum twins dan peluang industri berikutnya
Produk berikutnya yang sedang diuji SQC adalah quantum twins. Teknologi ini dirancang untuk mensimulasikan sistem kompleks pada tingkat atom, sesuatu yang sulit dilakukan oleh sistem klasik ketika ukuran dan interaksi makin rumit.
Area paling menjanjikan ada pada penemuan obat. Industri farmasi masih banyak bergantung pada proses coba-coba, karena perilaku molekul dan interaksinya dengan tubuh manusia sering belum sepenuhnya dipahami. Dengan quantum twins, peneliti dapat memodelkan dan mengamati perilaku molekul lebih presisi.
Bagi perusahaan dan pemerintah, pesan yang mengemuka cukup jelas: quantum computing sudah bergerak dari wacana ke tahap penggunaan awal. Australia kini bukan sekadar penonton, melainkan salah satu negara yang berpotensi menentukan arah berikutnya dalam industri bernilai strategis ini.
