John Martinis, peraih Nobel Fisika yang dikenal luas lewat kiprahnya dalam pengembangan komputasi kuantum Google, menilai ancaman kuantum terhadap Bitcoin dan aset kripto lain bukan lagi sekadar teori. Dalam wawancara media, ia menegaskan bahwa teknologi ini berpotensi menjadi risiko nyata bagi sistem enkripsi yang menjadi fondasi keamanan aset digital.
Martinis mengatakan Bitcoin kemungkinan termasuk target awal jika komputer kuantum mencapai kemampuan yang cukup kuat. Ia juga menekankan bahwa serangan terhadap kriptografi bisa terjadi jauh lebih cepat dibanding yang banyak dibayangkan, karena proses matematis yang dipakai dalam pemecahan enkripsi termasuk jenis komputasi yang relatif lebih mudah bagi mesin kuantum.
Ancaman yang dinilai nyata, meski belum segera terjadi
Martinis menyebut bahwa ancaman ini tidak memiliki probabilitas nol, sehingga industri perlu menghadapinya sejak dini. Ia merujuk pada makalah Google yang sempat menarik perhatian global, yang menjelaskan bahwa komputer kuantum yang cukup maju secara teori bisa menurunkan private key Bitcoin dalam hitungan menit dan membuka jalan untuk membobol jaringan.
Pernyataan itu penting karena datang dari tokoh yang ikut membangun fondasi teknologi kuantum modern. Martinis menerima Nobel Fisika atas riset fenomena kuantum makroskopis dan juga dikenal memimpin program perangkat keras kuantum Google, termasuk eksperimen “quantum supremacy” pada 2019.
Mengapa Bitcoin disebut lebih rentan
Menurut Martinis, salah satu tantangan terbesar kripto ada pada sifat jaringannya yang terdesentralisasi. Berbeda dengan sistem keuangan tradisional yang dapat lebih cepat bermigrasi ke enkripsi tahan-kuantum, Bitcoin membutuhkan proses pembaruan yang lebih rumit dan sering memicu perdebatan di komunitas.
Berikut poin utama yang membuat masalah ini dianggap serius:
- Enkripsi Bitcoin bergantung pada keamanan kriptografi yang kelak bisa dilemahkan komputer kuantum.
- Sistem terdesentralisasi membuat perubahan protokol berjalan lebih lambat.
- Ancaman tidak hanya menyasar Bitcoin, tetapi juga sektor kripto secara lebih luas.
- Serangan kuantum, jika tercapai, bisa menjadi salah satu aplikasi numerik paling sederhana bagi mesin kuantum.
Martinis menyebut pembobolan kriptografi sebagai “salah satu aplikasi yang lebih mudah” untuk komputasi kuantum karena sifatnya yang sangat matematis. Ia menyebutnya sebagai “low-hanging fruit”, yang menggambarkan bahwa enkripsi bisa menjadi sasaran awal sebelum aplikasi kuantum yang lebih kompleks berhasil diwujudkan.
Apa kata industri dan posisi Google
Peringatan Martinis muncul di tengah meningkatnya diskusi soal kesiapan industri terhadap era kuantum. Perusahaan teknologi dan lembaga keuangan mulai meneliti kriptografi pasca-kuantum untuk mengantisipasi masa depan ketika komputer kuantum cukup kuat menembus sistem perlindungan lama.
Google sendiri telah menjadi salah satu pemain utama dalam riset ini. Perusahaan itu ikut mendorong percakapan global soal risiko kuantum, sekaligus mengembangkan kemampuan perangkat keras yang membuka jalan bagi komputasi generasi berikutnya.
Di sisi lain, Martinis juga menenangkan pasar dengan menegaskan bahwa ancaman tersebut belum mendesak dalam waktu dekat. Menurut dia, komputer kuantum yang mampu melancarkan serangan semacam itu masih menjadi salah satu tantangan rekayasa paling sulit saat ini.
Implikasi untuk aset digital
Bagi pemegang aset kripto, pernyataan Martinis menambah alasan untuk memperhatikan perkembangan teknologi kuantum, bukan hanya harga pasar. Isu ini menyentuh lapisan paling dasar dari keamanan blockchain, yakni kemampuan menjaga kerahasiaan kunci privat dan validitas transaksi.
Investor, pengembang, dan komunitas blockchain kini menghadapi pertanyaan penting: seberapa cepat ekosistem kripto bisa beradaptasi sebelum komputer kuantum mencapai titik kritis. Selama upaya transisi ke skema enkripsi yang lebih aman belum matang, peringatan dari tokoh sekelas John Martinis akan terus menjadi sinyal bahwa risiko kuantum perlu dipantau serius oleh seluruh industri aset digital.
