Film Project Hail Mary menarik perhatian karena tidak hanya menjual aksi dan petualangan antariksa, tetapi juga mencoba berdiri di atas dasar sains yang cukup serius. Banyak penontonnya kini bertanya, seberapa masuk akal teknologi, makhluk, dan situasi yang ditampilkan film ini jika dibandingkan dengan sains nyata.
Jawabannya tidak hitam-putih. Sebagian ide dalam Project Hail Mary punya pijakan ilmiah yang kuat, sementara sebagian lain masih jauh dari bukti nyata dan tetap berada di wilayah spekulasi fiksi ilmiah.
Sains yang membuat Project Hail Mary terasa berbeda
Andy Weir dikenal sebagai penulis yang rajin menguji gagasan fiksi dengan logika sains. Setelah The Martian dipuji karena pendekatan teknisnya, Project Hail Mary kembali mengusung formula yang sama, yaitu cerita yang memadukan krisis kosmik, teknologi antariksa, dan masalah biologis yang rumit.
Dalam cerita, Ryland Grace terbangun sendirian di pesawat Hail Mary setelah mengalami amnesia. Ia harus memahami misi yang membawanya jauh dari Bumi, sementara ancaman terhadap Matahari menempatkan umat manusia dalam bahaya besar.
Film ini memakai bahasa sains untuk membangun ketegangan. Itu yang membuatnya terasa lebih realistis daripada banyak film fiksi ilmiah lain, meski tidak semua elemen di dalamnya bisa diwujudkan saat ini.
1. Astrophage: ide paling fiksi, tapi paling memikat
Astrophage adalah organisme mikro yang bisa berkembang biak cepat dan menyerap energi bintang. Di dalam cerita, makhluk ini menjadi ancaman bagi Matahari sekaligus sumber daya yang sangat berharga.
Secara ilmiah, konsep itu belum memiliki bukti. Hingga sekarang, belum ada mikroorganisme luar angkasa yang terbukti punya perilaku seperti astrophage, apalagi yang bisa “memakan” bintang.
Namun, sains modern memang terbuka terhadap kemungkinan bentuk kehidupan asing yang berbeda dari kehidupan di Bumi. Perdebatan soal eksperimen Viking NASA di Mars sering dijadikan contoh, karena para ilmuwan mengingatkan bahwa kehidupan asing mungkin tidak berbasis air seperti kehidupan di Bumi.
Artinya, ide dasar tentang kehidupan non-Bumi tidak sepenuhnya mengada-ada. Yang belum nyata adalah kemampuan organisme semacam itu untuk tumbuh cepat, menyerap energi bintang, dan dipakai sebagai solusi energi skala besar.
2. Energi alternatif: dari yang masuk akal sampai yang masih jauh
Project Hail Mary menggambarkan astrophage bukan hanya sebagai ancaman, tetapi juga sebagai bahan bakar. Pada titik ini, film memakai ide yang dekat dengan dunia nyata, yaitu pencarian sumber energi alternatif yang lebih efisien dan lebih bersih.
Di dunia nyata, riset energi terus bergerak ke banyak arah. Hidrogen menjadi salah satu kandidat penting, sementara berbagai laboratorium juga mengembangkan propulsi roket yang lebih hemat energi dan rendah emisi.
Para peneliti bahkan mengeksplorasi cara mengubah limbah organik menjadi tenaga. Berikut gambaran sederhananya:
- Hidrogen: menjanjikan sebagai energi bersih, tetapi masih menantang dalam penyimpanan dan distribusi.
- Propulsi roket efisien: terus dikembangkan untuk misi luar angkasa yang lebih hemat.
- Konversi limbah menjadi energi: sudah ada secara riset dan industri, tetapi skalanya belum besar.
- Biomaterial dan mikroba: dipakai dalam berbagai aplikasi teknologi, tetapi belum sampai pada level energi fantastis seperti di film.
Dari sini terlihat bahwa film memakai logika yang tidak asing bagi sains modern. Bedanya, skala dan efisiensi yang ditawarkan Project Hail Mary masih belum dapat dicapai teknologi saat ini.
3. Hibernasi manusia: belum ada, tetapi risetnya nyata
Salah satu elemen paling menonjol dalam film adalah tidur hibernasi atau kondisi serupa yang membuat manusia bisa bertahan dalam perjalanan panjang antarbintang. Gagasan ini memang sering muncul di fiksi ilmiah karena perjalanan luar angkasa jarak jauh butuh solusi untuk mengurangi konsumsi oksigen, makanan, dan ruang hidup.
Di dunia nyata, ilmuwan mempelajari torpor, yaitu kondisi metabolik rendah yang bisa menurunkan aktivitas tubuh. Riset ini dipandang menarik karena berpotensi mengurangi dampak mikrogravitasi, menekan kebutuhan logistik, dan membuat misi luar angkasa lebih efisien.
Meski begitu, penerapan penuh pada manusia belum dekat. Tantangan medisnya besar, mulai dari keamanan organ, pemulihan setelah terbangun, hingga etika penggunaan teknologi ini pada astronot.
Sejumlah pakar menilai konsep semacam ini mungkin mendekati tahap praktis dalam beberapa dekade ke depan. Tetapi untuk misi antarbintang seperti di film, sains masih harus melewati jalan yang sangat panjang.
4. Kapal sentrifugal dan gravitasi buatan: paling dekat dengan fisika nyata
Jika ada unsur yang paling mudah diterima secara ilmiah, maka itu adalah gravitasi buatan lewat rotasi. Dalam fisika, putaran dapat menghasilkan gaya semu yang meniru gravitasi, sehingga tubuh awak kapal tidak terus-menerus berada dalam kondisi tanpa bobot.
Konsep ini tidak hanya muncul di film. Berbagai studi antariksa memang membahas desain pesawat atau habitat rotasi untuk misi jangka panjang.
Beberapa perusahaan juga bereksperimen dengan sistem sentrifugal untuk kebutuhan peluncuran muatan. SpinLaunch, misalnya, pernah menjadi sorotan karena menguji pendekatan peluncuran berbasis putaran, meski konteksnya berbeda dari kapal antarbintang.
Tantangan utamanya tetap sama, yaitu skala rekayasa, biaya, dan keselamatan. Jadi, gagasannya sahih secara fisika, tetapi menerapkannya pada kapal sebesar Hail Mary masih menjadi pekerjaan besar.
5. Kehidupan alien cerdas: belum terbukti, tapi belum gugur
Project Hail Mary juga menampilkan kemungkinan adanya kehidupan alien yang berakal. Sampai hari ini, ilmuwan belum punya bukti langsung bahwa makhluk cerdas ada di luar Bumi.
Meski begitu, pencarian tetap berlangsung. Teleskop modern, misi antariksa, dan pemantauan planet di luar Tata Surya terus dipakai untuk mencari biosignature dan technosignature.
Dengan kata lain, sains belum dapat memastikan keberadaan peradaban lain, tetapi peluang itu juga belum tertutup. Dalam konteks film, ini membuat narasi terasa lebih relevan karena berdiri di antara pengetahuan yang belum lengkap dan kemungkinan yang masih terbuka.
Seberapa realistis film ini dibanding fiksi ilmiah lain
Jika dinilai secara umum, Project Hail Mary termasuk fiksi ilmiah yang cukup disiplin terhadap sains. Film ini tidak sekadar memakai latar luar angkasa sebagai hiasan, tetapi membangun konflik dari persoalan fisika, biologi, dan teknik yang nyata.
Beberapa elemennya berada pada tingkat realistis yang tinggi, seperti gravitasi buatan dan gagasan torpor. Namun biomikroba pemakan bintang, energi superefisien dari organisme asing, dan kontak dengan alien cerdas masih belum punya dasar empirik yang kuat.
Perbandingan sederhananya bisa dilihat seperti ini:
- Paling realistis: gravitasi buatan dengan rotasi.
- Cukup realistis secara konsep: hibernasi atau torpor manusia.
- Masih eksperimental: energi alternatif berbasis bioteknologi dan limbah.
- Paling spekulatif: astrophage dan kehidupan alien cerdas.
Kombinasi itulah yang membuat Project Hail Mary menarik untuk dibahas. Film ini tidak meminta penonton percaya begitu saja, tetapi mengajak mereka membayangkan sejauh mana sains bisa berkembang bila batas teknologi suatu hari bergeser lebih jauh dari keadaan sekarang.
Pada akhirnya, daya tarik Project Hail Mary justru lahir dari ketegangan antara sains yang sudah dikenal dan imajinasi yang masih mustahil diuji. Selama itu terjadi, film ini tetap berada di wilayah fiksi ilmiah yang terasa dekat dengan dunia nyata, meski sejumlah ide utamanya masih menunggu pembuktian ilmiah yang sesungguhnya.
Baca selengkapnya di: www.beritasatu.com