Kilatan Lampung Ternyata Sisa Roket China, Jatuh Di Selatan Selat Bali

Author: Qoo Media

Kilatan cahaya yang terlihat warga Lampung pada Sabtu malam, 4 April 2026, memicu dugaan kuat bahwa objek itu bukan meteor biasa. Pengamat antariksa menyebut fenomena tersebut sangat mungkin berasal dari sampah antariksa yang masuk kembali ke atmosfer Bumi.

Penjelasan awal itu mengarah pada potongan roket Long March-3B/E milik China yang melintas di langit Indonesia sebelum akhirnya jatuh ke wilayah perairan selatan Selat Bali. Rekaman observatorium dan analisis lintasan menunjukkan objek itu bergerak sangat terang, lalu memudar saat semakin rendah di atmosfer.

Apa yang sebenarnya terlihat di langit Lampung

Fenomena ini menarik perhatian karena bentuk dan arah geraknya berbeda dari meteor alami. Marufin Sudibyo menjelaskan bahwa sampah antariksa yang mengalami re-entry biasanya masuk dengan sudut sangat landai, sehingga lintasannya tampak panjang dan bertahan lebih lama di langit.

“Proses masuk-kembali (re-entry) sampah antariksa adalah proses yang khas karena lintasannya sangat landai. Yakni membentuk sudut hanya sekitar 10 derajat terhadap bidang datar pada titik masuk ke atmosfer,” kata Marufin dalam keterangan yang dikutip Beritasatu.com, Minggu, 12 April 2026.

Ia membandingkannya dengan meteor yang umumnya turun lebih curam. Menurut dia, meteor biasanya melintasi atmosfer dengan sudut sekitar 45 derajat, sehingga tampilan cahayanya lebih singkat dan berbeda dari objek antariksa buatan manusia.

Jejak lintasan yang terpantau

Observatorium Astronomi Itera Lampung mencatat objek itu diduga sebagai bagian roket Long March-3B/E. Objek tersebut masuk atmosfer di atas Lampung Tengah pada ketinggian sekitar 120 kilometer di atas permukaan laut.

Setelah itu, benda itu bergerak ke arah tenggara sambil terus turun. Dari sejumlah titik pengamatan, objek tampak seperti bola api terang yang melintas dari Lampung hingga wilayah utara Jakarta sebelum cahayanya melemah.

Dalam pemantauan lanjutan, sisa material yang sudah tidak lagi memancarkan cahaya masih bergerak ke tenggara. Jejaknya terdeteksi melintasi Cirebon pada ketinggian sekitar 55 kilometer dan Ponorogo pada ketinggian sekitar 14 kilometer.

Lokasi jatuh yang diduga

Dari hasil analisis lintasan, sisa sampah antariksa itu diperkirakan jatuh di laut. Titik yang disebut berada di Samudera Hindia, sekitar 100 kilometer di selatan Semenanjung Blambangan, Banyuwangi, atau di selatan Selat Bali.

Perkiraan itu penting karena membantu membedakan antara fenomena langit yang berbahaya dan yang hanya tampak dramatis dari permukaan. Meski demikian, lokasi jatuh persis dan jumlah material yang benar-benar mencapai permukaan Bumi masih sulit dipastikan.

Mengapa objek seperti ini bisa terlihat sangat terang

Saat benda antariksa buatan manusia masuk atmosfer, gesekan udara dan tekanan panas meningkat tajam. Kondisi itu memicu pijaran terang yang sering terlihat seperti meteor, meski sumbernya berbeda.

Marufin menjelaskan bahwa tidak semua bagian dari benda itu akan terbakar habis. Komponen yang tahan panas dan tekanan, seperti mesin roket dan tangki bahan bakar, berpeluang bertahan hingga tahap akhir re-entry.

Berikut komponen yang paling mungkin tersisa setelah re-entry:

  1. Bagian mesin roket.
  2. Tangki bahan bakar.
  3. Material logam berdaya tahan tinggi.
  4. Struktur yang tidak mudah meleleh pada suhu ekstrem.

Mengapa warga sempat mengira meteor

Warna terang, lintasan mendatar, dan durasi cahaya yang cukup panjang membuat banyak warga mengasosiasikannya dengan meteor. Namun, pola geraknya justru lebih cocok dengan benda buatan manusia yang kembali ke atmosfer.

Perbedaan ini menjadi penting karena Indonesia berada di wilayah yang kerap dilewati lintasan satelit atau puing antariksa. Oleh sebab itu, tidak semua cahaya terang di langit otomatis berasal dari benda langit alami.

Fenomena di Lampung juga menunjukkan perlunya pemantauan lebih luas terhadap sampah antariksa yang masih mengorbit Bumi. Objek-objek seperti ini dapat jatuh ke laut, tetapi dalam kondisi tertentu juga bisa melintasi wilayah padat penduduk sebelum akhirnya hancur atau mendarat di permukaan.

Baca selengkapnya di: www.beritasatu.com
Terbaru