Holyvolt Dan Wildcat, Senjata Baru Untuk Merebut Kepemimpinan Baterai Barat

Holyvolt dan Wildcat Bisa Jadi Jalan Barat Merebut Lagi Kepemimpinan Baterai

Dominasi China di pasar baterai global masih sangat besar, dengan lebih dari 80% produksi dunia pada 2025. Di tengah tekanan geopolitik, kebutuhan lokalisasi rantai pasok, dan lonjakan permintaan dari kendaraan listrik hingga pusat data AI, kombinasi Holyvolt dan Wildcat mulai dipandang sebagai salah satu upaya paling serius untuk menutup jarak itu.

Akuisisi Wildcat Discovery Technologies oleh Holyvolt senilai $73 juta menarik perhatian karena menyatukan dua pendekatan yang saling melengkapi. Holyvolt membawa teknologi baterai solid-state berbasis screen printing, sementara Wildcat menyumbang platform riset berkecepatan tinggi yang mampu mempercepat eksperimen material baterai secara signifikan.

Mengapa Wildcat Penting untuk Holyvolt

Holyvolt dipimpin Mathias Ingvarsson, sosok yang datang dari luar industri baterai. Latar belakangnya mencakup bisnis foam mattress di Tempur-Pedic dan pengembangan teknologi pemanas untuk kacamata serta sepatu ski, namun pergeserannya ke kimia baterai menemukan titik temu dengan keahlian Wildcat.

Ingvarsson menyebut Wildcat sebagai yang terbaik di dunia dalam kimia baterai, terutama karena kecepatan pengembangan yang mereka tawarkan. Ia mengatakan kebutuhan proses berbasis air yang diperkirakan butuh hingga tiga tahun bisa diselesaikan Wildcat hanya dalam tiga bulan.

Platform riset cepat yang mengubah ritme inovasi

Mark Gresser, CEO Wildcat Discovery Technologies, menjelaskan bahwa perusahaan itu dibangun atas konsep combinatorial chemistry dan automated experimentation. Perusahaan ini bisa menjalankan ratusan hingga ribuan eksperimen sekaligus dengan kombinasi material berbeda, sehingga proses seleksi kandidat baterai jauh lebih cepat dibanding metode konvensional.

Pendekatan itu penting karena baterai bukan sekadar satu jenis bahan. Ada anoda, katoda, elektrolit, slurry, proses pelapisan, laminasi, hingga uji siklus yang semuanya memengaruhi performa akhir.

  1. Eksperimen dilakukan dalam jumlah besar untuk mempercepat penyaringan kandidat.
  2. Hasil yang gagal tetap bernilai karena memperkaya basis data.
  3. Data historis itu kemudian dipakai untuk melatih model AI.
  4. Siklus uji berikutnya menjadi lebih efisien dan lebih terarah.

Wildcat mengklaim sudah menyelesaikan setidaknya 600.000 eksperimen selama 18 tahun, dengan data yang sangat terstandarisasi. Gresser menyebut, penggunaan data tersebut dapat membuat proses penemuan material baterai menjadi 10 hingga 15 kali lebih cepat, dan pada tahap tertentu bahkan berpotensi 100 kali lebih cepat saat digabungkan dengan AI.

DRX dan ambisi baterai yang lebih bersih

Teknologi awal yang diperoleh Holyvolt dari akuisisi ini adalah DRX, yakni cathode berbasis disordered rock salt. Material ini dirancang tanpa nikel dan kobalt, dua elemen yang sering dikritik karena jejak karbon dan persoalan geopolitik dalam rantai pasoknya.

Gresser menegaskan bahwa solusi ini bisa menjawab dua masalah sekaligus, yaitu emisi CO2 dari proses nikel dan isu etika pada penambangan kobalt. Holyvolt juga menggunakan proses screen printing yang tidak bergantung pada pelarut seperti pada slot-die coating tradisional, sehingga produksi bisa dibuat lebih efisien.

Ingvarsson menyebut penggabungan teknologi Holyvolt dan DRX mampu memangkas energi produksi hingga dua pertiga. Dalam konteks industri baterai, angka ini menjadi menarik karena efisiensi manufaktur sering menentukan apakah teknologi baru layak masuk pasar massal.

Posisi pasar yang dibidik: dari EV sampai grid

Wildcat dan Holyvolt tidak hanya menargetkan kendaraan listrik. Keduanya juga melihat peluang di pusat data AI dan jaringan listrik, dua sektor yang sama-sama membutuhkan penyimpanan energi dalam skala besar dan stabilitas tinggi.

Gresser mengatakan standar otomotif tetap menjadi tolok ukur tersulit karena baterai harus mampu melewati setidaknya 1.000 siklus hidup. Namun DRX disebut sudah mencapai lebih dari 600 siklus pada full multilayer pouch cells, dengan densitas energi sekitar 25% lebih tinggi dibanding produk high-nickel terbaik di pasar.

Perbandingan arah teknologi baterai

Arah teknologiKelebihan utamaTantangan utama
LFPAman, biaya relatif rendah, sudah luas dipakaiKepadatan energi masih dianggap kurang
High nickelDensitas energi tinggiBergantung pada nikel dan rantai pasok yang sensitif
DRX Holyvolt-WildcatTanpa nikel dan kobalt, aman, berpotensi lebih hemat energi saat produksiMasih perlu pembuktian skala industri
Solid-state/smi-solid-stateDianggap masa depan bateraiBelum merata dalam komersialisasi

Menurut Gresser, DRX berpeluang menjadi alternatif yang bisa menyamai siklus hidup dan keamanan LFP, tetapi tetap menawarkan energi lebih tinggi. Ia juga menilai peluang komersial lebih cepat terbuka untuk aplikasi seperti drone, pertahanan, dan produk konsumen sebelum masuk penuh ke pasar otomotif.

Peluang Barat untuk mengejar ketertinggalan

Daya saing Barat dalam baterai sering terkendala skala, biaya, dan lambatnya riset material. Namun model Wildcat menawarkan jalan berbeda, karena pengembangan bisa dipercepat tanpa harus menambah ribuan sumber daya manusia atau membangun proses tradisional yang mahal.

Gresser menilai platform seperti Wildcat memungkinkan Barat bersaing “pada pijakan yang setara” selama teknologi baru benar-benar masuk ke pasar. Di saat China terus mendorong kimia baterai baru seperti sodium-ion, langkah Holyvolt dan Wildcat menunjukkan bahwa kompetisi tidak hanya soal kapasitas produksi, tetapi juga tentang kecepatan menemukan material yang lebih aman, lebih murah, dan lebih lokal untuk diproduksi.

Terkait