Green Avadavat Kian Terdesak, Burung Hijau Berparuh Merah Ini Jadi Sasaran Perdagangan Ilegal

Green Avadavat atau Amandava formosa adalah burung pengicau kecil asal India yang kini makin sulit dijumpai di alam liar. Spesies dari keluarga Estrildidae ini dikenal lewat bulu hijau zaitun, garis hitam di area pinggul, dan paruh merah mencolok yang membuatnya mudah dibedakan dari burung finch lain.

Burung ini hidup tersembunyi di balik vegetasi rapat dan lebih sering bergerak di tanah terbuka dalam kelompok kecil. Karena sifatnya yang pemalu, banyak pengamat burung hanya bisa menemukannya di wilayah tertentu yang masih memiliki habitat alami yang baik.

Ciri fisik yang paling mudah dikenali

Green Avadavat punya tampilan yang unik dan sangat fotogenik. Pada burung muda, paruhnya cenderung berwarna gelap, lalu berubah menjadi merah pekat saat memasuki fase dewasa, sehingga warna paruh kerap dianggap sebagai penanda kematangan reproduksi.

Paruh merah itu bukan sekadar hiasan visual. Bentuknya kuat dan tajam, sehingga membantu burung ini memecah biji-bijian kecil, terutama biji rumput yang menjadi makanan utamanya di alam.

Habitat yang semakin menyempit

Salah satu lokasi pengamatan paling dikenal untuk spesies ini berada di Mount Abu, di kawasan Pegunungan Aravalli. Laporan dari Nature in Focus menyebut burung ini sering terlihat mencari makan di tanah dekat area pertanian atau bertengger pada dahan di sekitar batu besar.

Kawasan itu memiliki kombinasi hutan berduri di kaki bukit dan hutan bambu di lembah. Variasi habitat ini penting karena Green Avadavat bergantung pada ruang terbuka untuk mencari makan dan vegetasi rapat untuk berlindung dari predator.

Fakta penting tentang Green Avadavat

  1. Spesies ini berasal dari daratan India dan termasuk burung pengicau kecil.
  2. Bulunya didominasi warna hijau zaitun dengan aksen hitam yang khas.
  3. Paruh merah cerah muncul saat burung mencapai kedewasaan fisik.
  4. Green Avadavat sering hidup dalam kelompok kecil dan bersifat komunal.
  5. Populasinya menurun akibat hilangnya habitat dan perdagangan liar.

Burung ini tidak hidup menyendiri. Mereka kerap mencari makan bersama dengan finch lain seperti Indian Silverbill dan Scaly-breasted Munia, lalu bergerak di tanah terbuka dalam kawanan kecil.

Perilaku sosial yang membantu bertahan hidup

Sifat komunal menjadi strategi penting bagi Green Avadavat. Dengan bergerak berkelompok, burung ini bisa lebih cepat menemukan biji-bijian dan tetap waspada terhadap ancaman predator di ruang terbuka.

Sebarannya juga tidak merata. Populasi burung ini tercatat terpecah di India Tengah hingga Ghats Timur, sehingga setiap kantong habitat yang tersisa memegang peran besar bagi kelangsungan hidup spesies ini.

Ancaman utama dari perdagangan dan kerusakan habitat

Green Avadavat sudah lama menjadi target perdagangan burung liar. Mengutip DataZone by BirdLife, praktik penangkapan ilegal telah berlangsung sejak akhir abad ke-19 dan hingga kini masih mendorong perdagangan di pasar gelap domestik India.

Selain perburuan, habitatnya terus tergerus oleh pembukaan lahan pertanian, penggunaan pestisida, dan kebakaran hutan yang lebih sering terjadi di area padang rumput. Tekanan ini membuat sumber pakan alami menipis dan tempat berlindung mereka semakin berkurang.

Data singkat Green Avadavat

AspekInformasi
Nama ilmiahAmandava formosa
KeluargaEstrildidae
AsalIndia
Makanan utamaBiji-bijian kecil, terutama biji rumput
PerilakuKomunal, hidup dalam kelompok kecil
AncamanPerdagangan ilegal, hilangnya habitat, pestisida, kebakaran

Di penangkaran, burung ini dapat bertahan hidup sekitar 5 hingga 10 tahun bila mendapat perawatan dan nutrisi memadai, menurut My Bird Buddy. Namun di alam liar, peluang hidupnya jauh lebih berat karena predator, perubahan lingkungan, dan menyusutnya vegetasi pelindung terus menekan populasi yang tersisa.

Source: www.idntimes.com
Terkait