Spanyol menjadi tim dengan peluang terbesar mengangkat trofi Piala Dunia 2026 dalam simulasi berbasis AI yang dijalankan hingga 50.000 kali. Dalam proyeksi tersebut, Argentina berada tepat di belakang La Furia Roja, sedangkan Prancis menempati kelompok pengejar dengan jarak yang lebih lebar.
Skenario final yang paling sering muncul juga mempertemukan Spanyol dengan Argentina. Meski demikian, hasil ini adalah proyeksi statistik dan bukan kepastian hasil pertandingan di lapangan.
Spanyol Unggul dalam Ribuan Skenario
Model yang dikembangkan senior iOS engineer dan penggemar teknologi Divyesh Vekariya menempatkan Spanyol sebagai juara pada sekitar satu dari setiap 3,4 turnamen simulasi. Argentina menjadi kandidat berikutnya, lalu diikuti Prancis, Inggris, Portugal, dan Jerman yang saling berdekatan dalam kelompok pesaing.
Vekariya menulis di Medium bahwa sistem tersebut dirancang agar dapat diperbarui mengikuti perkembangan data pertandingan. Model itu digunakan untuk menyusun peringkat 48 tim, memproyeksikan fase grup, hingga mensimulasikan babak gugur 32 tim.
Menurut perhitungannya, final Spanyol melawan Argentina muncul dalam sekitar satu dari setiap 11 simulasi. Pertemuan itu menjadi pasangan partai puncak yang paling sering terbentuk dari gabungan 50.000 turnamen virtual.
| Aspek Simulasi | Hasil Utama | Keterangan |
|---|---|---|
| Jumlah simulasi | 50.000 turnamen | Mencakup fase grup dan babak gugur |
| Kandidat juara teratas | Spanyol | Menang sekitar 1 dari 3,4 simulasi |
| Final paling sering | Spanyol vs Argentina | Muncul sekitar 1 dari 11 simulasi |
Data Pertandingan Sejak 1872
Basis penghitungan model ini mencakup lebih dari 49.000 pertandingan internasional resmi sepak bola putra sejak 1872. Data tersebut meliputi Piala Dunia, laga kualifikasi, kejuaraan kontinental, serta pertandingan persahabatan.
Setiap laga kemudian memengaruhi peringkat tim berdasarkan tingkat kejutan hasil, selisih gol, dan bobot pentingnya pertandingan. Pertandingan Piala Dunia diberi pengaruh lebih besar dibanding pertandingan persahabatan biasa.
Claude digunakan untuk membangun alur data, menyesuaikan model, menjalankan simulasi, dan membuat grafik hasil. Vekariya menjelaskan bahwa perannya adalah menentukan apa yang dibangun, mengecek kinerja model di setiap tahap, serta menilai kapan sebuah jawaban cukup layak dipercaya.
Elo dan Poisson Diuji ke Tiga Piala Dunia
Sebelum dipakai untuk proyeksi Piala Dunia 2026, alur kerja Elo dan model Poisson itu diuji memakai kondisi data sehari sebelum turnamen 2014, 2018, dan 2022 dimulai. Pengujian dilakukan tanpa memakai informasi yang baru tersedia setelah pertandingan berlangsung.
| Piala Dunia | Prediksi Hasil Tepat | Catatan |
|---|---|---|
| 2014 | 62,5% | Menang, seri, atau kalah |
| 2018 | 54,7% | Menang, seri, atau kalah |
| 2022 | 46,9% | Menang, seri, atau kalah |
Secara total, model tersebut menebak 105 hasil dengan benar dari 192 pertandingan fase grup dan gugur pada tiga edisi itu. Tingkat ketepatannya secara keseluruhan berada di kisaran 55%.
Spanyol dan Argentina terlihat berada di atas rata-rata dalam hasil pemeringkatan awal model. Prancis, Inggris, dan Portugal masuk lapisan berikutnya, sementara Jerman dipandang sangat berpeluang melewati fase grup tetapi peluangnya turun tajam setelah babak 16 besar.
Vekariya menilai penurunan peluang Jerman tersebut lebih mencerminkan potensi jalur pertandingan yang berat ketimbang kualitas tim yang rendah. Di sisi lain, Argentina dan Prancis dinilai tampil relatif lebih kuat pada fase tengah turnamen daripada pada proyeksi babak puncak.
Model AI itu tampak memberi bobot besar pada kedalaman skuad dan konsistensi hasil, bukan hanya kekuatan pemain bintang. Namun, Vekariya juga mengingatkan bahwa favorit pra-turnamen tidak selalu menjadi juara, karena tiga favorit teratas pada tiga Piala Dunia terakhir tidak semuanya berhasil membawa pulang trofi.







