Pabrik Bir Ini Menyalakan Operasinya Dari Limbah Sendiri, Teknologi Bakteri Yang Mengubah Sampah Jadi Energi

Author: Qoo Media

Hepworth Brewery di Inggris menunjukkan bahwa limbah produksi bir tidak selalu berakhir sebagai biaya tambahan. Pabrik bir yang berlokasi di wilayah pedesaan, sekitar dua jam lebih perjalanan ke selatan London, kini memanfaatkan sisa produksinya untuk membantu memenuhi kebutuhan energinya sendiri.

Langkah ini menarik perhatian karena menyatukan dua hal yang jarang bertemu secara utuh di industri minuman: efisiensi operasional dan pengurangan dampak lingkungan. Di tengah tekanan biaya energi dan tuntutan keberlanjutan, model seperti ini mulai dilihat sebagai pendekatan yang lebih masuk akal bagi produsen kecil maupun menengah.

Dibangun ulang dengan prinsip hijau

Hepworth Brewery memang bukan pemain baru. Usaha ini berusia 25 tahun, tetapi fasilitasnya dibangun ulang total sekitar 10 tahun lalu agar bisa memasukkan teknologi ramah lingkungan sejak awal desain.

Andy Hepworth, pendiri sekaligus managing director, mengatakan renovasi besar itu memberi ruang untuk merancang sistem yang lebih hemat energi. Ia memasang panel surya, dinding dan pipa berinsulasi lebih baik, pompa panas, sistem penangkap karbon dioksida, serta dukungan untuk kendaraan listrik dan pencahayaan efisien.

Hepworth menyebut, “Apa yang tidak mampu kami beli, kami sediakan ruangnya,” sebagai cara untuk tetap membuka peluang adopsi teknologi baru di masa depan. Ia juga menilai investasi hijau bisa kembali dalam tiga hingga lima tahun, setidaknya menurut hitungan bisnis internal perusahaan swasta seperti miliknya.

Berani mencoba hal yang sulit

Hepworth Brewery dikenal tidak hanya karena produknya, tetapi juga karena sikapnya yang terbuka pada eksperimen. Selain bir tradisional Inggris, pabrik ini memproduksi bir bebas gluten dan bebas alkohol, dua segmen yang terus tumbuh di pasar.

Fokus pada kualitas membuatnya meraih banyak penghargaan, baik untuk bir maupun untuk upaya lingkungannya. Reputasi itu juga membawa peluang bisnis tambahan, karena perusahaan bir lain mempercayakan produksi bir mereka kepada Hepworth melalui kontrak manufaktur.

Di situs resminya, Hepworth termasuk salah satu produsen kecil independen yang memublikasikan laporan keberlanjutan. Sikap transparan ini memperkuat posisinya sebagai bisnis yang tidak hanya menjual produk, tetapi juga menunjukkan cara kerja yang lebih bertanggung jawab.

Bagaimana limbah bir diubah menjadi energi

Setiap pabrik bir menghasilkan limbah organik, mulai dari ampas biji-bijian, hop, hingga ragi. Sebagian bisa dimanfaatkan sebagai pakan ternak atau kompos, tetapi sebagian lain harus diangkut dan dibuang dengan biaya tambahan, terutama jika limbahnya basah, berat, dan mudah membusuk.

Di titik inilah WASE masuk. Startup lingkungan ini mengembangkan reaktor elektro-metanogenik modular yang memanfaatkan bakteri aktif secara listrik untuk mengurai limbah organik menjadi energi.

Thomas Fudge, CEO sekaligus pendiri WASE, menjelaskan bahwa teknologi itu bekerja dengan mengarahkan elektron dari aktivitas bakteri untuk menghasilkan metana. Ia menggambarkan sistem pemantauannya sebagai “Fitbit untuk bakteri”, karena teknologi tersebut memantau area kerja mikroba agar proses tetap efisien.

Apa yang dihasilkan sistem WASE di Hepworth Brewery

  1. Limbah organik diproses lebih cepat dibandingkan digester anaerob konvensional.
  2. Metana yang dihasilkan dapat dipakai untuk mendukung operasional pabrik.
  3. Air hasil proses cukup bersih untuk kebutuhan pembersihan dan kebutuhan internal lain.
  4. Sistem modular memudahkan kapasitas diperbesar sesuai pertumbuhan pabrik.

Hepworth menyebut hasil uji coba unit tersebut sangat menjanjikan. Karena itu, perusahaan kini memesan model komersial skala penuh dari teknologi WASE.

Air hasil olahan masih punya batas sosial

Meskipun air dari sistem itu dinilai cukup bersih bahkan untuk proses pembuatan bir, Hepworth belum menggunakannya langsung untuk memproduksi minuman. Air tersebut baru dipakai untuk pembersihan dan kebutuhan operasional lain.

Alasannya bukan pada aspek teknis semata, melainkan juga persepsi konsumen. Masih ada resistensi terhadap penggunaan air daur ulang untuk konsumsi, meski sejumlah pabrik bir lain sudah pernah membuat bir dari air limbah yang diolah kembali.

Kasus Hepworth Brewery menunjukkan bahwa inovasi keberlanjutan di industri makanan dan minuman tidak harus dimulai dari proyek besar yang rumit. Dengan desain fasilitas yang tepat, kemitraan teknologi yang pas, dan kesediaan untuk bereksperimen, limbah produksi bisa berubah menjadi sumber daya yang memberi nilai tambah bagi bisnis dan lingkungan.

Terbaru