Fosil kupu-kupu berusia sekitar 34 juta tahun yang ditemukan di selatan Prancis membuka babak baru dalam studi evolusi serangga. Spesimen itu terawetkan dengan sangat baik, sehingga peneliti masih bisa melihat pola sayap dan bagian tubuh yang jarang tersisa dalam fosil serangga.
Temuan ini juga penting karena fosil tersebut kemudian diidentifikasi sebagai spesies baru bernama Apaturoides monikae. Para ilmuwan menilai penemuan ini dapat membantu menjawab pertanyaan lama tentang kapan kelompok kupu-kupu modern mulai muncul dan berkembang.
Fosil yang Sulit Terawetkan
Fosil kupu-kupu tergolong sangat langka karena tubuhnya tipis dan rapuh. Sayapnya yang ringan membuat peluang untuk membatu jauh lebih kecil dibandingkan hewan lain yang bertubuh keras.
Itulah sebabnya penemuan dari Prancis ini langsung menarik perhatian ilmuwan. Kondisinya disebut hampir utuh, dengan detail yang masih jelas terlihat meski usianya puluhan juta tahun.
Ditemukan di Cereste dan Lama Tersimpan
Fosil itu pertama kali ditemukan pada 1979 di Cereste, kawasan di selatan Prancis. Saat itu, spesimen tersebut hanya disimpan dalam koleksi ilmiah tanpa kajian mendalam.
Baru bertahun-tahun kemudian, tim peneliti dari Amerika Serikat, Swedia, dan Jerman menelitinya ulang dengan teknik modern. Analisis terbaru menunjukkan bahwa fosil ini bukan sekadar serangga purba biasa, melainkan spesies dan genus yang sebelumnya belum dikenal.
Identitas Spesies Baru
Hasil studi memberi nama Apaturoides monikae untuk fosil tersebut. Spesies ini diperkirakan hidup pada rentang 34 hingga 28 juta tahun lalu, ketika wilayah Eropa modern masih memiliki lanskap yang berbeda jauh dari sekarang.
Berikut fakta penting dari temuan itu:
- Fosil ditemukan di endapan batuan zaman Oligosen awal.
- Hampir seluruh sayap kanan masih terawetkan.
- Sebagian besar sayap kiri juga masih terlihat.
- Pola venasi sayap dapat diamati dengan jelas.
- Bagian tubuh seperti kepala, dada, dan sebagian perut ikut tersisa.
Kondisi ini memberi peluang besar bagi peneliti untuk memetakan anatomi kupu-kupu purba dengan lebih akurat.
Masuk Kelompok “Emperor”
Studi tersebut menempatkan Apaturoides monikae ke dalam subfamili Apaturinae, kelompok kupu-kupu yang juga dikenal sebagai “emperor”. Menurut para peneliti, ini merupakan fosil pertama yang dapat dikaitkan secara jelas dengan kelompok itu.
Hossein Rajaei dari State Museum of Natural History Stuttgart menyebut fosil ini penting untuk memahami perkembangan awal kupu-kupu modern. Temuan itu, kata dia, dapat menjadi petunjuk tentang bagaimana garis keturunan tertentu muncul dan menyebar lebih awal dari yang diperkirakan.
Dampak pada Teori Evolusi
Selama ini, ilmuwan banyak memakai data molekuler untuk memperkirakan usia kemunculan kelompok kupu-kupu. Fosil Apaturoides monikae memberi bukti fisik yang bisa menguatkan atau mengoreksi hasil perhitungan tersebut.
Peneliti dari Hessian State Museum Darmstadt menyampaikan dua kemungkinan utama. Pertama, garis keturunan Apatura mungkin memang lebih tua dari dugaan sebelumnya.
Kemungkinan kedua, ciri-ciri nenek moyangnya bertahan sangat lama tanpa banyak perubahan berarti. Dua skenario ini sama-sama menunjukkan bahwa sejarah evolusi kupu-kupu belum sesederhana yang selama ini dibayangkan.
Jejak Kupu-Kupu Purba di Rekaman Fosil
Temuan ini juga sejalan dengan penelitian lain yang menunjukkan jejak serangga bersisik pada coprolite atau fosil kotoran. Sisik itu diduga berasal dari kupu-kupu purba dan memberi petunjuk bahwa struktur penghisap nektar sudah ada sejak sangat lama.
Jika temuan-temuan itu digabungkan, gambaran evolusi kupu-kupu menjadi lebih kompleks. Para ilmuwan kini melihat bahwa perjalanan kelompok ini kemungkinan berlangsung lebih panjang, lebih tua, dan lebih beragam daripada perkiraan sebelumnya.
Source: www.suara.com






