3.100 Gletser Ekstrem Terpetakan, Ancaman Banjir Bandang Super Mengintai Lembah Penduduk

Di tengah banyak gletser dunia yang terus menyusut akibat pemanasan global, para ilmuwan justru menemukan kelompok gletser langka yang bergerak dengan cara ekstrem. Kelompok ini disebut surging glaciers atau gletser melonjak, dan perilakunya dapat memicu banjir bandang super, longsoran es, serta ancaman lain bagi permukiman di bawahnya.

Studi besar yang dipimpin tim internasional dari Universitas Portsmouth memetakan lebih dari 3.100 gletser jenis ini di seluruh dunia. Jumlah itu hanya sekitar 1 persen dari total gletser bumi, tetapi kawasan yang mereka kuasai mencapai hampir 20 persen dari luas wilayah gletser global.

Mengapa gletser ini dianggap berbahaya

Peneliti menggambarkan gletser melonjak seperti rekening tabungan yang terus menumpuk selama bertahun-tahun. Lalu, dalam satu fase tertentu, massa es itu bergerak maju sangat cepat dan melepaskan tekanan yang selama ini tersimpan.

Dr Harold Lovell, pakar glasiologi yang memimpin penelitian, menjelaskan bahwa pola ini dapat berdampak langsung pada ribuan orang yang tinggal di lembah-lembah di bawah jalur gletser. Saat gletser melaju tiba-tiba, ancamannya bukan hanya es yang bergerak, tetapi juga rangkaian bencana susulan yang menyertainya.

Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Nature Reviews Earth and Environment itu menyebut ada enam bahaya utama dari lonjakan gletser. Bahaya tersebut mencakup timbunan es yang dapat menutup bangunan, jalan, dan lahan pertanian, serta aliran sungai yang tertahan dan membentuk danau tidak stabil.

Risiko banjir bandang dan longsoran susulan

Danau yang terbentuk di depan atau di sekitar gletser bisa pecah sewaktu-waktu. Jika itu terjadi, airnya dapat mengalir deras ke bawah dan memicu banjir bandang yang menghancurkan wilayah permukiman di sepanjang aliran sungai.

Bahaya lain muncul ketika air lelehan dilepaskan secara mendadak dari bawah gletser. Kondisi ini bisa memicu runtuhnya bongkahan es besar, lalu menimbulkan longsoran salju dan batu yang memperbesar kerusakan di area sekitar.

Retakan dalam atau crevasses juga menjadi ancaman tambahan. Celah es ini berbahaya bagi jalur pendakian dan aktivitas pariwisata, terutama di kawasan pegunungan yang selama ini menjadi tujuan wisata alam.

Untuk gletser yang berbatasan dengan laut, lonjakan juga dapat menghasilkan bongkahan gunung es dalam jumlah besar. Kehadiran icebergs ini membahayakan jalur pelayaran kapal dan menambah kompleksitas risiko di wilayah pesisir.

Wilayah paling rawan

Dari ribuan gletser yang dipetakan, para ilmuwan mengidentifikasi 81 gletser yang dinilai paling berbahaya bagi manusia. Sebagian besar berada di Pegunungan Karakoram, Asia Tengah, dan banyak di antaranya terletak dekat permukiman serta infrastruktur penting.

Konsentrasi gletser berbahaya juga banyak ditemukan di wilayah Arktik, Asia Tengah yang didominasi pegunungan tinggi, serta pegunungan Andes. Lokasi-lokasi itu menjadi sorotan karena aktivitas manusia sering berkembang tepat di bawah jalur potensial bencana.

Gletser-gletser yang paling mengkhawatirkan umumnya berukuran besar dan memiliki siklus lonjakan berulang. Pola ini membuat wilayah sekitar harus bersiap menghadapi risiko yang bisa datang lagi setelah periode tenang yang panjang.

Perubahan iklim membuat prediksi makin sulit

Salah satu temuan penting studi ini adalah perubahan iklim membuat perilaku gletser melonjak semakin sulit dibaca. Suhu yang lebih hangat dan cuaca ekstrem dapat memicu lonjakan lebih awal dari siklus alaminya.

Cuaca seperti curah hujan yang tidak biasa atau musim panas yang sangat menyengat disebut dapat mempercepat perubahan itu. Akibatnya, otoritas setempat menghadapi tantangan lebih besar untuk melindungi komunitas yang tinggal di zona rawan.

Para peneliti menilai pemantauan satelit dan observasi lapangan perlu diperkuat. Dengan pengawasan yang lebih intensif, pola perilaku gletser melonjak bisa dipahami lebih baik dan sistem peringatan dini dapat dikembangkan secara lebih akurat.

Langkah itu menjadi penting karena ancaman dari gletser ekstrem tidak hanya datang dari pergerakan es itu sendiri, tetapi juga dari rangkaian dampak turunan yang bisa menjalar ke lembah, sungai, jalur pendakian, hingga jalur pelayaran di wilayah tertentu.

Source: www.beritasatu.com

Berita Terkait

Back to top button