Astronaut di ruang angkasa tidak bisa pergi ke toilet seperti di Bumi. Dalam kondisi gravitasi rendah, proses buang air menjadi tantangan teknis yang harus diatasi dengan sistem khusus agar limbah tidak melayang bebas di dalam kapsul.
Pertanyaan tentang cara astronaut buang air sering muncul karena misi antariksa berlangsung lama dan melibatkan banyak aktivitas di ruang sempit. Pada misi Artemis II, empat astronaut Reid Wiseman, Victor Glover, Jeremy Hansen, dan Christina Koch menghabiskan 10 hari di luar Bumi, sehingga kebutuhan dasar seperti toilet menjadi bagian penting dari misi.
Dari kantong plastik ke sistem toilet khusus
Pada misi awal seperti Mercury, Gemini, dan Apollo, pesawat antariksa belum memiliki toilet. Astronaut saat itu memakai kantong plastik yang ditempelkan ke tubuh untuk menampung limbah, lalu kantong ditutup dan diremas dengan bahan kimia untuk membunuh bakteri.
Metode itu jelas jauh dari ideal karena sulit dipakai dan berisiko menimbulkan masalah kebersihan. Dalam misi Apollo 10, salah satu astronaut bahkan tercatat berkata, “Give me a napkin quick, there’s a turd floating through the air,” yang menunjukkan betapa rumitnya pengelolaan limbah di ruang angkasa saat itu.
Toilet di Artemis Orion
Artemis II menjadi pengecualian karena kapsul Artemis Orion membawa toilet yang dirancang khusus dalam Universal Waste Management System. Toilet itu ditempatkan di bawah lantai kapsul dan dibuat agar bisa dipakai dalam kondisi tanpa orientasi gravitasi yang jelas.
Christina Koch menjelaskan bahwa saat berada di dalam toilet itu, astronaut tidak bisa langsung mengetahui apakah dirinya berada di lantai, langit-langit, atau dinding. Karena itu, ruang toilet dilengkapi handhold di sisi-sisinya agar tubuh tetap stabil, dan kadang juga digunakan tether untuk membantu posisi astronaut tetap aman.
Cara kerja sistem pembuangan
Berdasarkan penjelasan dalam referensi, toilet itu memakai aliran udara untuk mengalihkan urine melalui selang. Untuk limbah padat, kursi khusus dengan daya hisap kuat menarik material ke dalam wadah yang kemudian disegel.
Dinding toilet juga dibuat sangat kedap untuk meredam suara pipa yang sangat bising. Ini penting karena suara dari sistem pembuangan bisa mengganggu kenyamanan astronaut di dalam kabin yang sempit.
Jika toilet utama bermasalah
Selama penerbangan Artemis II, NASA sempat melaporkan bahwa toilet utama di Artemis Orion mengalami gangguan. Saat sistem itu tidak lagi bisa membuang limbah ke luar, astronaut harus mengandalkan sistem cadangan berupa wadah plastik.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa toilet di pesawat antariksa bukan sekadar fasilitas tambahan. Sistem itu menjadi bagian vital dari operasi harian karena berkaitan langsung dengan kesehatan, kebersihan, dan kelancaran misi.
Christina Koch bahkan menyebut dirinya sebagai “space plumber” dan mengatakan bahwa toilet mungkin adalah peralatan terpenting di pesawat. Pernyataan itu menegaskan bahwa di luar angkasa, urusan paling dasar pun membutuhkan teknologi yang sangat khusus agar manusia bisa hidup dan bekerja dengan aman.







