Anjing memiliki kemampuan penciuman yang jauh di atas manusia, dan kepekaan itu membuat sebagian anjing mampu mengenali tanda awal penyakit, termasuk kanker. Kemampuan ini bukan sekadar cerita menarik, karena tubuh manusia yang sakit dapat melepaskan jejak kimia tertentu yang bisa ditangkap hidung anjing.
Dalam praktiknya, anjing tidak “melihat” kanker, tetapi mencium perubahan biokimia yang muncul di napas, urin, darah, keringat, atau jaringan tubuh. Jejak ini disebut senyawa organik volatil, yaitu partikel bau halus yang dapat muncul ketika sel sehat berubah atau saat sel kanker menghasilkan sinyal kimia khas.
Mengapa hidung anjing sangat sensitif
Anjing memiliki lebih dari 100 juta reseptor sensorik di rongga hidung. Jumlah ini jauh melampaui manusia yang hanya memiliki sekitar 6 juta reseptor, sehingga anjing bisa menangkap aroma yang sangat samar.
Selain itu, bagian otak anjing yang dipakai untuk menganalisis bau disebut sekitar 40 kali lebih besar dibanding bagian otak manusia yang sebanding. Karena itu, anjing tidak hanya mencium bau, tetapi juga mengolahnya untuk membedakan sumber aroma, kondisi tubuh, hingga informasi dasar lain di sekitarnya.
Kemampuan tersebut membuat anjing dapat mencium bau 1.000 hingga 10.000 kali lebih baik daripada manusia. Dalam satu kali hirupan, anjing bisa memperoleh banyak informasi dari campuran aroma yang ada di sekitarnya.
Bagaimana kanker terdeteksi lewat penciuman
Kanker dapat mengubah komposisi kimia tubuh dan menghasilkan pola bau yang berbeda dari kondisi normal. Perubahan itu bisa muncul pada napas, keringat, urin, kulit, atau bahkan sampel darah, lalu dikenali oleh anjing yang telah dilatih.
Menurut informasi yang dikutip dari Medical News Today, anjing mampu mendeteksi berbagai senyawa organik volatil yang keluar dari tubuh manusia. Dengan pelatihan khusus, anjing dapat memberi sinyal berupa perilaku tertentu saat menemukan bau yang menandakan adanya penyakit.
Perilaku itu biasanya terlihat dari kebiasaan mengendus lebih lama, menjilat area tertentu, atau menggigit ringan jaringan kulit yang dianggap mencurigakan. Pada beberapa kasus, reaksi anjing justru membantu pemiliknya menyadari adanya masalah kesehatan yang sebelumnya tidak terasa.
Kanker apa saja yang bisa dikenali anjing
Sejumlah kanker pernah dilaporkan bisa dikenali lewat penciuman anjing. Kanker paru-paru dapat dideteksi dari napas, kanker kandung kemih dari urin, kanker payudara dari hembusan napas, kanker prostat dari urin, kanker kulit dari bau pada lesi kulit, dan kanker ovarium dari sampel darah.
Roswell Park juga menyebut beberapa organisasi seperti Working Dog Center dari Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Pennsylavina serta Medical Detection Dogs di Inggris telah meneliti kemampuan anjing dalam mengenali kanker payudara dan kanker paru-paru melalui napas. Dalam penelitian tersebut, dugaan utamanya adalah anjing menangkap perbedaan biokimia antara subjek yang mengidap kanker dan subjek yang tidak mengidap kanker.
Di sisi lain, ada pula catatan dari Ashley Stenzel, PhD, peneliti pascadoktoral di Roswell Park, yang mengamati anjing mengendus, menjilat, dan menggigit lesi melanoma pada kulit pemiliknya. Perilaku itu mendorong pemiliknya memeriksa area tersebut dan mencari perawatan medis.
Mengapa belum bisa jadi alat diagnosis utama
Meski terdengar menjanjikan, para peneliti menilai metode ini belum cukup akurat untuk dijadikan dasar diagnosis medis. Dr. Stenzel menjelaskan bahwa pelatihan dan penelitian lanjutan masih dibutuhkan sebelum kemampuan anjing bisa diandalkan secara klinis.
Kristen Moysich, PhD, dari Roswell Park, juga menekankan tantangan utamanya ada pada interpretasi bau. Anjing memang bisa mendeteksi aroma, tetapi tidak bisa menjelaskan secara pasti senyawa apa yang mereka cium atau bagaimana senyawa itu berkaitan langsung dengan jenis kanker tertentu.
Artinya, kemampuan penciuman anjing lebih tepat dipahami sebagai alat bantu riset dan sinyal awal, bukan pengganti pemeriksaan dokter. Dalam konteks medis, hasil pengamatan anjing tetap harus dipadukan dengan pemeriksaan laboratorium dan diagnosis profesional agar dapat dipastikan secara akurat.
Source: www.idntimes.com