Kenapa Ikan Pari Bisa Tidur Di Dasar Laut Tanpa Tenggelam, Ternyata Karena Ini

Author: Qoo Media

Ikan pari bisa berbaring diam di dasar laut tanpa tenggelam seperti batu karena tubuhnya memang dirancang untuk hidup di sana. Kombinasi rangka yang ringan, bentuk tubuh pipih, dan cara bernapas yang khusus membuat hewan ini mampu “tidur” atau beristirahat di dasar perairan dengan stabil.

Banyak orang mengira ikan pari harus terus bergerak agar tidak tenggelam. Padahal, bagi hewan dasar laut ini, diam justru menjadi posisi paling efisien karena struktur tubuhnya membantu menahan tubuh tetap dekat dengan pasir atau lumpur.

Rangka ringan yang menopang hidup di dasar laut

Ikan pari termasuk kelompok Chondrichthyes, yaitu ikan yang rangkanya tersusun dari tulang rawan, bukan tulang keras. Tulang rawan lebih lentur dan lebih ringan, sehingga tubuh ikan pari secara keseluruhan tidak sepadat ikan bertulang keras dengan ukuran sebanding.

Perbedaan ini penting karena tulang keras mengandung mineral kalsium fosfat dalam jumlah besar. Tulang rawan tidak memiliki kandungan mineral itu dalam jumlah besar, sehingga massa jenis tubuh ikan pari menjadi lebih rendah dan lebih mudah menyesuaikan posisi di air.

Bentuk pipih yang membantu menempel di dasar

Tubuh ikan pari yang lebar dan pipih bukan kebetulan. Bentuk itu terbentuk lewat seleksi alam selama jutaan tahun karena individu dengan tubuh seperti ini lebih berhasil bertahan hidup di lingkungan dasar laut.

Secara fisika, tubuh pipih membuat beban tersebar lebih merata ke permukaan bawah tubuh. Kondisi ini membuat ikan pari lebih stabil saat diam, mirip sepatu salju yang tidak mudah ambles karena berat tubuh tersebar ke area yang lebih luas.

Bentuk yang lebar juga membantu mengurangi hambatan arus air dari atas. Hasilnya, ikan pari tidak mudah terangkat atau bergeser saat arus melintas di atas tubuhnya.

Bernapas tanpa harus mengangkat tubuh dari pasir

Saat ikan pari menempel di dasar laut, bagian bawah tubuhnya bisa tertutup pasir atau lumpur. Kondisi itu berisiko menutup mulut dan bukaan insang yang berada di sisi bawah tubuh, sehingga proses bernapas bisa terganggu.

Untuk mengatasi masalah itu, ikan pari memiliki sepasang lubang kecil di bagian atas kepala yang disebut spirakel. Lewat spirakel, air masuk ke rongga insang dari atas, lalu mengalir melewati insang dan keluar kembali tanpa harus membuka bagian bawah tubuh.

Adaptasi ini membuat pertukaran oksigen tetap berjalan normal meski tubuh ikan pari tertimbun substrat dasar laut. Posisi spirakel di bagian atas kepala juga membuat lubang ini hampir tidak pernah tertutup pasir atau lumpur.

Mengubur diri bukan sekadar tidur

Kebiasaan ikan pari membenamkan diri di pasir atau lumpur juga berfungsi sebagai strategi bertahan hidup. Perilaku ini disebut kriptosis, yaitu kemampuan menyamarkan diri agar menyatu dengan lingkungan dan sulit terdeteksi predator maupun mangsa.

Warna tubuh cokelat keabu-abuan membantu penyamaran itu bekerja lebih efektif di dasar laut berpasir. Saat tubuhnya tersembunyi, ikan pari bisa menghemat energi karena tidak perlu terus berenang atau mencari perlindungan secara aktif.

Penghematan energi ini berkaitan dengan metabolisme, yaitu semua proses kimia dalam tubuh yang memakai energi. Energi yang tidak dipakai untuk bergerak bisa dialihkan untuk pemulihan sel dan pertumbuhan, sehingga posisi diam di dasar laut punya manfaat biologis yang jelas.

Tidak punya kantung renang justru menguntungkan

Berbeda dari banyak ikan bertulang keras, ikan pari tidak memiliki kantung renang. Organ berisi gas itu biasanya dipakai ikan lain untuk mengatur daya apung dan menjaga posisi di kolom air.

Tanpa kantung renang, tubuh ikan pari cenderung lebih berat daripada air laut di sekitarnya. Karena itu, ketika berhenti bergerak, tubuhnya memang akan turun ke bawah secara alami.

Bagi ikan pari, kondisi ini bukan kelemahan. Justru itulah yang memudahkan mereka tinggal di dasar laut tanpa perlu mengeluarkan energi tambahan untuk tetap berada di tempatnya.

Seluruh ciri itu menunjukkan bahwa “tidur” ikan pari di dasar laut bukan sekadar kebiasaan, melainkan hasil rancangan tubuh yang sangat efisien. Dari rangka tulang rawan hingga spirakel di kepala, setiap bagian bekerja bersama agar hewan ini bisa hidup stabil di lingkungan yang menjadi rumahnya sejak sekitar 200 juta tahun lalu.

Source: www.idntimes.com
Terbaru