Varda Space Industries sedang mendorong ide yang selama ini terdengar seperti eksperimen futuristis: membuat obat di orbit. Jika pendekatan itu berhasil, dampaknya tidak hanya terasa pada riset farmasi, tetapi juga pada lahirnya industri manufaktur berbasis ruang angkasa yang lebih besar.
Perusahaan asal Los Angeles County itu pekan ini mengumumkan kemitraan dengan United Therapeutics, perusahaan biotek yang dikenal lewat pengobatan untuk penyakit pernapasan langka dan transplantasi organ. Bagi Varda, kerja sama ini menjadi langkah penting untuk menunjukkan bahwa mikrogravitasi dapat dipakai sebagai lingkungan produksi dan eksperimen yang tidak bisa ditiru di Bumi.
Mengapa orbit menarik untuk farmasi
Selama beberapa tahun terakhir, Varda telah mengirim kapsul ke ruang angkasa untuk mengembangkan teknologi eksperimen otomatis di mikrogravitasi. Fokus utamanya adalah manipulasi molekul kecil, yang menjadi fondasi banyak obat, mulai dari antibiotik hingga kortikosteroid.
Michael Reilly, chief strategy officer Varda, mengatakan pendekatan itu dinilai ekonomis untuk molekul kecil karena kristal baru bisa dibentuk di ruang angkasa lalu dibawa kembali ke Bumi. Di orbit, perusahaan ingin menciptakan kristal obat dalam kondisi yang menurut mereka tidak mungkin dicapai di permukaan Bumi.
Anne Wilson, ahli kimia Butler University yang pernah merancang eksperimen untuk International Space Station dan bekerja dengan Redwire Space, menjelaskan bahwa kristal di ruang angkasa bisa tumbuh lebih besar, lebih sempurna, dan lebih seragam. Menurutnya, struktur fisik yang unik juga bisa muncul di orbit, dan itu berpotensi menghasilkan sifat yang lebih bernilai, seperti obat yang lebih mudah larut dan butuh dosis lebih sedikit.
Dari molekul kecil ke aplikasi yang lebih luas
United Therapeutics akan menjadi pengguna utama teknologi in-orbit Varda untuk menguji obat molekul kecilnya. Namun Reilly melihat peluang yang lebih luas, termasuk pada bioteknologi lain seperti antibodi monoklonal.
Ia menilai teknologi itu pada akhirnya bisa mengubah cara terapi diberikan, dari yang selama ini banyak memakai infus menjadi suntikan subkutan. Pandangan itu menempatkan eksperimen Varda bukan hanya sebagai proyek ruang angkasa, tetapi juga sebagai pintu masuk ke perubahan dalam rantai pengembangan obat.
Tantangan skala dan biaya
Meski potensinya besar, para ahli menilai pendekatan ini masih berisiko. Gerard Capellades, insinyur kimia di Rowan University yang juga pernah bekerja dengan Redwire, menyebut tantangan skala sebagai salah satu hambatan utama.
Menurut dia, peneliti harus menemukan cara memakai kristal yang tumbuh di ruang angkasa sebagai benih untuk diperbanyak di darat, atau fokus pada produksi kristal tunggal bernilai tinggi untuk aplikasi di luar farmasi. Ia juga menyoroti sulitnya mengendalikan lingkungan eksperimen agar struktur kristal yang dibutuhkan bisa muncul tepat waktu dan dengan biaya yang efisien.
Capellades menggambarkannya sebagai permainan untung-untungan. Dalam kondisi yang sama, proses pembentukan kristal bisa berlangsung dalam hitungan menit, tetapi juga bisa memakan waktu berminggu-minggu atau lebih lama.
Mesin orbit yang bekerja sendiri
Laboratorium orbital Varda yang dijuluki “Winnebago” memakai satelit bus seberat 300 kilogram. Setelah diluncurkan, sistem itu memakai dorongan sendiri untuk menyesuaikan posisi, lalu kapsul di dalamnya menjadi tempat eksperimen dilakukan.
Setelah pekerjaan selesai, kapsul masuk kembali ke atmosfer dengan kecepatan sekitar 18.000 mil per jam. Kapsul lalu turun dengan parasut dan mendarat di outback Australia, setelah sebelumnya ada prototipe awal yang sempat tertunda pada 2024 karena perusahaan awalnya tidak mendapat izin reentry dari Federal Aviation Administration untuk lokasi pendaratan yang direncanakan di gurun Utah.
Model bisnisnya masih dicari
Untuk membantu menutup biaya, Varda juga membawa muatan eksperimen pertahanan untuk Pentagon dalam penerbangan ruang angkasanya. Strategi ini penting karena biaya peluncuran per pon kargo memang sudah turun dalam dekade terakhir, terutama berkat roket SpaceX yang bisa dipakai ulang, tetapi ongkosnya masih tetap tinggi.
Matthew Weinzierl dari Harvard Business School menilai sektor farmasi bisa menjadi salah satu pelanggan paling antusias bagi ekonomi antariksa. Ia menyebut pasar obat sangat besar, sementara massa dari sejumlah bahan kunci farmasi relatif kecil, sehingga cocok untuk dibawa ke orbit.
Selama ini, peneliti akademik dan komersial memang sudah mengirim eksperimen ke ISS dan stasiun luar angkasa China, Tiangong. Namun menurut Reilly, saat ini Varda dan SpaceX adalah dua perusahaan yang mampu meluncurkan eksperimen ke orbit tanpa perlu dioperasikan astronaut.
Peluang berikutnya ada di stasiun luar angkasa komersial
Peluang baru juga diperkirakan muncul pada era stasiun luar angkasa komersial yang direncanakan hadir pada 2030-an untuk menggantikan ISS yang menua. Sejumlah perusahaan seperti Space Tango dan Voyager Technologies, yang dulu bernama Nanoracks, sudah mulai menawarkan layanan riset plug-and-play di ruang angkasa.
Voyager juga sedang mengembangkan konsep stasiun komersial bernama Starlab, dan Weinzierl mengatakan proposal itu serta proyek lain menempatkan industri farmasi di pusat model bisnisnya. Di sisi lain, Varda menargetkan lebih banyak kemitraan dan frekuensi peluncuran yang lebih cepat, dari satu kali per kuartal menjadi setiap dua bulan.
Weinzierl berharap kemitraan Varda dan United Therapeutics bisa menjadi bukti konsep yang berhasil dan bisa ditiru. Ia juga menilai satu produk blockbuster saja dapat memicu efek berantai yang membuka lebih banyak aliansi antara perusahaan farmasi dan pemain antariksa.
