Sejumlah delegasi Indonesia akan mengikuti konferensi internasional The 2nd WNI Weather & Climate Forecast Conference (WCFC) 2026 di Tokyo, Jepang. Forum ini menyoroti pemanfaatan kecerdasan buatan atau AI untuk memperkuat sistem cuaca dan iklim di Asia.
Keterlibatan Indonesia dipandang penting karena negara ini menghadapi risiko tinggi bencana hidrometeorologi. Pembahasan di forum tersebut juga menjadi kelanjutan dari kerja sama antara BMKG dan Weathernews Inc untuk penguatan peringatan dini berbasis AI.
Kolaborasi Indonesia dan Jepang dalam prediksi cuaca
Pendiri dan penasihat strategis Yayasan Sakuranesia, Tovic Rustam, menyebut delegasi Indonesia akan melibatkan BMKG, Universitas Indonesia, Universitas Gadjah Mada, Institut Teknologi Sepuluh Nopember, serta entitas di ekosistem PT Pertamina (Persero). Keterlibatan berbagai lembaga ini menunjukkan bahwa pengembangan sistem cuaca berbasis AI tidak hanya menjadi urusan pemerintah, tetapi juga akademisi dan sektor energi.
Tovic mengatakan WCFC 2026 bukan sekadar forum teknologi, melainkan ruang untuk membangun kolaborasi Asia yang lebih terintegrasi dan berorientasi pada keselamatan manusia. Ia menekankan bahwa tantangan perubahan iklim global menuntut kerja sama lintas negara yang lebih konkret dan berkelanjutan.
Fokus pada peringatan dini dan mitigasi bencana
Forum yang dijadwalkan berlangsung pada 17 Juni 2026 itu mengusung tema Pemanfaatan AI untuk Masa Depan Cuaca dan Iklim Asia – Garda Terdepan Sistem Peringatan Dini dan Implementasi Regional. Tema ini menempatkan sistem peringatan dini sebagai pusat pembahasan, terutama untuk wilayah yang rentan terhadap cuaca ekstrem.
Indonesia dinilai memiliki posisi strategis karena karakter geografisnya sebagai negara kepulauan tropis. Kondisi ini membuat Indonesia sering menghadapi ancaman banjir, siklon tropis, dan gangguan cuaca lain yang membutuhkan prediksi lebih cepat dan lebih akurat.
Kerja sama yang sudah berjalan
Keterlibatan Indonesia dalam forum tersebut juga tidak berdiri sendiri, karena sebelumnya BMKG dan Weathernews Inc telah menandatangani kerja sama bertajuk A Project for AI-Based Tropical Cyclone and Flood Forecasting in Indonesia pada Februari 2026. Kesepakatan itu diarahkan untuk memperkuat sistem peringatan dini siklon tropis dan banjir di Indonesia.
Pelaksana Tugas Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Andri Ramdhani, mengatakan kerja sama lanjutan itu ditujukan untuk memperkuat sistem peringatan dini melalui pemanfaatan AI. Ia menyebut langkah tersebut sebagai bagian dari implementasi inisiatif global Early Warnings for All atau EW4All.
Andri menegaskan bahwa kemitraan tersebut mencerminkan komitmen bersama untuk menghadirkan informasi cuaca dan iklim yang lebih baik. Dalam konteks mitigasi bencana, kualitas data dan kecepatan peringatan menjadi faktor penting bagi keselamatan masyarakat.
Peran pendidikan, teknologi, dan energi
Founder dan Chairman Sakuranesia Foundation, Sakura Ijuin, mendorong penguatan jejaring kerja sama Indonesia–Jepang di bidang pendidikan, teknologi, dan inovasi masa depan. Ia melihat forum ini sebagai peluang untuk mempertemukan berbagai sektor yang selama ini bekerja dalam jalur berbeda.
Menurut Sakura, kehadiran perguruan tinggi dan PT Pertamina (Persero) membuka ruang sinergi antara akademik, energi, dan teknologi cuaca. Sinergi tersebut dinilai relevan untuk mitigasi risiko sekaligus menjaga ketahanan energi di tengah kondisi iklim yang semakin menantang.
Forum di Tokyo itu menjadi salah satu ruang penting bagi Indonesia untuk mempelajari penerapan AI dalam prediksi cuaca dari Jepang. Dengan melibatkan BMKG, kampus, dan dunia usaha, pembahasan di WCFC 2026 diarahkan pada penguatan sistem peringatan dini yang lebih tangguh untuk menghadapi bencana hidrometeorologi di kawasan Asia.
Source: www.beritasatu.com