
Lascaux bukan sekadar gua tua di Dordogne, Prancis barat daya. Situs ini adalah salah satu warisan seni prasejarah paling penting di dunia, dengan ratusan lukisan dan ribuan ukiran yang masih memancing rasa kagum hingga kini.
Daya tarik utamanya bukan hanya pada usia karya yang diperkirakan berasal dari 17.000 hingga 12.000 tahun lalu. Gua ini juga memperlihatkan betapa maju, kreatif, dan kompleksnya para seniman Paleolitikum dalam melihat dunia mereka.
Penemuan yang terjadi tanpa sengaja
Pada September 1940, empat remaja di dekat desa Montignac menemukan lubang misterius di tanah saat mencari anjing mereka yang hilang. Dari lubang itu, mereka masuk ke sistem gua yang ternyata dipenuhi lukisan purba.
Penemuan itu segera menarik perhatian seorang guru yang juga anggota klub prasejarah lokal. Tak lama kemudian, arkeolog Henri-Édouard-Prosper Breuil menjadi ilmuwan pertama yang melakukan inspeksi ilmiah dan menegaskan keaslian lukisan-lukisan tersebut.
Wilayah yang kaya gua berhias seni
Lascaux berdiri di kawasan Dordogne, wilayah yang dikenal memiliki konsentrasi gua berhias seni prasejarah tinggi di Eropa Barat. Lembah Vézère, tempat gua ini berada, menyimpan 147 situs prasejarah dari periode Paleolitikum, termasuk 25 gua berhias seni.
Kondisi geologi kawasan itu membentuk banyak sistem gua yang kering dan terlindung. Karena nilai sejarah dan arkeologisnya, wilayah ini diakui UNESCO sebagai Situs Warisan Dunia pada 1979.
Jejak penghuni dari tiga masa
Lascaux tidak hanya menjadi kanvas seni, tetapi juga tempat hunian manusia Paleolitikum dalam tiga periode berbeda. Lukisan dindingnya berasal dari kebudayaan Magdalenian awal pada Paleolitikum Atas.
Jejak pertama penghuni ditemukan melalui arang di area Nave dan Shaft. Periode kedua menunjukkan puncak aktivitas seni, sedangkan jejak di pintu masuk memperlihatkan masa hunian yang singkat ketika cahaya alami masih mencapai bagian dalam gua.
Teknik, alat, dan pigmen yang dipakai
Sebagian besar gambar di Lascaux diukir atau dipahat langsung pada batu. Sebagian lain dilukis di permukaan dinding putih kalsit gua dengan teknik yang menunjukkan kreativitas tinggi.
Para peneliti menduga cat diaplikasikan menggunakan gumpalan lumut atau rambut, meski tidak ada bukti kuas. Tulang berlubang juga ditemukan dan diduga dipakai sebagai alat semprot untuk meniup pigmen ke dinding.
Warna-warna yang tersisa menunjukkan bahan mineral yang dicampur air. Merah berasal dari hematit, kuning dari goetit, dan hitam dari mangan oksida yang mudah ditemukan di sekitar Lascaux.
Cara melukis di ketinggian dan menerangi gua
Beberapa gambar berada 2,5 hingga 3,5 meter dari lantai gua, dekat langit-langit ruangan. Para arkeolog menduga para seniman memakai perancah, meski bukti langsung tentang strukturnya masih terbatas.
Pada awal 1950-an, André Glory menemukan sisa balok yang saling bertautan di tepi Galeri Aksial. Temuan itu dianggap mungkin bagian dari perancah, meski belum jelas apakah struktur serupa digunakan di seluruh gua.
Glory juga menemukan lampu batu pasir merah yang diperkirakan berusia sekitar 17.000 tahun. Sisa jelaga menunjukkan sumbu dari juniper, dan temuan itu membantu menjelaskan bagaimana bagian gua yang gelap bisa diterangi saat proses melukis berlangsung.
Isi gambar yang sangat beragam
Di dalam kompleks Lascaux terdapat lebih dari 600 lukisan dan sekitar 1.500 ukiran. Sebagian besar menggambarkan hewan dan simbol abstrak, sementara manusia justru sangat jarang muncul.
Kuda menjadi hewan yang paling sering digambarkan, dengan total 364 gambar. Salah satu adegan paling terkenal adalah empat banteng hitam besar atau aurochs yang berlari di Hall of Bulls, yang juga memuat gambar hewan terbesar yang diketahui dalam seni gua.
Beberapa pengelompokan hewan menunjukkan pemahaman perspektif yang baik. Pada gambar bison yang sedang berlari, salah satu kaki belakang tampak disilangkan di atas yang lain, tanda bahwa seniman Paleolitik memiliki penguasaan teknik yang tinggi.
Satu figur manusia yang membingungkan
Lascaux hanya memiliki satu figur mirip manusia yang lengkap. Sosok itu tergambar sangat aneh, jatuh terlentang di dekat bison, dengan kepala seperti burung, tampak berteriak, dan memiliki ereksi.
Di sampingnya ada tongkat dengan burung di atasnya, sementara seekor badak berada di belakang dan tampak membuang kotoran ke arahnya. Adegan ini terus memunculkan banyak tafsir karena tidak ada penjelasan tunggal yang disepakati.
Makna yang masih diperdebatkan
Banyak sejarawan seni masih berusaha memahami mengapa lukisan dibuat di bagian gua yang gelap dan sulit diakses. Arkeolog Norbert Aujoulat, yang meneliti Lascaux antara 1988 dan 1999, berpendapat gambar-gambar itu mencerminkan perubahan musim dan berlalunya waktu.
Ia mencatat bahwa urutan hewan cenderung tetap, dimulai dari kuda, lalu auroch, dan kemudian rusa jantan. Menurutnya, kuda menyerupai musim semi, auroch selaras dengan musim panas, dan rusa jantan menampilkan ciri musim gugur.
Dampak kunjungan dan penutupan gua
Ketika dibuka untuk umum pada 1948, Lascaux langsung didatangi banyak pengunjung. Namun, kelembapan dan napas ribuan orang merusak kondisi gua, membuat warna memudar dan memicu pertumbuhan jamur, bakteri, serta kristal mineral.
Lantai gua juga pernah diturunkan untuk meningkatkan aksesibilitas, sehingga konteks arkeologis penting ikut hilang. Karena kerusakan itu, gua ditutup permanen untuk umum pada 1963.
Kini pengunjung masih bisa melihat replika tepat dari Hall of Bulls dan Axial Gallery melalui Lascaux II yang dibuka pada 1983 di dekat lokasi asli. Replika itu menjaga warisan visual Lascaux tetap dapat dinikmati tanpa mengorbankan sisa jejak prasejarah yang masih tersimpan di gua aslinya.
Source: www.idntimes.com








