Jet Tempur Angkatan Laut Ini Punya Sistem Ejeksi Paling Aneh, Kru Meluncur Lewat Bawah Kabin

Ketika kebanyakan jet tempur mengandalkan kursi lontar berteknologi roket, Douglas F3D Skyknight justru memakai solusi yang jauh lebih aneh. Alih-alih melontarkan awak ke atas, pesawat Angkatan Laut AS ini mengeluarkan pilot dan operator radar melalui semacam seluncuran logam dari bagian bawah badan pesawat.

Keunikan itu lahir dari desain Skyknight sendiri. Jet ini dibuat untuk membawa radar yang tergolong sangat maju pada akhir 1940-an dan awal 1950-an, dan perangkat itu memakan banyak ruang di dalam fuselage sehingga pilot dan operator radar harus duduk berdampingan.

Susunan kursi tersebut menciptakan masalah saat evakuasi darurat. Melontarkan dua awak secara bersamaan dari kokpit yang sempit dianggap terlalu berbahaya, jadi para perancang memilih jalur keluar yang tidak biasa tetapi efektif.

Seluncuran keluar dari perut pesawat

Skyknight dipasangi chute logam yang berada di belakang kursi, di bagian aft dari kokpit. Chute itu membentang di antara dua mesin jet kembar, sehingga awak bisa meluncur turun dan keluar dari perut pesawat.

Menurut mantan pilot F-15 Angkatan Udara, Paul Woodford, prosesnya dimulai dengan kabin yang didepresurisasi. Setelah itu, kursi akan berputar saling menghadap, lalu awak pertama membuka penutup chute, meraih batang horizontal, dan meluncur keluar melalui bagian bawah jet.

Cara ini terdengar ekstrem, tetapi memang dirancang untuk bekerja pada kecepatan tinggi. Setelah keluar dari bawah badan pesawat, awak bisa membuka parasut dan turun ke tanah dengan aman.

Peran penting dalam perang malam

Skyknight mungkin tidak sepopuler jet tempur lain, tetapi pesawat ini punya tempat penting dalam sejarah pertempuran udara. Salah satu Skyknight tercatat sebagai fighter jet pertama yang menembak jatuh pesawat lain dalam duel jet lawan jet pada malam hari.

Angkatan Laut dan Korps Marinir mengoperasikan pesawat ini selama Perang Korea. Tugasnya adalah memburu pesawat musuh dalam gelap, termasuk MiG buatan Soviet, sambil terus terbang di atas wilayah lawan.

Situasi itu membuat sistem evakuasi menjadi sangat penting. Jika pesawat mengalami masalah, pilot dan operator radar berisiko harus keluar di belakang garis musuh, sehingga mekanisme penyelamatan yang andal menjadi bagian krusial dari rancangan pesawat.

Mengapa bukan kursi lontar biasa

Pada era Skyknight mulai beroperasi pada 1948, kursi lontar modern belum tersedia seperti sekarang. Teknologi yang umum pada jet tempur saat ini adalah kursi dengan roket kecil yang melontarkan kursi dan penggunanya keluar dari pesawat, tetapi pendekatan itu belum bisa diterapkan dengan mudah pada Skyknight.

Kendala utamanya tetap ada pada konfigurasi tempat duduk yang tidak lazim. Karena pesawat dibuat untuk mengakomodasi radar besar, rancangan pelepasan awak harus disesuaikan dengan ruang yang tersedia, bukan mengikuti pola keluar standar dari kokpit tunggal.

Hasilnya adalah sistem evakuasi yang jarang terlihat dalam sejarah penerbangan militer. Meski tidak biasa, chute itu berhasil menjalankan fungsinya dan menjadi salah satu contoh paling aneh dari upaya menyelamatkan awak jet tempur di masa awal era pesawat bermesin jet.

Exit mobile version