Bukan Cuma Listrik, Tiga Pemakaian Nuklir Ini Bisa Mengubah Hidup Anda

Perdebatan soal energi nuklir kerap terjebak pada satu hal: listrik. Padahal, teknologi ini menyimpan ruang manfaat yang jauh lebih luas, dari pengolahan air laut sampai produksi bahan bakar bersih untuk industri masa depan.

Di tengah kekhawatiran publik akibat tragedi seperti Chernobyl dan Fukushima Daiichi, para ilmuwan dan insinyur justru melihat nuklir sebagai sumber energi yang belum dimanfaatkan sepenuhnya. Reaktor listrik hanya mengubah sekitar sepertiga energi yang dihasilkan menjadi listrik, sementara dua pertiga sisanya masih bisa dialihkan untuk kebutuhan lain.

Air minum dari laut

Salah satu penggunaan paling menarik adalah desalinasi air laut. Ini menjadi penting karena menurut UNICEF, sekitar dua pertiga populasi dunia menghadapi kelangkaan air setidaknya selama satu bulan penuh setiap tahun, dan situasinya memburuk akibat perubahan iklim.

Lebih dari 97 persen air di Bumi bersifat asin dan tersimpan di samudra. Desalinasi menghilangkan garam dan mineral yang tidak layak minum melalui filtrasi dan distilasi, dua proses yang sama-sama memerlukan energi besar.

Di sinilah nuklir punya nilai strategis. Panas berlebih dari pembangkit nuklir bisa dialihkan ke fasilitas desalinasi sehingga prosesnya menjadi bebas karbon sekaligus mengurangi pemborosan energi.

Saat ini, sebagian besar pabrik desalinasi masih bergantung pada bahan bakar fosil untuk memasok daya. India sudah menggunakan pembangkit desalinasi berbasis nuklir, dan teknologi serupa disebut berpotensi masuk ke Amerika Serikat.

Bahan bakar untuk kapal laut

Pemanfaatan berikutnya ada di sektor transportasi, tepatnya untuk kapal laut militer. Nuklir sudah lama dipakai untuk menggerakkan kapal selam dan kapal induk karena bahan bakar fosil terlalu cepat habis saat kapal harus beroperasi lama di laut.

Angkatan Laut Amerika Serikat menjadi pelopor lewat USS Nautilus, kapal selam bertenaga nuklir pertama di dunia, pada 1955. Kapal itu juga menjadi kapal selam pertama yang melintasi bawah Kutub Utara, dan sejak itu armada kapal selam Angkatan Laut AS serta seluruh kapal induk dalam armadanya menggunakan tenaga nuklir.

Keunggulan utamanya ada pada daya tahan operasi. Kapal selam dan kapal induk bertenaga nuklir dapat beroperasi hingga 20 tahun tanpa perlu pengisian bahan bakar, karena mereka membawa reaktor kecil di dalam kapal untuk memecah atom dan menghasilkan panas bagi turbin uap.

Reaktor tersebut dilindungi untuk melindungi awak dari radiasi, dan penggunaannya berada di bawah regulasi ketat. Keberhasilan ini juga memicu minat untuk menerapkan nuklir pada moda transportasi lain, termasuk proposal NASA untuk perjalanan ke Mars.

Produksi hidrogen

Peluang ketiga terkait hidrogen, yang kerap dipandang sebagai sumber energi bersih karena limbah akhirnya hanya air. Masalahnya, metode produksi yang paling umum saat ini justru menghasilkan emisi gas rumah kaca yang sangat besar.

Proses yang paling banyak digunakan adalah steam-methane reforming, yang menggabungkan metana dari gas alam dengan uap superpanas sekitar 1.300 derajat Fahrenheit. Industri ini menghasilkan sekitar 830 juta metrik ton CO2 per tahun, setara dengan emisi seluruh Iran pada 2024 menurut World Population Review.

Nuklir menawarkan jalan alternatif yang lebih bersih. Panas dari pembangkit nuklir dapat membantu steam-methane reforming dengan mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil.

Pendekatan yang lebih menjanjikan masih dalam riset, yaitu memproduksi hidrogen langsung dari air dengan panas nuklir. Proses ini membutuhkan suhu sangat tinggi, hingga 1.000 derajat Celsius atau 1.832 derajat Fahrenheit, untuk memecah molekul air menjadi hidrogen dan oksigen.

Jika metode ini berhasil dikembangkan, limbah yang tersisa hanya air residu. Dengan permintaan hidrogen global yang terus naik, jalur ini berpotensi menjadi salah satu aplikasi paling penting dari energi nuklir di luar listrik.

Terkait