
Lonjakan biaya listrik akibat perang AS-Israel dengan Iran membuat isu keamanan energi kembali mencuat. Di saat yang sama, sebuah proyek percontohan di dekat Plymouth mencoba menyimpan energi terbarukan dengan pendekatan yang terinspirasi dari ide berusia 100 tahun.
Proyek itu disebut sebagai demonstrator pumped hydro berdensitas tinggi. Para pengembangnya percaya teknologi ini bisa “mengubah bukit kecil menjadi baterai raksasa” dan membantu peralihan dari bahan bakar fosil.
Cara kerjanya berbeda dari pumped hydro biasa
Pumped storage hydropower tradisional memakai air dari titik yang lebih tinggi ke titik yang lebih rendah untuk memutar turbin dan menghasilkan listrik. Saat listrik lebih murah, air dipompa kembali ke reservoir atas, lalu dilepaskan lagi ketika permintaan naik.
Dengan cara itu, sistem tersebut berfungsi seperti penyimpan energi atau baterai isi ulang raksasa. Teknologi ini sudah lama dikenal, tetapi proyek baru ini mencoba mengubah batasan geografisnya.
Kunci pilot project itu adalah cairan yang disebut Peter Hawkins sebagai “secret sauce”. Cairan itu dibuat dari mineral yang dicampur dengan air dan memiliki kerapatan dua setengah kali lebih tinggi daripada air.
Perbedaan itu penting karena instalasi tidak lagi membutuhkan perbedaan ketinggian sebesar sistem konvensional. Dengan fluida yang lebih padat, proyek bisa dibangun di “bukit, bukan gunung”.
Targetnya lebih dekat ke lokasi yang lebih realistis
Lizzi Gold, business development manager di RheEnergise, mengatakan proyek ini mengambil teknologi pumped hydro yang berusia 100 tahun dan membuatnya cocok untuk kebutuhan modern. Ia menambahkan bahwa desainnya bisa dibangun di bukit setinggi serendah 100 meter.
Gold juga menekankan bahwa sistem penyimpanan seperti ini dibutuhkan saat energi terbarukan makin dominan. Menurutnya, tujuan proyek ini adalah menyediakan “listrik bersih saat angin tidak bertiup atau matahari tidak bersinar”.
Di Cornwood, demonstrator scheme itu memiliki output daya puncak 500 kW. Jika dijalankan terus-menerus, kapasitas itu disebut cukup untuk memasok 400 rumah selama satu tahun.
Dorongan dari krisis harga dan transisi energi
Rising wholesale costs yang dipicu perang AS-Israel dengan Iran akan mendorong tagihan rumah tangga naik untuk pertama kalinya bulan depan. Kenaikan itu diperkirakan mencapai 13%, sehingga kebutuhan akan sistem energi yang lebih stabil kembali menjadi perhatian.
Profesor Peter Connor, associate professor of sustainable energy policy di University of Exeter, mengatakan baterai atau pumped storage bisa membantu menyeimbangkan sistem saat transisi menuju energi terbarukan. Ia menyoroti bahwa batu bara dan gas bisa dinyalakan dan dimatikan dengan mudah, sedangkan angin dan surya tidak.
Connor menilai teknologi seperti ini sedang membantu perpindahan itu. Dalam kerangka yang sama, Stephen Crosher, CEO RheEnergise, menyebut proyek itu sebagai yang pertama dari jenisnya dan mengatakan sistemnya kini sudah beroperasi dengan sukses.
Dukungan pendanaan dan ambisi skala besar
RheEnergise mendapat kontrak £8.25 juta dari small business research initiative milik pemerintah melalui Net Zero Innovation Portfolio untuk membantu pengembangan proyek. Dukungan itu menunjukkan bahwa penyimpanan energi bukan lagi hanya urusan laboratorium, melainkan bagian dari infrastruktur yang ingin dipercepat.
Crosher mengatakan volatilitas besar pada harga bahan bakar fosil menimbulkan tekanan berat bagi konsumen. Ia menambahkan bahwa perjuangan menuju dekarbonisasi juga menjadi bagian dari alasan mengapa solusi penyimpanan seperti ini dikejar.
Teknologi ini masih berada pada tahap demonstrasi, tetapi pesan yang dibawa cukup jelas. Saat grid listrik makin bergantung pada angin dan surya, kemampuan menyimpan energi dalam skala besar menjadi salah satu tantangan paling penting yang harus dipecahkan.









