Sepertiga spesies pohon di dunia kini berada di ambang kepunahan, dan dampaknya jauh melampaui hilangnya pepohonan di hutan. Sekitar 17.500 spesies pohon terancam punah, jumlah yang bahkan lebih besar daripada gabungan spesies mamalia, burung, amfibi, dan reptil yang juga menghadapi ancaman.
Temuan ini penting karena pohon bukan sekadar elemen lanskap. Pohon adalah penopang ekosistem, pengatur iklim, sumber pangan, dan rumah bagi jutaan makhluk hidup.
Ancaman yang meluas di banyak wilayah
Ancaman terhadap pohon tidak hanya terjadi di hutan tropis yang rusak. Tekanan itu juga muncul di wilayah yang selama ini dianggap relatif stabil secara ekologis.
Sebagian spesies pohon bahkan sudah sangat langka. Ada jenis yang hanya tersisa satu individu di alam liar, seperti Hyophorbe amaricaulis di Mauritius.
Kondisi ini menunjukkan bahwa krisis pohon bukan isu lokal. Ini adalah krisis konservasi tumbuhan global yang kerap luput dari perhatian publik.
Efek domino ke ekosistem
Hilangnya satu spesies pohon bisa memicu keruntuhan ekologis yang lebih luas. Banyak organisme bergantung secara khusus pada pohon tertentu untuk bertahan hidup.
Pohon menyediakan habitat bagi epifit, jamur, serangga, burung, dan mamalia. Mereka juga menghasilkan oksigen dan menyerap karbon, dua fungsi penting bagi kehidupan di Bumi.
Contoh ketergantungan itu terlihat pada pohon darah naga (Dracaena cinnabari). Pohon ini menjadi satu-satunya rumah bagi spesies gecko yang menyerbuki bunganya.
Jika pohonnya lenyap, spesies yang bergantung padanya juga ikut terancam hilang. Dari sana, gangguan kecil bisa berubah menjadi kerusakan ekosistem yang luas.
Risiko bagi pangan dan ekonomi
Pohon juga menopang ekonomi global dan ketahanan pangan. Banyak buah-buahan, kacang-kacangan, rempah, dan bahan obat berasal dari pepohonan.
Nilai perdagangan produk non-kayu dari pohon diperkirakan mencapai sekitar US$88 miliar per tahun. Sementara itu, kontribusi total pohon terhadap ekonomi global mencapai US$1,3 triliun setiap tahun.
Meski begitu, miliaran pohon terus dihancurkan setiap tahun untuk perluasan lahan pertanian dan pembangunan. Tekanan ini membuat banyak aspek kehidupan manusia ikut terancam, termasuk pekerjaan dan pasokan pangan.
Penjaga iklim dan air
Pohon juga berperan besar dalam menjaga keseimbangan iklim dan siklus air. Mereka menyimpan lebih dari setengah karbon dioksida berlebih di atmosfer, memproduksi oksigen, serta membantu menjaga kelembapan udara dan curah hujan.
Sekitar tiga perempat air tawar yang bisa diakses manusia tersimpan dalam sistem hutan yang sehat. Saat populasi pohon menyusut drastis, keseimbangan karbon, air, dan nutrisi global ikut terganggu.
Dalam kondisi seperti itu, perubahan iklim bisa semakin sulit dikendalikan. Krisis air bersih juga berpotensi menjadi lebih nyata di banyak wilayah dunia.
Keragaman jadi benteng pertahanan
Keragaman spesies pohon menentukan ketahanan hutan menghadapi tekanan. Hutan dengan beragam jenis pohon terbukti lebih tangguh dalam menyimpan karbon, menahan erosi tanah, menghadapi badai, dan melawan hama maupun penyakit.
Sebaliknya, hutan monokultur cenderung rapuh dan mudah rusak. Saat keragaman pohon menyusut, keragaman organisme lain juga ikut turun, termasuk burung, mamalia, dan mikroorganisme tanah.
Kondisi ini membuat pelestarian pohon bukan hanya soal menanam lebih banyak batang. Yang lebih penting adalah menjaga variasi spesies agar ekosistem tetap kuat.
Tantangan kesadaran publik
Salah satu hambatan besar dalam krisis ini adalah plant blindness, yaitu ketidakpedulian terhadap pentingnya tanaman dalam kehidupan sehari-hari. Di tengah ancaman keanekaragaman hayati, minat untuk mendalami botani justru semakin menurun.
Padahal, pemahaman terhadap tanaman bisa mendorong tindakan nyata. Dari kebijakan pelestarian hingga keputusan sederhana seperti menanam pohon, langkah kecil tetap punya arti besar.
Krisis kepunahan pohon pada akhirnya menyentuh kebutuhan paling dasar manusia. Saat pohon hilang, udara bersih, air, makanan, dan tempat tinggal bagi jutaan makhluk juga ikut terancam.
Source: www.idntimes.com






