Gereja Tritunggal Mahakudus Bagi Para Peziarah di Roma menyimpan daya tarik yang tidak hanya kuat secara visual, tetapi juga sarat jejak sejarah. Gereja Katolik bersejarah ini berada dekat Palazzo Farnese, Ponte Sisto, dan via Giulia di Distrik Regola, sehingga sering disebut sebagai salah satu permata tersembunyi di Kota Roma.
Bangunan ini berdiri di atas situs religius abad ke-12 yang dikenal sebagai San Benedetto de Arenula. Pada 1558, Paus Paulus IV menyerahkannya kepada St. Filipus Neri dan persaudaraan amalnya untuk membantu para peziarah, kaum miskin, dan orang sakit.
Konstruksi gereja dimulai sekitar 1587 dan selesai lalu diresmikan pada awal abad ke-17. Sejak awal, fungsi gereja ini memang tidak hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai pusat pelayanan bagi mereka yang datang berziarah ke Roma.
Warisan Barok yang menonjol
Dari sisi arsitektur, gereja ini dikenal lewat gaya Barok yang megah dan ekspresif. Interiornya dipenuhi karya seni bernilai tinggi, termasuk altar utama dengan lukisan Tritunggal Mahakudus karya Guido Reni dari awal abad ke-17.
Pengunjung juga akan menemukan kapel samping dengan lukisan dan patung Barok yang kaya detail. Langit-langitnya dihiasi fresco yang menonjolkan kemegahan visual, sementara unsur stucco dengan lapisan warna emas memperkuat karakter artistiknya.
Sejumlah pahatan marmer di altar dan lorong gereja berasal dari abad ke-17 dan 18. Di antara karya penting lainnya ada lukisan cat minyak “Trinitas dan Malaikat” karya Guido Reni dari 1625 dan fresco para penginjil karya Giovanni Battista Ricci sekitar 1613.
Peran penting bagi para peziarah
Sejarah gereja ini erat dengan pelayanan terhadap peziarah di masa Yubileum. Pada Yubileum 1625, gereja pernah menambahkan rumah sakit besar di dekatnya ke dalam pengelolaannya dan menjadikannya pusat penyambutan serta keramahan bagi para peziarah di Roma.
Dalam dua abad beroperasi, bangunan itu menampung hingga 400.000 orang. Tradisi pelayanan tersebut juga disebut masih berlanjut di masa modern, ketika gereja ini tetap menyambut para peziarah pada Yubileum 2025.
Terkait dengan lagu kebangsaan Italia
Gereja ini juga punya hubungan dengan sejarah Italia modern. Pada 1849, rumah sakit yang dikelola gereja diubah menjadi rumah sakit militer selama bentrokan dengan tentara Prancis.
Lebih dari 1.500 orang terluka dirawat di sana, termasuk Goffredo Mameli. Ia adalah patriot Italia, penyair, dan penulis lirik “Il Canto degli Italiani” yang kemudian menjadi lagu kebangsaan Italia.
Mameli meninggal di rumah sakit itu pada usia 21 tahun akibat luka yang dideritanya. Fakta ini membuat gereja tersebut memiliki tempat tersendiri dalam ingatan sejarah Italia.
Kapel-kapel yang menjadi sorotan
Di dalam gereja terdapat delapan kapel yang masing-masing memiliki kekhasan seni. Empat yang paling dikenal antara lain Kapel Salib Mahakudus dengan ukiran kayu polikrom “Yesus Kristus yang disalibkan” dari abad ke-18, serta Kapel St. Filipus Neri dengan lukisan altar karya Filippo Bigioli pada 1853.
Di sayap kiri gereja ada Kapel Madonna, St. Yusuf, dan St. Benediktus, yang didedikasikan untuk menghormati Bunda Maria penolong umat Kristen. Lukisan altar yang menggambarkan St. Yusuf dan St. Benediktus dari Nursia dibuat oleh Giambattista Ricci pada abad ke-17.
Di sayap kanan terdapat Kapel St. Matius yang menyimpan patung marmer “St. Matius dan Malaikat” karya Jacob Cornelisz Cobaert dan Pompeo Ferruci dari abad ke-17. Kehadiran kapel-kapel itu menambah alasan mengapa gereja ini menarik bagi pencinta seni dan sejarah.
Tradisi misa latin yang khas
Gereja Tritunggal Mahakudus Bagi Para Peziarah juga dikenal karena ritus Misa latin tradisional atau Tridentine Mass. BBC menjelaskan bahwa ritus ini dipakai di Gereja Katolik Roma sejak 1570 hingga digantikan tata perayaan baru setelah Konsili Vatikan II pada 1960-an.
Dalam ritus tersebut, misa dilakukan dalam bahasa latin atau Romawi kuno. Imam memimpin liturgi menghadap ke timur, sementara umat mengikuti dengan doa pribadi dan tidak berperan aktif seperti dalam tata misa modern.
Penggunaan ritus ini dibatasi dan tidak bisa dilakukan di setiap paroki karena harus mendapat izin khusus dari otoritas Vatikan. Pengelolaan gereja dan liturginya dipercayakan kepada komunitas religius Persaudaraan Imam Santo Petrus atau FSSP.
Source: www.idntimes.com






