Sebuah uji terbang di Hunan, China, memberi sorotan baru pada kemungkinan pesawat bertenaga hidrogen sebagai jawaban atas tekanan krisis minyak global. Aero Engine Corporation of China berhasil menerbangkan mesin turbo-shaft hidrogen 900 kilowatt yang dipasang pada pesawat angkut tanpa awak SA750U, dan langkah ini menambah bobot ambisi China di sektor penerbangan berkelanjutan.
Penerbangan itu berlangsung sekitar 16 menit pada 4 April. Selama uji tersebut, pesawat naik hingga 1.000 kaki dan mencapai kecepatan 137 mph.
Mesin AEP100 yang digunakan mampu menghasilkan sekitar 1.200 horsepower. Sistemnya memasukkan hidrogen cair atau LH2 langsung ke ruang bakar, sebuah pendekatan yang tetap mengikuti desain mesin turbin konvensional tetapi memakai bahan bakar berbeda.
Di tengah harga bahan bakar yang terus bergejolak, demonstrasi ini menjadi relevan bagi industri penerbangan yang sangat bergantung pada jet fuel. Krisis minyak yang dipicu perang di Iran telah mendorong harga bahan bakar naik secara global dan memberi dampak ekonomi yang besar di banyak negara.
Biaya itu terasa langsung di industri penerbangan. Harga tiket pesawat komersial disebut naik hingga 22% pada 2026 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, sementara bahan bakar jet menyumbang sekitar 20% hingga 40% dari biaya operasional maskapai di seluruh dunia.
Karena itu, hidrogen dipandang sebagai salah satu jalur paling menjanjikan menuju alternatif energi bersih. Jika mesin berbahan bakar hidrogen bisa dipakai menggantikan mesin berbahan bakar kerosin, volatilitas biaya yang terjadi saat ini berpotensi berkurang jauh.
Dua jalur pengembangan hidrogen
Industri kedirgantaraan kini bergerak di dua jalur utama untuk propulsi berbasis hidrogen. Jalur pertama adalah mesin turbin bertenaga LH2 seperti yang diuji di China, sementara jalur kedua adalah mesin listrik yang ditenagai fuel cell hidrogen.
Airbus pada 2025 menyatakan fokusnya ada pada fuel cell hidrogen. Di sisi lain, inisiatif seperti di China memilih memodifikasi desain mesin turbin yang sudah ada agar bisa memakai hidrogen.
Namun, kedua pendekatan itu menghadapi hambatan yang sama, yaitu penyimpanan hidrogen di dalam pesawat. LH2 kriogenik harus disimpan pada suhu minus 423 derajat Fahrenheit, sehingga tangki penyimpanan cenderung besar dan berat.
Bobot dan ukuran itu menjadi masalah besar bagi pesawat yang membutuhkan sistem penyimpanan bahan bakar ringan. Karena itu, industri perlu mengembangkan tangki dewar komposit canggih untuk mengurangi kelemahan penyimpanan LH2, dan NASA juga sedang mengembangkan teknologi itu untuk pesawat serta roket.
Infrastruktur masih jadi penentu
Kendala hidrogen tidak berhenti di pesawat. Agar layak untuk pesawat komersial, teknologi ini membutuhkan adopsi global dan dukungan infrastruktur yang luas di bandara-bandara besar.
Bandara akan perlu membangun tangki penyimpanan hidrogen dan membentuk rantai pasok komersial baru untuk memperoleh hidrogen dalam skala besar. Pemerintah juga harus menurunkan biaya produksi hidrogen dan mendorong metode yang lebih berkelanjutan untuk membuatnya.
Di saat yang sama, sektor penerbangan belum sepenuhnya menunggu hidrogen. Bahan bakar penerbangan berkelanjutan atau SAF sudah digunakan terbatas oleh maskapai di berbagai negara, dengan bahan baku seperti minyak goreng bekas yang bersumber berkelanjutan atau limbah biomassa.
Regulasi mengizinkan SAF dicampur dengan jet fuel hingga 50% dan bahan bakar itu bisa dipakai di pesawat yang sudah ada tanpa modifikasi. Karena itulah, transisi menuju hidrogen kemungkinan besar akan ditempuh dengan pendekatan campuran dalam jangka pendek, sambil menunggu infrastruktur dan teknologi hidrogen matang.







