Zanzibar bukan sekadar pulau tropis di lepas pantai Afrika Timur. Wilayah yang menjadi bagian dari Tanzania ini menyimpan sejarah, budaya, dan satwa langka yang membuat namanya menonjol di antara destinasi lain di Samudra Hindia.
Daya tarik Zanzibar tidak hanya datang dari pantai berair biru toska dan pasir putih. Pulau ini juga meninggalkan jejak penting dalam sejarah dunia, sekaligus menjadi rumah bagi warisan budaya yang masih terlihat kuat hingga sekarang.
Salah satu kisah paling dikenal dari Zanzibar adalah Perang Anglo-Zanzibar pada 1896. Konflik ini pecah setelah Sultan Hamad bin Thuwaini meninggal mendadak, lalu Khalid bin Barghash mengangkat diri sebagai sultan baru dan ditolak Inggris.
Ketegangan itu berujung pada serangan Inggris pada 27 Agustus 1896 setelah ultimatum mereka berakhir. Pertempuran hanya berlangsung sekitar 38 menit, sehingga dikenal sebagai perang tersingkat dalam sejarah, meski sekitar 500 orang dilaporkan tewas.
Setelah perang usai, Inggris menunjuk sultan baru yang lebih mendukung kepentingan mereka. Sejak itu, pengaruh Inggris di Zanzibar makin kuat dan meninggalkan jejak panjang dalam perjalanan politik wilayah tersebut.
Jejak Freddie Mercury
Zanzibar juga dikenal sebagai tempat lahir Freddie Mercury, vokalis legendaris Queen. Ia lahir pada 5 September 1946 dengan nama Farrokh Bulsara.
Freddie berasal dari keluarga Parsi keturunan India. Ayahnya, Bomi Bulsara, bekerja sebagai pegawai di pemerintahan kolonial Inggris, sementara keluarganya tinggal di Zanzibar pada masa itu.
Ia menghabiskan masa kecil di Zanzibar sebelum melanjutkan pendidikan di India saat berusia delapan tahun. Lingkungan yang dipenuhi beragam budaya dan tradisi diyakini ikut membentuk pandangannya sejak kecil.
Stone Town dan warisan budaya
Salah satu kawasan paling terkenal di Zanzibar adalah Stone Town. Kota tua ini pernah menjadi pusat perdagangan penting di pesisir Afrika Timur selama berabad-abad.
Ciri khas Stone Town masih terlihat dari jalan-jalan sempit, rumah-rumah tua bertingkat, dan pintu kayu berukir. Banyak bangunan dan tata kota lamanya tetap dipertahankan, sehingga suasana masa lalu masih terasa hingga sekarang.
Stone Town juga mencerminkan pertemuan banyak budaya yang berkembang selama ratusan tahun. Pengaruh Afrika, Arab, India, dan Eropa tampak jelas pada arsitektur, tata kota, dan kehidupan masyarakatnya.
Karena nilai sejarah dan budayanya, UNESCO menetapkan Stone Town sebagai Situs Warisan Dunia pada tahun 2000. Kawasan ini dinilai sebagai contoh penting perpaduan budaya di kawasan Samudra Hindia.
Satwa langka yang hanya ada di Unguja
Zanzibar juga menjadi rumah bagi monyet colobus merah Zanzibar atau Piliocolobus kirkii. Satwa langka ini hanya ditemukan di Pulau Unguja, pulau utama di Kepulauan Zanzibar.
Monyet ini memiliki bulu merah kecokelatan, wajah hitam, dan rambut putih di bagian kepala. Sebagian besar hidupnya dihabiskan di pepohonan untuk mencari makan dan berpindah dari satu pohon ke pohon lainnya.
Jumlahnya terus berkurang akibat hilangnya habitat alami dan aktivitas manusia. Karena itu, spesies ini masuk kategori terancam punah dan sejumlah kawasan hutan di Zanzibar telah ditetapkan sebagai area konservasi.
Daya tarik laut yang jadi magnet wisata
Selain sejarah dan satwa, Zanzibar terkenal dengan lautnya yang jernih dan berwarna biru toska. Pemandangan itu menjadi salah satu alasan pulau ini begitu dikenal luas.
Beberapa pantai di Zanzibar memiliki ombak tenang dan air yang nyaman untuk berenang. Di lokasi lain, suasananya lebih hening dengan deretan pohon kelapa dan panorama laut yang terbuka.
Perairan di sekitar pulau juga kaya terumbu karang dan menjadi habitat berbagai ikan serta biota laut. Karena kejernihan airnya, Zanzibar populer untuk snorkeling dan menyelam, bahkan di beberapa lokasi pengunjung bisa melihat penyu laut atau lumba-lumba.
Source: www.idntimes.com






