Bontebok Hampir Punah, Kini Bangkit Lagi dari Sisa 17 Ekor hingga Ribuan Ekor

Bontebok menjadi salah satu kisah pemulihan satwa liar paling mencolok di Afrika Selatan. Antelop ini dulu nyaris lenyap dari alam, tetapi kini populasinya pulih hingga berada di kisaran 2.500 sampai 3.000 ekor dan berstatus resiko rendah menurut IUCN.

Perubahan itu menarik perhatian karena bontebok bukan hanya bertahan, tetapi juga mampu berkembang biak kembali setelah sempat tersisa sangat sedikit. Populasinya kini tersebar di Taman Nasional Bontebok, beberapa cagar alam, dan lahan pertanian swasta di sekitarnya, dengan jumlah terbesar berada di Cagar Alam De Hoop.

Ciri khas yang mudah dikenali

Bontebok atau damaliscus pygarus hidup di Afrika Selatan, Lesotho, dan Namibia. Di alam liar, hewan ini mendiami padang rumput, sabana terbuka, dan vegetasi semak tinggi yang disebut fynbos.

Secara fisik, bontebok memiliki bulu punggung gelap mengilap, sementara bagian belakang dan pantatnya tampak tinggi serta berwarna putih. Mereka juga punya tanduk besar melengkung seperti kijang dan ekor pendek dengan jumbai hitam.

Ukuran tubuhnya tergolong sedang. Panjang kepala dan tubuh bontebok berkisar 140 hingga 160 cm, dengan ekor 30 hingga 45 cm, sedangkan bobot jantan berkisar 65-80 kg dan betina 55-70 kg.

Warna putih pada wajah, perut, kaki, dan ekor membuat bontebok tampak kontras. Tanda putih di wajahnya disebut menyerupai topeng atau helm abad pertengahan, dan pola itu membantu mengintimidasi predator seperti jakal punggung hitam dan anjing liar Afrika.

Pola makan dan perilaku sosial

Bontebok lebih suka rumput pendek sebagai makanan utama. Hewan ini aktif merumput pada pagi dan sore hari karena termasuk pemakan rumput diurnal.

Meski begitu, bontebok juga diberi potongan ranting pohon di Kebun Binatang San Diego. Kebiasaan makan itu menunjukkan bahwa hewan ini bisa memanfaatkan pakan tambahan di lingkungan konservasi atau penangkaran.

Bontebok hidup berkelompok dan kerap berdiri dengan kepala menunduk menghadap matahari dalam ritual yang unik. Kawanan mereka terdiri dari jantan, betina, atau campuran, dan jumlahnya tidak melebihi 40 ekor.

Kelompok kecil itu juga rutin bermigrasi pada musim gugur dan dingin. Di sisi lain, jantan bersifat teritorial dan tidak segan bertarung jika wilayahnya terganggu.

Pertarungan antarjantan dilakukan dengan saling beradu tanduk. Perilaku ini berfungsi menunjukkan dominasi sekaligus menarik betina.

Reproduksi dan perawatan anak

Dalam masa kawin, jantan memikat betina dengan menundukkan kepala dan mengangkat ekor ke atas punggung. Setelah itu, pasangan bergerak beriringan dan berputar dalam lingkaran kecil.

Perkawinan bontebok berlangsung antara Januari dan Maret. Masa kehamilan betina sekitar 7-8 bulan, dan anak yang lahir bisa berdiri serta bergerak hanya dalam hitungan menit.

Kemampuan anak bontebok untuk segera mengikuti induknya menjadi penting bagi kelangsungan hidup di alam liar. Di habitat terbuka, respons cepat setelah lahir dapat membantu mereka bertahan dari ancaman predator.

Dari hampir punah ke pulih kembali

Kisah bontebok tak lepas dari tekanan kolonialisasi pada abad 17, ketika pemukim Eropa tiba di Tanjung Harapan. Menurut The Nature Conservancy, dampaknya buruk bagi warga setempat maupun satwa liar, termasuk bontebok.

Setelah hidup berdampingan dengan pemukim Belanda di Afrika Selatan, bontebok dianggap pesaing lahan pertanian. Banyak individu ditembak dalam jumlah besar, dan pada 1932 populasi yang tersisa hanya 17 ekor.

Upaya pelestarian lalu dilakukan dengan memindahkan 17 ekor bontebok ke Taman Nasional Bontebok. Setelah jumlahnya bertambah menjadi 61 ekor, satwa ini dipindahkan lagi ke wilayah dengan vegetasi alami fynbos, dan di tempat itu mereka berkembang biak dengan sangat baik.

Pada 1969, jumlah bontebok di dunia sudah mencapai 800 ekor. Kini, populasinya naik ke kisaran 2.500 hingga 3.000 ekor, dan konservasi di Afrika Selatan disebut berhasil memulihkan spesies ini dari ambang kepunahan.

Bontebok juga dikenal tahan tanpa air selama beberapa hari. Jika air tersedia, mereka umumnya minum sekali sehari, dan usia hidupnya dapat mencapai 17 tahun.

Source: www.idntimes.com

Terkait